Showing posts sorted by relevance for query faktor-penting-yang-mempengaruhi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query faktor-penting-yang-mempengaruhi. Sort by date Show all posts

Monday, 30 September 2019

Jadi Bakir Faktor Penting Yang Mempengaruhi Psikologi Sosial Anak


Faktor Penting Yang Mempengaruhi Psikologi Sosial Anak. Sebagaimana telah dibahas pada artikel sebelumnya wacana Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial, bahwa ada dua cara mengetahui perkembangan bermain anak dengan teman-temannya, agar lebih gampang memecahkan problem psikologi sosial anak.

Sedangkan salah satu faktor yang menghipnotis perkembangan psikologi anak ialah mengetahui bagaimana cara mereka bermain.

Beberapa faktor yang sanggup menghipnotis hal tersebut. yaitu:


1. Cara orang bau tanah mendidik dan membina anak
Orang bau tanah yang mendidik anak dengan cara sedikit demi sedikit dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya belum dewasa mereka mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan gampang dalam menyebarkan korelasi sosialnya.

Lain halnya dengan belum dewasa yang tidak mendapat kasih sayang secara penuh dan mereka dididik oleh orang tuanya dengan cara kasar serta mendapat insiden yang menciptakan anak tersebut trauma, maka kita sanggup dengan terang melihat perbedaan yang mencolok, biasanya anak tersebut sulit dikendalikan dan mempunyai masalah, mereka tidak akan gampang membina korelasi sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.

2. Urutan kelahiran
Urutan kelahiran, menghipnotis juga dalam status sosial anak, alasannya biasanya anak yang paling muda lebih terkenal dan terbiasa dengan negoisasi dari pada saudara-saudaranya.

3. Kecakapan dan keterampilan mengambil peran
Biasanya belum dewasa terkenal mempunyai kecakapan dan keterampilan dalam mengambil apa pun posisi tugas dan posisi tugas tersebut sanggup menjelma lebih baik. Anak-anak terkenal biasanya mempunyai intellegensi/kecerdasan yang baik. Dengan mempunyai ciri-ciri tersebut, belum dewasa terkenal lebih gampang menempatkan dirinya atau mengikuti keadaan dilingkungan yang asing.

4. Nama
Ternyata di lingkungan anak-anak, nama sanggup membawa pengaruh. Nama yang sanggup diasosiasikan dengan sesuatu hal, sanggup membawa dampak negatif terhadap perkembangan sosial psikologi anak. alasannya belum dewasa masih sangat kongkrit dalam menyatakan sesuatu hal, kesannya anak tersebut merasa rendah diri dan tersudut apabila belum dewasa yang lain mencemoohkan alasannya namanya sanggup diasosiasikan dengan sesuatu hal.

5. Daya tarik
Anak-anak yang mempunyai daya tarik tersendiri, biasanya selalu terkenal daripada anak yang kurang mempunyai daya tarik. Anak-anak yang berumur 3 tahun, sudah sanggup membedakan mana belum dewasa yang menarik dan mana belum dewasa yang kurang menarik, reaksi ketertarikkannya hampir sama dengan orang dewasa.

Pada anak usia 3 tahun, anak yang menarik dan anak tidak menarik tidak begitu kelihatan mencolok, tetapi pada anak usia 5 tahun, hal tersebut sanggup terlihat sangat jelas, anak usia 5 tahun yang tidak menarik biasanya lebih kasar dan sering tidak jujur dalam bermain, sedangkan pada anak usia 5 tahun yang mempunyai daya tarik, biasanya mereka sering diberi masukkan-masukkan yang positif dari sekitarnya sehingga tumbuh rasa percaya diri yang lebih tinggi, sabaliknya pada anak usia 5 tahun yang tidak menarik rasa percaya dirinya berkurang alasannya terpengaruh masukkan-masukkan yang negatif dari lingkungannya.

6. Perilaku
Tidak semua anak yang menarik menjadi terkenal alasannya masih banyak faktor lainnya yang sanggup menghipnotis katagori populer. Perilaku yang menciptakan anak populer, antara lain ; ramah tamah, mempunyai rasa simpati, tidak agresif, sanggup berkerja sama, suka menolong, suka memperlihatkan masukkan atau komentar yang positif, dan lain-lain.

Secara umum faktor-faktor di atas terdapat pada belum dewasa yang populer, dan factor-faktor tersebut sanggup memilih status sosial anak, tetapi tidak selamanya anak terkenal pada nantinya sanggup memilih status sosial, sebagian belum dewasa yang tumbuh dari lingkungan yang selalu terjaga pendidikannya, intellegensinya, cakap dan terampil, mempunyai nama yang baik serta menarik tetapi tidak popular, sebagian lagi ada juga belum dewasa yang tumbuh dari lingkungan yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua, mempunyai nama yang kurang bagus, dan tidak mempunyai daya tarik, tetapi sanggup juga menjadi populer.

Lalu bagaimana dengan belum dewasa yang kurang dihargai ibarat ; Anak-anak yang terisolir dan Anak-anak yang terasingkan.

Kelompok belum dewasa tersebut mempunyai nilai yang rendah dari belum dewasa seumurnya, akan tetapi belum dewasa yang terisolir lebih gampang diakui dari pada belum dewasa yang terasingkan, namun usang kelamaan belum dewasa yang terasingkan akan diakui juga. Anak-anak yang terasingkan mempunyai resiko pembiasaan lebih besar dalam usia menjelang dewasa, mereka menjadi terasingkan alasannya ada penyimpangan dari salah satu factor status sosial anak. Jika belum dewasa ini lemah dalam menghadapi ejekkan-ejekkan atau godaan dari belum dewasa lainnya, maka hal tersebut sanggup membentuk sikap dan proses belajarnya akan terganggu.

