Showing posts with label MODEL PEMBELAJARAN. Show all posts
Showing posts with label MODEL PEMBELAJARAN. Show all posts

Friday, 25 June 2021

Lebih Cerdik Klarifikasi Dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu Dalam Implementasi Kurikulum 2013 Sd/Mi

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Pembelajaran tematik terpadu yang diterapkan di SD dalam kurikulum 2013 berlandaskan pada Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 wacana Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyebutkan, bahwa “Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi, maka prinsip pembelajaran yang dipakai dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu.” Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada SD/MI dilakukan melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik-terpadu dari Kelas I hingga Kelas VI.

1.   Pendekatan pembelajaran tematik terpadu diberikan di sekolah dasar mulai dari kelas I hingga dengan kelas VI.

2.   Pendekatan yang dipergunakan untuk mengintegrasikan kompetensi dasar dari banyak sekali mata pelajaran yaitu; intra-disipliner, inter-disipliner, multi-disipliner dan trans-disipliner.

Intra Disipliner yakni Integrasi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara utuh dalam setiap mata pelajaran yang integrasikan melalui tema.

Inter Disipliner yaitu menggabungkan kompetensi dasar-kompetensi dasar beberapa mata pelajaran semoga terkait satu sama lain ibarat yang tergambar pada mata pelajaran IPA dan IPS yang diintegrasikan pada banyak sekali mata pelajaran lain yang sesuai. Hal itu tergambar pada Struktur Kurikulum SD untuk Kelas I-III tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS tetapi muatan IPA dan IPS terintegrasi ke mata pelajaran lain terutama Bahasa Indonesia.

Multi Disipliner yakni pendekatan tanpa menggabung-kan kompetensi dasar sehingga setiap mapel masih mempunyai kompetensi dasarnya sendiri. Gambaran tersebut yakni IPA dan IPS yang bangun sendiri di kelas IV-VI.

Trans Disipliner yakni pendekatan dalam penentuan tema yang mengaitkan banyak sekali kompetensi dari mata pelajaran dengan permasalahan yang ada di sekitarnya.

3.   Pembelajaran tematik terpadu disusun menurut adonan banyak sekali proses integrasi banyak sekali kompetensi.

4.   Pembelajaran tematik terpadu diperkaya dengan penempatan mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai penghela/alat/media mata pelajaran lain.

5.   Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator masing-masing Kompetensi Dasar dari masing-masing mata pelajaran.

Pembelajaran tematik terpadu menyajikan konsep-konsep dari banyak sekali mata pelajaran yang terdapat pada Kompetensi Dasar (KD) KI-3 dan juga keterampilan yang tergambar pada KD KI-4 dalam suatu proses pembelajaran. 

Implementasi KD KI-3 dan KD KI-4 diperlukan akan menyebarkan banyak sekali perilaku yang merupakan cerminan dari KI-1 dan KI-2. Melalui pemahaman konsep dan keterampilan secara utuh akan membantu penerima didik dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran tematik terpadu yakni pembelajaran tepadu yang memakai tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga sanggup menunjukkan pengalaman bermakna kepada penerima didik. Tema yakni pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).

Penggunaan tema diperlukan akan menunjukkan banyak keuntungan, di antaranya:

1.   Peserta didik gampang memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
2.   Peserta didik bisa mempelajari pengetahuan dan menyebarkan banyak sekali kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
3.   Peserta didik memahami bahan pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4.   Peserta didik sanggup dapat mempunyai kompetensi dasar lebih baik, alasannya yakni mengkaitkan mata pelajaran dengan pengalaman pribadi penerima didik;
5.   Peserta didik bisa lebih mencicipi manfaat dan makna mencar ilmu alasannya yakni bahan disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6.   Peserta didik lebih agresif mencar ilmu alasannya yakni sanggup berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk menyebarkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain;
7.   Guru sanggup menghemat waktu alasannya yakni mata pelajaran yang disajikan secara tematik sanggup dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya sanggup dipakai untuk acara remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Secara pedagogis pembelajaran tematik menurut pada eksplorasi terhadap pengetahuan dan nilai-nilai yang dibelajarkan melalui tema sehingga penerima didik mempunyai pemahaman yang utuh. Peserta didik diposisikan sebagai pengeksplorasi sehingga bisa menemukan hubungan-hubungan dan pola-pola yang ada di dunia nyata dalam konteks yang relevan. Pembelajaran tematik dimaksudkan untuk menyebarkan banyak sekali kemampuan, keterampilan dan perilaku yang diperoleh melalui proses pembelajaran tematik terpadu ke dalam konteks dunia nyata yang di bawa kedalam proses pembelajaran secara kreatif.

Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik Terpadu

Pembelajaran tematik terpadu mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.   Peserta didik mencari tahu, bukan diberi tahu.
2.   Pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu nampak. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan kompetensi melalui tema-tema yang paling bersahabat dengan kehidupan penerima didik.
3.   Terdapat tema yang menjadi pemersatu sejumlah kompetensi dasar yang berkaitan dengan banyak sekali konsep, keterampilan dan sikap.
4.   Sumber mencar ilmu tidak terbatas pada buku.
5.   Peserta didik sanggup bekerja secara berdikari maupun berkelompok sesuai dengan karakteristik acara yang dilakukan
6.   Guru harus merencanakan dan melakukan pembelajaran semoga sanggup mengakomodasi penerima didik yang mempunyai perbedaan tingkat kecerdasan, pengalaman, dan ketertarikan terhadap suatu topik.
7.   Kompetensi Dasar mata pelajaran yang tidak sanggup dipadukan sanggup diajarkan tersendiri.
8.   Memberikan pengalaman pribadi kepada penerima didik (direct experiences) dari hal-hal yang nyata menuju ke abstrak.

Wednesday, 23 June 2021

Lebih Berakal Prinsip-Prinsip, Komponen, Dan Tahapan Pengembangan Rpp Pembelajaran Tematik Kurikulum 2013 Sd/Mi

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Dalam kesempatan kali ini saya akan share mengenai prinsip-prinsip, komponen, dan tahapan pengembangan RPP pembelajaran tematik Kurikulum 2013 SD/MI, selengkapnya sebagai berikut:

Acuan yang dipakai dalam pengembangan planning pelaksanaan (RPP) pembelajaran yaitu silabus. Menyusun atau membuatkan RPP yaitu langkah perencanaan yang harus dilakukan oleh setiap guru.

RPP merupakan planning acara pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan (satu hari). RPP dikembangkan dari silabus dengan memperhatikan buku akseptor didik dan buku guru yang sudah disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

RPP disusun secara lengkap dan sistematis semoga pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi akseptor didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis akseptor didik.

Prinsip-prinsip dalam menyusun RPP :

a.   Setiap RPP harus memuat secara utuh memuat kompetensi sikap spiritual (KD dari KI-1), sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).
b.   Memperhatikan perbedaan individual akseptor didik contohnya kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuansosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan akseptor didik.
c.   Mendorong anak untuk berpartisipasi secara aktif
d.   Menggunakan prinsip berpusat pada akseptor didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, penemuan dan kemandirian.
e.   Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
f.    Memberi umpan balik dan tindak lanjut untuk keperluan penguatan, pengayaan dan remedial
g.   Menekankan adanya keterkaitan dan keterpaduan antara KD, bahan pembelajaran, acara pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber mencar ilmu dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
h.   Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
i.    Menekankan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara integratif, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

Komponen RPP terdiri atas:

a)   Identitas satuan pendidikan,
b)   Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
c)   Kelas/semester;
d)   Materi pembelajaran;
e)   Alokasi waktu yang ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban mencar ilmu dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
f)    Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
g)   Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan mekanisme yang relevan;
h)   Metode pembelajaran, yang diadaptasi dengan karakteristik akseptor didik dan KD yang akan dicapai;
i)    Media dan sumber pembelajaran yang dipakai untuk melakukan pembelajaran;
j)    Langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
k)   Penilaian hasil pembelajaran memuat soal, kunci jawaban, pedoman skoring/rubrik.