Beberapa problem pada belum dewasa yang terasingkan, antara lain ;

  • Secara terbuka mereka diasingkan
  • Sering terlibat dalam hal-hal kejadian interaksi yang negatif
  • Mempunyai problem perilaku
  • Sering memperlihatkan sikap agresif
  • Mempunyai status negatif yang stabil
  • Sering bermasalah di sekolah

Secara umum belum dewasa yang terasingkan, bereaksi dengan dua cara :

1. Menarik diri
Biasanya mereka menarik diri dari kontak dengan yang lain, mereka bahwasanya ingin main dengan belum dewasa lainnya, tetapi mereka diacuhkan dan diabaikan keberadaannya, malahan mereka mengejeknya ibarat dengan sebutan “professor” alasannya anak tersebut menggunakan kacamata, maka dari itu mereka selalu menhindar dari belum dewasa lainnya, di rumah biasanya mereka juga pendiam dan selama mungkin tinggal di kamarnya dengan membaca komik atau mendengarkan musik, kepada orang tuanya mereka beralasan tidak suka main di luar.

2. Perilaku anti sosial
Biasanya mereka sulit untuk diatur, padahal belum dewasa lainnya tidak suka dengan perilakunya, misalnya: Pada dikala belum dewasa yang lain bermain bola, kemudian tiba anak yang terasingkan, tetapi tidak untuk ikut bermain dengan belum dewasa lainnya, anak tersebut tiba hanya sekedar untuk mengganggu saja dengan mengambil bolanya, dan apabila ikut bermain bola pun anak itu akan tampil dengan kasar sehingga menciptakan belum dewasa lainnya berhenti bermain, anak yang terasing itu akan marah-marah sampai akhirnya belum dewasa yang lain terpaksa menyerah dan bermain bola kembali dengan aturan-aturan yang dikehendaki oleh anak yang terasing tadi.

Untuk belum dewasa yang terasing ini di negara-negara yang sudah maju, ibarat di Belanda, para orang bau tanah dari anak tersebut akan mendapat laporan dari pengajar atau guru, kemudian mereka diberikan penyuluhan dan konsultasi dari Psikolog Anak yang ada di bawah Departemen Urusan Anak-anak Bermasalah, kemudian akan dikirim ke Departemen Kesehatan untuk gangguan jiwa yang tidak stabil untuk diberi pengarahan dan keterampilan sosial dalam cara menyesuaikan diri atau cara mengikuti keadaan di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah.

Untuk orang yang lebih dewasa, mereka diajarkan semacam therapy untuk mengikuti keadaan dalam lingkungan masyarakat agar akhirnya mereka sanggup mandiri.

Tuesday, 26 February 2019

Jadi Berilmu Prinsip Dan Faktor Yang Mensugesti Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak


Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak final dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini (Siti Aisyah dkk., 2007 : 1.17 – 1.23) yakni sebagai berikut:

  1. Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
  2. Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative sanggup diramalkan.
  3. Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
  4. Pengalaman awal anak mempunyai efek kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
  5. Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
  6. Perkembangan dan cara berguru anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.
  7. Anak yakni pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya perihal lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, sosial, dan pengetahuan yang diperolehnya.
  8. Perkembangan dan berguru merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
  9. Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.
  10. Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan aneka macam keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
  11. Anak mempunyai modalitas bermacam-macam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau adonan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga sanggup berguru hal yang berbeda pula dalam menunjukkan hal-hal yang diketahuinya.
  12. Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan berguru yakni dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan kondusif secara fisik dan fisiologis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

Salisu Shehu (1999) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan antara lain faktor hereditas dan faktor lingkungan. Dalam perspektif Islam ada faktor yang penting untuk diingat, bahwa faktor ketentuan Allah merupakan hal yang juga memengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan. Dengan demikian dalam Islam, faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan mencakup faktor hereditas, lingkungan dan ketentuan Allah.Selain itu, insan sebagai khalifah Allah di muka bumi, juga dianugerahkan kebebasan berkehendak yang terbatas kalau dibandingkan dengan kekuasaan Allah.

Al-Qur’an menjelaskan efek herediter dan kekuatan lingkungan pada keseluruhan perkembangan individu.Namun, perlu ditekankan bahwa efek herediter dan lingkungan pada perkembangan seseorang merupakan hal yang ditentukan oleh kehendak Allah.

  1. Intenal /hereditas :
    • Faktor bawaan yang normal dan patologik
    • Proses selama kehamilan (nutrisi, penyakit, obat, polusi, dll)

    Contoh Faktor internal/ hereditas:
    a. Genetik: ras, suku bangsa, warna kulit, jenis rambut dll
    b. Proses selama kehamilan: nutrisi yang didapat dari ibu, penyakit yang diderita, obat-obatan yang dimakan, lingkungan dll

  2. Eksternal/ lingkungan:
    • Asupan gizi penyakit  yang diderita
    • Kualitas
    • Pengasuhan
    • Dan kondisi lingkungan

    Contoh Faktor eksternal/ lingkungan :
    a. Nutrisi yang diberikan, penyakit yang diderita, kebersihan lingkungan sekitar, acara fisik yang dilakukan.
    b. Gizi yang didapat, penyakit yang diderita, kualitas keluarga/pengasuh, teman, dan sekolah.

Psikologi Islami tidak melihat insan hanya sebagai subjek dari faktor herediter dan kekuatan alam (dalam hal ini terjadi secara kebetulan).Islam melihat manusia, menyerupai juga yang lainnya, merupakan sesuatu yang diatur, dijaga, diarahkan dan dikontrol oleh kekuatan dan kehendak Allah yang tidak terbatas. Herediter dan kekuatan alam yang memengaruhi insan merupakan hal kedua. Oleh sebab itu, herediter dan kekuatan akan merupakan medium di mana Allah menunjukkan kehendaknya pada pertumbuhan dan perkembangan insan secara keseluruhan.

Sunday, 1 August 2021

Lebih Cerdik Best Practice Guru - Dongkrak Efektifitas Berguru Siswa Dengan Wajib Bertanya Pada Guru

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Berikut ialah “best practice” saya ketika mengikuti seleksi tahap 2 Guru Favorit Jambi Ekspres 2013, yang telah dipublikasikan di koran Jambi Ekspres pada hari Selasa, 17 September 2013 hal. 21 dalam kolom Pendidikan. Best practice ini juga telah saya presentasikan di hadapan Panitia Seleksi Guru Favorit Jambi Ekspres 2013 tahap 3 pada hari Selasa, 03 Oktober 2013 bersama 32 calon guru favorit lainnya ;

Saya ialah seorang guru bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang terintegrasi dengan SDN No. 200/VIII Sungai Karang yang merupakan satu kesatuan dalam sebuah sistem manajemen pendidikan SD-SMP Satu Atap. Saya mulai bertugas di sekolah ini semenjak tanggal 22 April 2009. Dan pada dikala itu saya merupakan satu-satunya guru PNS yang ditempatkan di sekolah ini, hingga best practice ini saya buat, saya merupakan satu-satunya guru PNS yang masih bertahan dalam mengemban kiprah untuk mengabdikan diri sebagai guru di sekolah ini.

Lokasi sekolah berada di tempat transmigrasi namun masih termasuk dalam kriteria tempat terpencil, tepatnya di Desa Sungai Karang (Trans HTI) Kecamatan VII Koto Ilir Kabupaten Tebo. Pada dikala ini, masih banyak tantangan-tantangan besar yang harus dihadapi dengan bijak serta diatasi dengan cerdas dalam upaya untuk memajukan kualitas pendidikan khususnya melalui pendidikan formal pada sekolah-sekolah yang berada di tempat ini, tak terkecuali pada Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang. Beberapa tantangan-tantangan besar tersebut di antaranya :

a.         Di daerah/lokasi di mana sekolah berada, jaringan listrik PLN belum tersedia, sehingga banyak sarana sekolah yang tidak sanggup dipakai secara optimal, secara otomatis hal ini akan mempengaruhi kualitas pembelajaran yang kurang maksimal (sumber listrik sekolah dikala ini memakai mesin genset kecil yang sangat terbatas sumber daya listriknya);

b.         Insfrastruktur jembatan belum tersedia, jembatan sebagai kanal yang menghubungkan kecamatan VII Koto Ilir dengan desa Sungai Karang belum ada, hal ini besar lengan berkuasa pada biaya transportasi yang lebih mahal, dikarenakan harus memakai sarana ponton/perahu bermesin kecil dalam menyeberangi sungai Batanghari sehingga frekuensi aktivitas yang bekerjasama dengan aktivitas ekstrakurikuler yang harus diikuti siswa ke luar wilayahnya menjadi sedikit;

c.         Jalan yang belum beraspal sehingga pada demam isu penghujan jalan-jalan tersebut becek, berlumpur, lengket, dan licin membuat beberapa siswa yang tinggal di sekitar lahan/ladang orang renta dan berjarak relatif jauh dari sekolah sering tidak sanggup mengikuti pelajaran di sekolah dikarenakan kanal jalan yang menghubungkan antara tempat tinggal mereka dengan sekolah tidak sanggup dilalui kendaraan bermotor;

d.         Akses komunikasi dan internet pun sangat sulit, sehingga fasilitas-fasilitas e-learning yang disediakan sekolah melalui website/blog sekolah di www.smpnsatuatapsungaikarang.blogspot.com kurang sanggup dipakai sebagaimana mestinya, selain itu juga sangat menyulitkan penyelesaian manajemen pendidikan guru maupun pihak sekolah yang notabene pada dikala kini ini, sebagian besar menuntut adanya kemudahan online melalui internet, contohnya pada VerVal NUPTK PADAMU NEGERI 2013 ini, seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta untuk beberapa siswa harus memakai sarana internet dalam mengisi angket Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Selain itu referensi/sumber berguru bagi siswa dan guru juga menjadi terbatas;

e.         Sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), untuk sarana pendidikan mebeler sekolah sebagian besar dalam keadaan yang kurang baik dan buku pegangan siswa pun belum tercukupi, sedangkan prasarana pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang sudah ada dikala ini yakni 3 ruang kelas berguru dan 1 ruang perpustakaan sekolah;

f.          Kurangnya guru bidang studi serta tenaga kependidikan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, sehingga mutu pembelajaran dan sistem manajemen pendidikan kurang optimal;

Dari banyak sekali tantangan-tantangan utama bagi seluruh elemen pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang telah saya uraikan tersebut di atas, tentu sangat mempengaruhi seluruh rangkaian manajemen ataupun proses pendidikan, hasil serta kualitas pembelajaran di sekolah pada khususnya dan juga kualitas berguru siswa di luar sekolah pada umumnya. Namun ini semua bukanlah merupakan alasan-alasan yang harus menghambat dan membebani langkah-langkah sekolah dalam perjuangan meningkatkan kualitas pendidikan, namun ini semua ialah layak kiranya dianggap sebagai tantangan-tantangan ataupun rangsangan-rangsangan istimewa untuk nantinya sanggup melahirkan pribadi-pribadi berkarakter kuat, kreatif, ulet, berani, tangguh, dan bertanggung jawab dalam menjalani setiap kiprah terbaik dalam kehidupannya kelak.