Komponen-komponen RPP secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini :
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah                      :
Mata pelajaran           :
Kelas/Semester         :
Materi Pembelajaran :
Alokasi Waktu            :

A.  Kompetensi Inti (KI)

B.  Kompetensi Dasar
1. KD pada KI-1
2. KD pada KI-2
3. KD pada KI-3
4. KD pada KI-3

C.  Indikator Pencapaian Kompetensi*)
1. Indikator KD pada KI-1
2. Indikator KD pada KI-2
3. Indikator KD pada KI-3
4. Indikator KD pada KI-4

D.  Deskripsi Materi Pembelajaran (dapat berupa rincian, uraian, atau
      penjelasan bahan pembelajaran)

E.  Kegiatan Pembelajaran
1.  Pertemuan Pertama: (...JP)
a.  Kegiatan Pendahuluan
b.  Kegiatan Inti**)
• Mengamati
• Menanya
• Mengumpulkan informasi
• Menalar
• Mengomunikasikan
c.  Kegiatan Penutup

2.  Pertemuan Kedua: (...JP)
a.  Kegiatan Pendahuluan
b.  Kegiatan Inti**)
• Mengamati
• Menanya
• Mengumpulkan informasi
• Menalar
• Mengomunikasikan
c.  Kegiatan Penutup

3.  Pertemuan seterusnya.

F.  Penilaian
1.  Teknik evaluasi
2.  Instrumen evaluasi dan pedoman penskoran
a. Pertemuan Pertama
b. Pertemuan Kedua
c. Pertemuan seterusnya

G. Media/alat, Bahan, dan Sumber Belajar
1. Media/alat
2. Bahan
3. Sumber Belajar
*) Pada setiap KD dikembangkan indikator atau penanda. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-1 dan KI-2 dirumuskan dalam bentuk sikap umum yang bermuatan nilai dan sikap yang gejalanya sanggup diamati. Indikator untuk KD yang diturunkan dari KI-3 dan KI-4 dirumuskan dalam bentuk sikap spesifik yang sanggup diamati dan terukur.

**) Pada acara inti, kelima pengalaman mencar ilmu tidak harus muncul seluruhnya dalam satu pertemuan tetapi sanggup dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, tergantung cakupan muatan pembelajaran.

Tahapan pengembangan RPP pembelajaran tematik:

a.   Memilah dan menentukan Kompetensi Dasar Mata pelajaran pada Silabus yang sanggup dipadukan dalam tema tertentu untuk satu hari.
b.   Memilah dan menentukan kegiatan-kegiatan di dalam silabus yang sesuai dengan KD
c.   Kegiatan dalam silabus yang disiapkan untuk 3 atau 4 ahad (tergantung dengan tema/subtema) perlu dipilah menjadi acara untuk satu minggu, kemudian dipilah dan dipilih lagi untuk acara satu hari.
d.   Dalam memilah dan menentukan acara dari silabus, guru perlu memperhatikan keterkaitan antara banyak sekali acara dari beberapa mata pelajaran yang akan diintegrasikan sehingga pembelajaran berlangsung sesuai dengan alur.
e.   Menentukan Indikator pencapaian kompetensi menurut acara di silabus yang sudah dipilih.
f.    Di dalam menyusun RPP, selain memakai silabus, guru bisa memakai buku teks pelajaran dan buku guru serta hasil analisis KD dengan tema yang telah dilakukan.
g.   Di dalam menyusun RPP, guru harus memperhatikan alokasi waktu untuk setiap acara dan kedalaman kompetensi yang diharapkan.
h.   Apabila kompetensi yang akan diberikan dalam suatu tema memerlukan kemampuan prasyarat yang belum pernah diajarkan, guru perlu mengajarkan kompetensi prasyarat terlebih dahulu.

Tuesday, 22 June 2021

Lebih Berakal Tahapan Dan Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu Kurikulum 2013 - Acara Pendahuluan, Inti Dan Penutup

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu setiap hari dilakukan dengan memakai tiga tahapan yaitu kegiatan pendahuluan, inti dan penutup.

a. Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menyiapkan penerima didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; memberi motivasi mencar ilmu penerima didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi bahan asuh dalam kehidupan sehari-hari, dengan menunjukkan teladan dan perbandingan lokal, nasional, dan internasional; mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan bahan yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan memberikan cakupan bahan dan klarifikasi uraian kegiatan sesuai silabus.

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk membuat suasana awal pembelajaran untuk mendorong penerima didik menfokuskan dirinya biar bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sifat dari kegiatan pembukaan yakni kegiatan untuk pemanasan. 