Terkait dengan banyak sekali tantangan-tantangan yang kompleks di atas. Berbagai kisah unik telah banyak terukir dalam benak pribadi saya, di antaranya selama mengajar di sekolah ini semenjak tahun pelajaran 2009/2010 hingga dengan tahun pelajaran 2012/2013 banyak sekali bidang studi lain yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya pun telah saya lakukan di antaranya menjadi guru bidang studi Bahasa Inggris, Matematika, dan TIK.

Hal tersebut di atas terjadi dikarenakan kala itu memang belum ada guru yang mengajar pada bidang studi atau menggantikan kiprah guru bidang studi yang telah  mutasi (pindah tugas), kenyataan-kenyataan inilah yang menjadi faktor utama saya dalam membangkitkan kesadaran diri saya untuk terus dan terus berguru dengan upaya yang lebih serius lagi dalam penguasaan materi-materi bidang studi lainnya tersebut. Selain itu mendapat kiprah pemanis sebagai wali kelas 9 pun selalu saya dapatkan hingga sekarang. Ditambah lagi kiprah pemanis menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum masih saya emban semenjak tahun pelajaran 2011/2012 serta tugas-tugas urgensi lainnya yang harus saya selesaikan dan pertanggung jawabkan dengan hasil yang se-optimal mungkin.

Selanjutnya, lantaran banyaknya tugas-tugas mengajar serta tugas-tugas lain dalam sistem pengelolaan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang harus saya lakukan dan pertanggung jawabkan dengan banyak sekali “dead line” yang mengikutinya ini membuat paradigma mental saya menyimpulkan bahwa waktu ialah adalah sumber daya yang sangat berharga dan istimewa bagi saya, oleh lantaran itu, dalam setiap proses berguru mengajar yang saya lakukan, efektifitas dalam proses belajar-mengajar menjadi prioritas utama saya, selain itu pula, kiprah apapun yang saya lakukan, ada beberapa aspek penting yang sangat saya perhatikan, yakni ketelitian, kualitas, dan tuntas dalam setiap proses dalam pelaksanaan tugas-tugas yang saya emban. Karena bagi saya, setiap proses itu menjadi faktor utama dalam menampilkan setiap kualitas.

Sehubungan dengan hal itu, dalam proses berguru mengajar di sekolah yang telah saya lakukan semenjak tahun pelajaran 2009/2010 hingga tahun pelajaran 2012/2013 dengan banyak sekali tantangan yang ada dikala itu hingga hari ini telah banyak memperlihatkan pelajaran-pelajaran tersendiri bagi saya khususnya mengenai metode pembelajaran yang telah saya terapkan kala itu.

Mengenai metode pembelajaran yang saya gunakan dari waktu ke waktu tentu harus terus berkembang, selaras dengan kemajuan dan tuntutan zaman yang semuanya serba maju pesat serta dinamis ibarat kini ini, sehingga efektifitas pembelajaran semakin sanggup terus-menerus ditingkatkan secara sedikit demi sedikit dan signifikan.

Mulai memasuki tahun pelajaran 2013/2014, mengingat semakin kompleksnya tantangan-tantangan yang ada dalam upaya menghasilkan produk-produk sumber daya insan yang handal dan tangguh hingga nantinya mereka siap berkompetisi di masa globalisasi yang semakin maju pesat ibarat kini ini sehingga menuntut saya untuk terus menumbuhkan kreatifitas, khususnya dalam mengaplikasikan metode pembelajaran yang tepat, efektif sekaligus menarik bagi seluruh siswa-siswa saya. Dari banyak sekali faktor tersebut, kesannya timbul sebuah ide pada diri saya untuk menerapkan sebuah metode pembelajaran yang saya yakini akan sanggup meningkatkan kualitas pembelajaran siswa-siswa saya, metode pembelajaran saya tersebut ialah “Setiap Siswa Harus Bertanya Kepada Guru”, metode pembelajaran yang saya terapkan ini mempunyai beberapa manfaat-manfaat positif, terutama untuk mendongkrak efektifitas berguru sekaligus sebagai penilaian hasil berguru siswa.

Metode pembelajaran “Setiap Siswa Harus Bertanya Kepada Guru” yang saya terapkan mulai awal semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 ialah metode pembelajaran interaktif dua arah antara guru dengan siswa dan sebaliknya, yang tentunya metode ini memakai sebuah aturan baku bahwa setiap siswa harus bertanya kepada guru, artinya seluruh siswa yang terlibat dalam sebuah proses belajar-mengajar di kelas pada hari itu harus mengajukan sebuah pertanyaan kepada gurunya perihal hal-hal yang berkaitan/berhubungan dengan materi yang diajarkan tersebut, tak terkecuali bagi siswa yang merasa telah memahami materi yang telah disampaikan guru. Hal ini saya terapkan lantaran dalam penyampaian berguru guru cenderung lebih banyak didominasi bertanya kepada siswa, inipun dulu saya lakukan tidak untuk seluruh siswa melainkan ditunjuk eksklusif menurut penilaian yang ada. Tentu sistem acak dan asumsi ibarat ini tidak akan sanggup mengevaluasi kualitas hasil berguru setiap individu siswa.

Berikut beberapa langkah-langkah dalam penerapan metode berguru “Setiap Siswa Harus Bertanya Kepada Guru” yang telah saya aplikasikan semenjak tahun pelajaran 2013/2014 ini, yaitu:

1.         Guru menyampaikan/menguraikan materi pembelajaran secara sistematis dan etis terhadap siswa.

2.         Setelah itu, guru mengalokasikan waktu khusus untuk memperlihatkan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya. Seluruh siswa wajib bertanya kepada guru mengenai materi pelajaran yang telah disampaikan tak terkecuali bagi siswa yang merasa telah menguasai materi dikala itupun tetap harus bertanya, tentunya perihal hal-hal yang masih ada keterkaitan atau hubungan dengan materi itu. Hal ini dilakukan dengan tujuan biar mereka yang telah memahami materi pokok dalam pembelajaran dikala itu akan mendapat penguasaan materi pembelajaran yang lebih komprehensif sekaligus sebagai wacana gres mereka, selain itu juga akan sanggup dijadikan sebagai rujukan ataupun materi berpikir pemanis dalam proses pemahaman bagi siswa lainnya yang belum menguasai materi tersebut.

3.         Bila ternyata pada sesi khusus di atas tidak ada pertanyaan dari siswa, maka guru sanggup memperlihatkan pertanyaan kepada setiap siswa satu demi satu, seluruh siswa dalam satu kelas mendapat pertanyaan dalam sesi ini, hal ini dilakukan guru untuk memastikan bahwa seluruh siswa benar-benar memahami pelajaran yang telah dipelajarinya dikala itu. Langkah ini sebagai materi penilaian lanjutan.

4.         Apabila didapati salah satu atau beberapa siswa yang tidak sanggup menjawab pertanyaan guru, maka siswa tersebut dipersilahkan untuk maju ke depan kelas. Hal ini akan menjadi hukuman yang positif bagi siswa tersebut untuk mengasah kepercayaan diri mereka dalam lingkungan kelasnya serta memicu siswa lainnya untuk lebih serius dalam belajarnya, lantaran masih banyak ditemukan beberapa anak aib mengakui kekurangannya di hadapan siswa lainnya sehingga siswa itupun segan untuk bertanya. Selanjutnya siswa tersebut tidak diperkenankan duduk kembali sebelum ia sanggup menjawab pertanyaan dari guru dan atau sehabis ia mengajukan sebuah pertanyaan yang bekerjasama dengan materi dikala itu, inipun tentu menurut pertimbangan guru yang bersangkutan akan ketersediaan waktu yang cukup serta pertimbangan moril lainnya. Hal inipun dilakukan dengan tujuan utama yakni untuk penanaman mental positif bagi anak dalam upaya menghilangkan kesan bahwa bertanya itu kelihatan bodohnya, namun bertanya itu justru memperlihatkan akan kemauan pintarnya.

5.         Membuat daftar hasil penilaian berguru dan tindak lanjut proses pembelajaran bagi siswa pada pertemuan berguru selanjutnya. Jika dibutuhkan penambahan alokasi waktu bertanya dan ditanya dari setiap siswa kepada guru maupun sebaliknya ini sanggup dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya.

6.         Dalam penerapannya saya akan menguraikan pola kasatmata dalam penerapan metode “Setiap Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” di kelas 9 Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang terdiri dari 17 siswa. Data ini saya dapatkan pada aktivitas belajar-mengajar mata pelajaran PKn yang saya ampu, pada tanggal 10 September 2013 pada jam 07.30 s.d. 08.50 WIB. Total waktu yang dialokasikan selama 80 menit (40 x 2 jam pelajaran) dengan rincian pembagian alokasi waktu :

7.         Alokasi waktu ± 30 menit untuk memulai proses berguru di kelas, guru mempresentasikan, menguraikan, dan menjelaskan materi pembahasan perihal Usaha Pembelaan Negara.

8.         Alokasi waktu ± 17 menit untuk sesi siswa bertanya kepada guru, kemudian guru menjawab.

9.         Alokasi waktu ± 5 menit, penyegaran berguru dengan mempersilahkan siswa yang ingin buang air kecil, ataupun diisi dengan cerita-cerita lucu namun inspiratif sekaligus edukatif, untuk membuat suasana kelas yang refresh kembali.

10.       Alokasi waktu ± 17 menit untuk sesi guru bertanya pada siswa (sesi khusus), kemudian siswa menjawab. Alokasi waktu khusus ini dilakukan apabila pada sesi 2 (sesi siswa bertanya kepada guru) masih ada beberapa siswa yang tidak bertanya kepada guru). Dengan kata lain, sesi ini diperuntukkan khusus bagi siswa yang tidak mengajukan pertanyaan pada sesi sebelumnya (sesi 2).