Pada tahap ini sanggup dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak ihwal tema yang akan disajikan. Beberapa teladan kegiatan yang sanggup dilakukan yakni bercerita, kegiatan fisik/jasmani sesuai dengan tema, bernyanyi, bernyanyi sambil menari mengikuti irama musik, dan menceritakan pengalaman.

b. Kegiatan inti

Kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam rangka pengembangan Sikap, maka seluruh kegiatan pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong penerima didik untuk melaksanakan kegiatan melalui proses afeksi yang dimulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, sampai mengamalkan.

Untuk kompetensi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, sampai mencipta. Untuk kompetensi keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi bahan (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong penerima didik untuk melaksanakan proses pengamatan sampai penciptaan.

Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melaksanakan pembelajaran yang menerapkan modus mencar ilmu berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan duduk kasus (project based learning).

Seluruh kegiatan pembelajaran dalam kegiatan inti mencakup kegiatan mengamati, menanya, pengumpulan data, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

c. Kegiatan Penutup

Sifat dari kegiatan epilog yakni untuk menenangkan dan melaksanakan refleksi dalam rangka evaluasi. Evaluasi yang dilakukan mengkhususkan pada seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh dan yang selanjutnya secara bersama menemukan manfaat pribadi maupun tidak pribadi dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung; Kegiatan epilog juga dimaksudkan untuk menunjukkan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; melaksanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk dukungan tugas, baik kiprah individual maupun kelompok; dan menginformasikan planning kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

Beberapa teladan kegiatan akhir/penutup yang sanggup dilakukan yakni menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik/bernyanyi.

Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu

Pelaksanaan pembelajaran Tematik terpadu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Berpusat pada penerima didik

Pembelajaran tematik berpusat pada penerima didik (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan mencar ilmu modern yang lebih banyak menempatkan penerima didik sebagai subjek mencar ilmu sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator.

b. Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes. Guru sanggup mengaitkan bahan dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan keadaan lingkungan di mana sekolah dan penerima didik berada.

c. Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan penerima didik

Peserta didik diberi kesempatan untuk menyebarkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

d. Menggunakan prinsip mencar ilmu yang menyenangkan

Suasana dalam pembelajaran diupayakan berlangsung secara menyenangkan. Menyenangkan bisa dibangun dengan banyak sekali kegiatan yang bisa mengakomodasi kegemaran penerima didik, misal bermain teka-teki, tebak kata, bernyanyi lagu anak-anak, menari atau kegiatan lain yang disepakati bersama dengan penerima didik. Menyenangkan tidak dimaksudkan banyak tertawa atau banyak bernyanyi. Menyenangkan lebih dimaksudkan ‘mengasyikan’.

e. Pembelajaran penerima didik aktif

Peserta didik terlibat baik fisik maupun mental dalam proses pembelajaran semenjak perencanaan sampai penilaian pembelajaran.

Sunday, 20 June 2021

Lebih Bakir Pendekatan, Strategi, Model Dan Metode Pembelajaran Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Sd/Mi

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Pembelajaran tematik terpadu perlu memperhatikan pendekatan, strategi, model dan metode pembelajaran. Pendekatan sanggup diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. 

Pendekatan yang berpusat pada pendidik menurunkan seni administrasi pembelajaran pribadi (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori.

Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada penerima didik menurunkan seni administrasi pembelajaran discovery dan inkuiri serta seni administrasi pembelajaran induktif (Sanjaya, 2008:127). 

Strategi ialah suatu seni memakai kecakapan dan sumber daya untuk mencapai sasarannya melalui kekerabatan yang efektif dengan lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan.

Model pembelajaran ialah rencana (pola) yang sanggup dipakai untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pengajaran dan membimbing pengajaran. Sedangkan Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan sanggup dijabarkan ke dalam banyak sekali metode. Metode ialah mekanisme pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.

Di dalam Kurikulum 2013 Pendekatan pembelajaran memakai pendekatan tematik terpadu dan pendekatan saintifik. Strategi pada pembelajaran tematik terpadu ialah pembelajaran penerima didik aktif. Model pembelajaran tematik terpadu memakai model jaring laba-laba. Metode berupa metode proyek yang pembelajarannya dilakukan di dalam atau di luar ruang kelas yang melibatkan penerima didik untuk melaksanakan kegiatan yang mengintegrasikan banyak sekali kompetensi dan mata pelajaran.