11.       Alokasi waktu ± 11 menit untuk sesi kesimpulan guru, penilaian belajar, penyampaian pengumuman (bila ada), nasehat guru, dan penutupan

Berikut saya jabarkan step by step atau langkah-langkah dalam penerapan/implementasi metode berguru “Setiap Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” yang telah saya lakukan:

1.         Kutipan materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang saya sampaikan di kelas 9 dengan jumlah siswa yang ada sebanyak 17 siswa, perihal Usaha Pembelaan Negara, alokasi waktu ± 30 menit :
.
USAHA PEMBELAAN NEGARA

Setiap warga negara dituntut mempunyai kemauan, kemampuan, dan kesepakatan yang kuat untuk berpartisipasi aktif dalam perjuangan pembelaan negara. Usaha pembelaan negara berkaitan dengan upaya mempertahankan negara dari bahaya dan ganguan pihak asing. Oleh lantaran itu perjuangan pembelaan negara sangat penting dilakukan oleh setiap warga negara.

Mempertahankan negara merupakan salah satu fungsi negara yang sangat penting dalam kaitannya dengan perjuangan pembelaan negara.

Setiap negara mesti menyelenggarakan beberapa fungsi minimum yang mutlak perlu yaitu:

1.         Melaksanakan penertiban. Negara mengatur segala hal yang bekerjasama dengan ketertiban bagi seluruh warganya, artinya negara mengatur ketertiban masyarakat supaya tercipta kondisi yang aman dan stabil, dengan banyak sekali cara di antaranya : Negara mencegah benturan-benturan atau bentrokan-bentrokan yang terjadi dalam masyarakat dengan memakai alat-alat pemerintah. Dengan tercipta ketertiban serta keadaan yang aman dan stabil, maka segala aktivitas yang akan dilakukan oleh warga negara sanggup dilaksanakan dengan nyaman, baik, dan lancar.

2.         Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, maknanya Negara berupaya biar masyarakat sanggup hidup dan sejahtera, terutama di bidang ekonomi dan sosial masyarakat. Hal ini sanggup dilakukan melalui pengiriman TKI, penerimaan CPNS dari setiap warga negara yang telah memenuhi syarat, serta pembukaan lowongan-lowongan kerja pada perusahaan-perusahaan atau bidang pekerjaan swasta yang difasilitasi oleh Negara.

3.         Fungsi pertahanan, yaitu untuk menjaga kemungkinan serangan dari luar (pihak asing), berfungsi untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu bangsa dari setiap bahaya dan gangguan yang timbul dari dalam maupun tiba dari luar negeri. Ancaman dan gangguan tersebut mungkin berupa serangan (invasi) dari luar negeri maupun golongan-golongan dari dalam negeri yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

4.         Menegakkan keadilan, yang dilaksanakan melalui badan-badan pengadilan yang berfungsi untuk menegakkan keadilan bagi seluruh warganya mencakup seluruh aspek kehidupan (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan Hankam). Upaya yang dilakukan antara lain menegakkan aturan melalui badan-badan peradilan.

Rakyat sebagai salah satu unsur mutlak suatu negara, mempunyai peranan yang sangat penting dalam melakukan pembangunan banyak sekali aspek kehidupan. Untuk itu setiap warga negara mempunyai jaminan aturan untuk melakukan hak dan kewajibannya yang diberikan negara. Salah satu hak dan kewajiban warga negara ialah ikut serta dalam perjuangan pembelaan negara. Upaya bela negara sebagaimana diatur Undang-undang nomor 3 tahun 2002 diselenggarakan melalui:

a.       Pendidikan kewarganegaran (PKn), PKn sanggup dipelajari melalui banyak sekali jalur pendidikan formal maupun informal, serta di banyak sekali media online Negara;
b.       Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib;
c.       Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara suka rela atau secara wajib; dan
d.       Melalui dedikasi sesuai dengan profesi.

2.         Setelah materi disampaikan pada seluruh siswa, kemudian saya mengalokasikan waktu khusus selama ± 17 menit untuk mempersilahkan siswa bertanya kepada guru, selanjutnya saya eksklusif menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan siswa tersebut eksklusif satu-persatu sehabis mereka selesai dalam memberikan pertanyaannya, dan ternyata tidak ada satupun siswa yang tidak bertanya, lantaran dari awal sesi ini telah saya umumkan pada seluruh siswa bahwa semua siswa harus bertanya pada saya selaku guru perihal semua hal yang berkaitan dengan pembahasan materi pada hari itu, jika tidak, nanti saya akan balik bertanya pada siswa, dan jika siswa tidak bisa menjawab, maka siswa tersebut mendapat hukuman dengan berdiri di depan kelas, dan ia akan boleh duduk kembali sehabis siswa sanggup menjawab pertanyaan dari saya, tentunya konten (isi) dari pertanyaan saya juga berkaitan dengan materi yang telah saya sampaikan pada hari itu. 

Pertanyaan-pertanyaan siswa pada hari itu sejumlah 17 pertanyaan, lantaran memang jumlah siswa kelas 9 yang hadir pada hari itu sebanyak 17 siswa, yang masing-masing siswa mengajukan 1 (satu) buah pertanyaan yang terkait dengan pembahasan materi hari itu, pertanyaan-pertanyaan siswa tersebut adalah:

1.       Apa arti kata dari kesepakatan itu?
2.       Apa perbedaan negara dengan pemerintah?
3.       Apa pengertian dari keadaan yang aman itu?
4.       Mengapa kepolisian disebut juga dengan penyidik?
5.       Apakah aktivitas kita dikala ini termasuk perjuangan pembelaan negara?
6.       Di manakah kiprah POLRI dalam perjuangan pembelaan negara?
7.       Bagaimanakah contoh/bentuk invasi pihak gila terhadap Negara Indonesia?
8.       Apakah dikala ini masih ada wajib militer bagi rakyat dikala ini?
9.       Sampai kapan perjuangan pembelaan negara diperlukan?
10.     Siapakah pihak yang pertama kali bertanggung jawab terhadap keamanan Negara?
11.     Apakah POLRI termasuk dalam ABRI?
12.     Apa pengertian dari ideologi itu?
13.     Mengapa perjuangan pembelaan negara harus diajarkan di sekolah?
14.     Saat  kapankah rakyat harus terlibat dalam perang?
15.     Apakah pendidikan formal dan informal itu?
16.     Bagaimana bentuk pembelajaran PKn dalam pendidikan informal?
17.     Profesi apakah yang termasuk dalam rangka berpartisipasi aktif dalam perjuangan pembelaan negara?

3.       Langkah selanjutnya ialah mengalokasikan waktu ± 5 menit untuk sesi penyegaran berguru di kelas dengan mempersilahkan siswa yang ingin buang air kecil, pada sesi ini sanggup diisi pula dengan cerita-cerita singkat namun lucu (menghibur), yang sanggup menginspirasi sekaligus sanggup memotivasi siswa untuk senantiasa bersemangat dalam berguru atau sanggup diisi pula dengan tebakan-tebakan lucu yang cerdas, hal ini untuk kembali menyegarkan semangat anak dalam membuka cakrawala berpikir positif mereka.

4.       Kemudian alokasi waktu ± 17 menit yang seharusnya dipakai untuk sesi guru bertanya dengan siswa ditiadakan, lantaran sesi ini sanggup dipakai apabila seluruh siswa atau beberapa siswa tidak bertanya pada sesi sebelumnya. Oleh lantaran itu, alokasi waktu yang tersedia ± 17 menit ini sanggup dijadikan guru untuk pendalaman materi pada hari itu.

5.       Pada sesi terakhir, tersisa alokasi waktu ± 11 menit untuk penyampaian kesimpulan guru, penilaian berguru pada hari itu, penyampaian pengumuman (bila ada), nasehat guru, dan penutupan.

Kesimpulan :

Setelah menerapkan metode berguru “Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” ini, ternyata banyak manfaat-manfaat positif yang saya, rekan-rekan guru, dan seluruh siswa rasakan, hal-hal positif tersebut antara lain:

1.       Kepercayaan diri siswa semakin meningkat.
2.       Guru lebih terbuka terhadap siswa untuk terus mau berguru dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan penguasaan ilmu yang komprehensif tentunya.
3.       Adanya kompetisi sehat antar-siswa di kelas.
4.       Semakin meningkatnya antusiasme dan keseriusan siswa dalam memperhatikan seluruh materi yang sedang disampaikan oleh guru di kelas.
5.       Mengurangi kesenjangan pengetahuan antar-siswa,
6.       Semangat berguru siswa di luar sekolah semakin bertambah.
7.       Semakin menyadarkan siswa untuk menyukai seluruh mata pelajaran atau bidang studi yang dipelajari di sekolah, lantaran intinya seluruh materi pelajaran ada hubungan bersahabat antara satu dengan yang lainnya.
8.       Munculnya ide-ide kreatif baik dari siswa maupun guru dalam rangka memajukan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang.
9.       Meningkatkan sinergitas dan kekompakan antar-siswa maupun antar-guru.

Selain hal-hal tersebut di atas, tentu masih banyak manfaat-manfaat positif lainnya ke depan, lantaran metode “Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” ini akan terus  saya kembangkan serta inovasikan demi peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang dalam upaya mewujudkan sumber daya insan yang berkualitas serta cerdas dengan metode-metode pembelajaran yang berkualitas dan cerdas pula.

Monday, 18 November 2019

Lebih Cendekia Cara Dan Pentingnya Tugas Orang Renta / Keluarga Dalam Membentuk Abjad Dan Mutu Anak Bangsa

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Buah jatuh tak jauh dari pohonnnya, tampaknya peribahasa ini tidak absurd lagi bagi kita selaku orang renta yang  dalam upaya membina dan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik atau lebih tepatnya menjadi bawah umur yang soleh soleha. Penanaman karakter semenjak dini hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Baik buruknya anak tergantung dari bagaimana para orang renta memperlakukan anak-anaknya.

Menurut pandangan Islam ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan oleh para calon orang renta yang mendambakan bawah umur soleh soleha. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: “Seseorang perempuan itu dinikahi lantaran empat perkara: lantaran hartanya, lantaran kedudukannya, lantaran kecantikannya dan lantaran agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung – Hadis riwayat al-Bukhari. Makara dengan kata lain hal pertama yang harus dilakukan oleh para calon orang renta yakni memilihkan calon ibu atau calon bapak yang baik dan taqwa untuk calon anaknya kelak.

Kedua, hendaklah membaca doa sebelum melaksanakan relasi tubuh biar terhindar daripada gangguan syaitan. Rasulullah SAW telah mengajar kepada kita ibarat dalam satu hadis Beliau bersabda: “Sekiranya seseorang di antara kau ketika hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas Syaitana wajannibis syaitana ma razaktana.” Maksudnya: Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaitan daripada kami dan jauhkanlah syaitan daripada apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Jika Allah takdirkan (dengan relasi tersebut lahir) seorang anak, maka syaitan dihentikan memudaratkannya.” – Riwayat al-Bukhari.

Ketiga, hendaklah mengambil berat bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Perhatian itu sama ada kesehatan bayi yang dikandungnya, maupun sifat-sifat yang akan diturunkan daripada ibu kepada anaknya.