Kegiatan tersebut harus melibatkan banyak sekali keterampilan mirip keterampilan fisik, intelektual dan juga mata pelajaran dan kompetensinya yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Implementasi pembelajaran terpadu dilaksanakan dalam tahapan pembukaan, inti dan penutup. Pada kegiatan inti seluruh acara pembelajaran meliputi kegiatan mengamati, menanya, pengumpulan data, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

Dalam kegiatan mengamati (observing) penerima didik menangkap fenomena dan/atau isu perihal benda, manusia, alam, kegiatan, dan gagasan melalui proses pengindraan seketika dan/atau pengindraan bertujuan. Misalnya: melihat, mendengar, menyimak, meraba, membaca, memanipulasi.

Kegiatan menanya mendorong Peserta didik mengajukan pertanyaan dari yang bersifat faktual hingga ke yang bersifat hipotesis, diawali dengan bimbingan guru hingga bersifat berdikari (menjadi suatu kebasaan) untuk menggali isu dan/atau makna sesuatu melalui proses bertanya dialektis (dialectical questioning) dengan mengajukan sejumlah pertanyaan pelacak (probing question), contohnya mengajukan pertanyaan: Apa, Dimana, Siapa, Kapan, Mengapa, Bagaimana, Berapa, dan seterusnya.

Kegiatan mengasosiasi/menalar menekankan acara berguru bagi Peserta didik untuk melaksanakan proses pemahaman (comprehension) untuk memperoleh/ mendapat makna/ pengertian perihal fakta, gejala, kegiatan, gagasan, nilai dll (acquiring and integrating knowledge) melalui kegiatan: membedakan, membandingkan, menganalisis data dalam bentuk menciptakan kategori, memilih kekerabatan data/ kategori,menyimpulkan dari hasil analisis data dll dimulai dari unstructured – unistructure – multi structure – complicated structure.

Kegiatan mengomunikasikan menekankan acara berguru Peserta didik untuk menyajikan gagasan, model/produk kreatif dan menawarkan penjelasan/mendemonstrasikan hasil pemecahan masalah, pengembangan, gagasan baru, kesimpulan dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya di kelas/di luar kelas.

Dalam melaksanakan kegiatan dengan pendekatan saintifik tersebut, pendidik perlu menyiapkan banyak sekali kegiatan yang sesuai dengan karakteristik anak usia SD. Gambaran perkembangan anak usia SD untuk aspek fisik khususnya pada dimensi tinggi dan berat tubuh pada umumnya berdasarkan F.A.Hadis, pertumbuhan fisik anak usia SD cenderung lebih lambat dan konsisten bila dibandingkan dengan masa usia dini. Rata-rata anak usia SD mengalami penambahan berat tubuh sekitar 2,5 - 3,5 kg dan penambahan tinggi tubuh 5 – 7 cm per tahun.

Sedangkan untuk perkembangan kemampuan motorik pada umumnya:

1. Ketangkasan anak meningkat,
2. Dapat bermain sepeda,
3. Sudah mengetahui kanan dan kiri,
4. Mulai membaca dengan lancar
5. Peningkatan minat pada bidang spiritual.
6. Kecepatan dan kehalusan acara motorik meningkat
7. Mampu memakai peralatan rumah tangga

Perkembangan kognitif anak usia awal antara lain:

1. Senang menghasilkan sesuatu dan mengoreksi diri sendiri
2. Mulai mengenal dunia yang lebih luas
3. Sedikit berimajinasi,
4. Rasa ingin tahu meningkat
5. Mampu menyesuaikan diri dengan beberapa kondisi yang dihadapi
6. Bermasalah dengan kondisi abstrak, angka-angka yang banyak, periode waktu dan ruang

Karakteristik yang dimiliki belum dewasa usia SD pada umumnya ialah :

1. Senang bergerak

Berbeda dengan orang berilmu balig cukup akal yang betah duduk berjam-jam, belum dewasa usia SD lebih senang bergerak. Anak-anak usia ini sanggup duduk dengan hening maksimal sekitar 30 menit.

2. Senang bermain

Dunia anak memang dunia bermain yang penuh kegembiraan, demikian juga dengan belum dewasa usia sekolah dasar, mereka masih sangat senang bermain. Apalagi belum dewasa SD kelas rendah.

3. Senang melaksanakan sesuatu secara langsung

Anak-anak usia SD akan lebih gampang memahami pelajaran yang diberikan guru jikalau ia sanggup mempraktikkan sendiri secara pribadi pelajaran tersebut.

4. Senang bekerja dalam kelompok

Pada usia SD, belum dewasa mulai intens bersosialisi. Pergaulan dengan kelompok sebaya, akan menciptakan anak usia SD bisa berguru banyak hal, contohnya setia kawan, bekerja sama, dan bersaing secara sehat. Berdasarkan karakteristik anak kelas awal tersebut, maka pendidik perlu menyiapkan banyak sekali aktivitas/ kegiatan yang cocok dan sesuai.

Berbagai kegiatan yang sanggup dilakukan sesuai dengan tahapan perkembangan anak kelas awal (kelas I-III) adalah:

a.   Anak mengenali sesuatu berdasarkan apa yang didengarnya alasannya ialah itu guru sanggup membacakan teks atau cerita.
b.   Anak usia 7 tahun ialah pendengar yang baik, sehingga guru memberi kesempatan kepada anak untuk mendengarkan.
c.   Anak usia 8 tahun “suka bekerjasama”, guru sanggup menawarkan kiprah untuk melaksanakan kegiatan berkelompok.
d.   Anak usia 9 tahun memiliki ciri “sedikit berimajinasi” oleh alasannya ialah itu dalam kegiatan mengamati, guru perlu mendorong anak untuk bisa berimajinasi.
e.   Guru memberi kesempatan dan menyiapkan kegiatan-kegiatan yang sanggup dilakukan anak di luar ruang bersama teman dan sendiri di dalam ruang.
f.    Guru menyiapkan kegiatan yang mendorong anak untuk bergerak secara terarah untuk mengasah keterampilannya.
g.   Anak perlu diberi kesempatan mengasah keterampilan fisiknya sehingga sanggup menyebarkan kemampuan motorik kasarnya contohnya melalui banyak sekali kegiatan berjalan, berlari, melompat, melempar dan untuk motorik halusnya dengan memberi kesempatan anak untuk menulis, menggambar, menggunting.
h.   Guru memberi kesempatan anak untuk melaksanakan kegiatan sendiri secara aktif tanpa diberi contoh.
i.    Untuk anak usia 8 tahun guru sanggup menyiapkan banyak sekali kegiatan yang mendorong anak untuk berbicara secara aktif alasannya ialah mereka suka melebih-lebihkan dalam bicara.
j.    Memberi kesempatan kepada anak untuk menjadi pembicara contohnya memberikan hasil kegiatannya, memberi komentar terhadap sesuatu dan sebagainya.
k.   Memberi kesempatan anak untuk melaksanakan diskusi atau kegiatan tanya jawab berpasangan alasannya ialah pada umumnya mereka juga suka berdialog atau melaksanakan percakapan berpasangan.
l.    Guru menyiapkan kegiatan yang mendorong anak untuk berkata-kata yang sifatnya deskriptif contohnya menceritakan pengalaman yang dialaminya.
m.  Guru perlu menyiapkan kegiatan yang mendorong anak unuk berbicara secara aktif bahkan dikala bicara anak usia ini sanggup melebih-lebihkan dalam bicaranya dan perkembangan kosakatanya sangat cepat.
n.   Mendorong anak untuk melaporkan hasil kerjanya secara verbal alasannya ialah pada umumnya mereka ialah pembicara yang baik dam memiliki perkembangan kosakata yang cepat.
o.   Untuk anak kelas awal guru sanggup mendorong anak mengkomunikasikannya dalam banyak sekali bentuk gambar lengkap (misal gambar insan sudah sanggup lengkap), mewarnai gambar dengan warna natural/alami mirip warna aslinya.
p.   Guru perlu sering memperingatkan anak usia awal untuk lebih teliti dalam mengerjakan kiprah alasannya ialah pada umumnya mereka bergerak cepat dan bekerja dengan tergesa-gesa, alasannya ialah mereka penuh dengan energi.
q.   Guru perlu menyiapkan banyak sekali kegiatan yang dilakukan tidak hanya di dalam ruang tetapi juga di luar ruang alasannya ialah anak usia ini perlu pelepasan energi secara fisik (kegiatan di luar ruangan).
r.    Guru perlu mengatur kegiatan yang belum memerlukan konsentrasi yang usang alasannya ialah anak usia ini konsentrasinya masih terbatas.
s.   Guru perlu menyiapkan kegiatan yang menyenangkan alasannya ialah pada usia ini perkembangan sosialnya masih sangat baik dan penuh dengan humor.
t.    Guru perlu menyiapkan kegiatan yang memungkinkan anak untuk berhubungan khususnya dengan teman yang sejenis.
u.   Batasan atau hukum perlu ditata sedemikian rupa alasannya ialah anak masih bermasalah dengan hukum dan batasan-batasan.
v.   Guru perlu menyiapkan banyak sekali kegiatan yang menghasilkan sesuatu alasannya ialah pada usia ini mereka senang menghasilkan karya.
w.  Guru juga menyiapkan kegiatan-kegiatan yang berbentuk operasional konkret alasannya ialah pada masa ini mereka masih bermasalah dengan kondisi abstrak.
x.   Anak usia ini bukanlah pendengar yang baik alasannya ialah pada dikala mendengarkan ia akan dipenuhi pula dengan gagasan sehingga terkadang tidak ingat apa yang telah dikatakannya.
y.   Mendorong anak mengungkapkan secara deskriptif, contohnya menceritakan pengalaman yang dialaminya.
z.   Menyiapkan banyak sekali kegiatan yang sifatnya eksplorasi contohnya mencari fakta dalam kamus, menilik lingkungan, untuk sanggup mengenal dunia yang lebih luas bukan hanya yang bersahabat dengan dirinya.

Lebih Berilmu Pengelolaan/Penataan Kelas Untuk Keberhasilan Dalam Pembelajaran Tematik Terpadu Kurikulum 2013

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Keberhasilan pembelajaran tematik terpadu tergantung pula pada lingkungan kelas yang diciptakan yang sanggup mendorong penerima didik untuk berguru dan menjadi daerah berguru yang nyaman, aman, dan menyenangkan. 

Penataan lingkungan kelas sanggup berupa pengaturan penerima didik dan ruang kelas. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan meja-kursi penerima didik, penataan sumber dan alat bantu belajar, dan penataan pajangan hasil karya penerima didik. 

Pengorganisasian atau pengaturan penerima didik sanggup dilakukan dalam bentuk klasikal, kelompok dan individual.

Penataan lingkungan kelas perlu memperhatikan 4 hal berikut:

1)   Mobilitas, memudahkan penerima didik untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain,
2)   Aksesibilitas, memudahkan penerima didik mengakses sumber dan alat bantu belajar,
3)   Interaksi, memudahkan penerima didik untuk berinteraksi dengan sesama teman atau pendidiknya, dan
4)   Variasi kegiatan, memudahkan penerima didik melaksanakan aneka macam acara yang beragam, misal berdiskusi, melaksanakan percobaan, dan presentasi.

Ruang kelas juga sanggup dilengkapi dengan Pusat berguru (learning centre). Pusat berguru ini sanggup ditempatkan di pojok kelas. Pusat berguru ini sanggup berisi beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan dan sanggup diubah dari waktu ke waktu. Fungsi Pusat Belajar sanggup menjadi daerah bagi anak yang sudah menuntaskan acara sehingga tidak mengganggu teman lainnya. Contoh sentra berguru yang sanggup disesiakan contohnya pojok dengan rak yang diisi beberapa buku.

Pusat berguru ini suatu dikala sanggup diubah menjadi pojok matematika, yang sanggup dipakai oleh penerima didik untuk melaksanakan aneka macam acara atau memakai sebagai media yang bekerjasama dengan matematika. Kegiatan di daerah ini penerima didik sanggup mengerjakan kiprah atau bereksperimen dengan matematika. Sumber atau media berguru sanggup diletakkan pada rak, meja, atau kotak-kotak yang diberi label sehingga gampang ditemukan dikala dibutuhkan.

Karya anak juga sanggup dipajangkan. Pajangan diganti secara rutin sesuai dengan tema yang sedang digunakan. Contoh pada waktu pelaksanaan tema “Tumbuhan”, kelas sanggup dirancang dengan nuansa taman bunga dengan menghiasi aneka macam macam bunga-bunga yang digantung di jendela atau di langit-langit kelas. pajangan disusun dengan memperhatikan estetika dan berada dalam jangkauan pandang/sentuh penerima didik sehingga sanggup dipakai sebagai sumber berguru oleh penerima didik.