Keempat, seorang ibu hendaklah sadar terhadap apa yang dikerjakan biar tidak melaksanakan masalah buruk yang akan besar lengan berkuasa kepada bayinya nanti.

Kelima, hendaklah mendapatkan dengan senang hati bayi yang dilahirkannya sama ada perempuan atau lelaki. Kerana ada di kalangan pasangan yang tidak suka bila lahir anak perempuan. Sikap ini yakni sifat jahiliah yang perlu dijauhi. Orang Quraisy pada zaman jahiliah apabila lahirnya anak perempuan, maka mereka membunuhnya. Begitu juga adakala Allah SWT menguji ibu dan ayah dengan anak yang kurang tepat ibarat buta, bisu, pekak. Sekiranya ibu bapa itu mendapatkan dengan berlapang dada, maka ia tetap berasa senang. Namun, sekiranya ibu bapa tidak senang menerimanya, ia boleh membawa kepada penceraian atau pembunuhan pada anak tersebut.

Keenam, memberi nama anak yang baik. Sesungguhnya anak berhak untuk diberi nama yang baik dan bagus didengar. Nama itulah yang akan mewakili dirinya untuk kehidupannya kelak. Oleh itu, janganlah tersalah memberi nama. Janganlah diberi nama yang ada unsur menyamai dengan agama lain atau mahir maksiat dan orang yang populer kejahatannya. Berilah nama yang dianjurkan ibarat nama yang memperlihatkan perhambaan kepada Allah, nama Nabi dan orang yang salih.

Ketujuh, memperlihatkan anak itu rasa aman dan tentram dari hal yang seram dan masalah yang merusak akidahnya. Jangan suka menakut-nakuti dengan menyampaikan kepadanya ada hantu kerana bisa jadi hal ini sanggup merusak mental dan agamanya.

Kedelapan, memberi pendidikan agama yang cukup. Kesembilan, menjaga kesucian anak itu dengan menikahkannya sekiranya rasa perlu dan bisa untuknya.


Banyak orang renta sangat mementingkan tingginya IQ bawah umur mereka, sehingga dengan segala cara mereka berusaha merangsang pertumbuhannya pada anak mereka. Pihak sekolah juga mempunyai standard IQ yang mengharuskan bawah umur tingkat dasar mempunyai tingkat IQ tertentu untuk bisa diterima di sekolah. Sebaliknya soal spiritual dan juga karakter sering diabaikan dan dipandang sebelah mata. Karakter hanya dianggap sebagai pemanis semata, bukan prioritas dalam kurikulum yang ada. Padahal karakter sangat penting dalam pembangunan pribadi anak yang tangguh, Akan menjadi sangat disayangkan apabila ada anak yang mempunyai IQ yang tinggi tapi mempunyai karakter yang tercela.

Hasil pencaharian dari internet mengenai ”Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademik Anak Dr. Martin Luther King berkata: “Intelligence plus character…that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu yakni tujuan final dari pendidikan sebenarnya).artinya dengan karakter yang baik seorang niscaya akan memperoleh hasil dan mutu yang baik pula.

Daniel Goleman menyebutkan ternyata 80 persen keberhasilan dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (karakter), dan hanya 20 persen ditentukan oleh otak (IQ). Sementara kita tau bahwa didunia pendidikan lebih banyak mengasah kecerdasan otak dengan metode hapalan dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan dibanding karakter atau budi pekerti yang baik. Sehingga tolok ukur yang paling utama membuat mutu pendidikan menjadi berkualitas rendah.

Dalam sebuah goresan pena perihal ”Pendidikan Berkarakter Sebuh Solusi Meningkatkan Mutu pendidikan” menyatakan ketidakpahaman semenjak dini perihal pendidikan karakterlah pokok utama permasalahan, mengapa mutu pendidikan semakin pudar dan kualitas seakan-akan menurun.Pernyataan yang menyebutkan pandangan beberapa kelompok mengenai pendidikan. Sebagian kelompok beropini bahwa pendidikan kita ketika ini terlalu menekankan sisi keduniawian. Sehingga banyak menghasilkan manusia-manusia yang egois, tidak memegang nilai-nilai agama, tidak menghargai perbedaan, bermental korup dan lain sebagainya. Kelompok lain beropini bahwa ketika ini pendidikan kita terlalu menekankan sisi kemampuan otak kiri. Akibatnya, banyak manusia-manusia berprestasi secara akademik, dengan gelar yang membuat orang berdecak kagum serta jabatan yang kalau kita mengutip sedikit kata-kata Vicky sanggup meningkatkan taraf  hidup kemakmuran, malah menggunakannya sebagai jembatan untuk melaksanakan hal-hal untuk memperkaya diri sendiri dan menyengsarahkan orang banyak bahkan negara.

Oleh alasannya itu mendidik anak semenjak usia dini sangatlah penting untuk masa depan anak dalam membangun pribadi dengan budi pekerti yang luhur, cerdas dan mempunyai sopan santun yang soleh/soleha.Cara mendidik anak usia dini atau balita yang salah akan menjerumuskan kedua orang tuanya baik di dunia dan akhirat.

Karena dunia daerah kita hidup ketika ini penuh dengan tantangan yang kompleks, dunia sudah berubah, semakin kejam, seram dan rusak. Gaya hidup yang dipertontonkan dunia masa sekarang dipenuhi oleh kekacauan moral, di mana keluarga tradisional sudah menjadi barang langka. Yang marak dan dipertontonkan di masyarakat yakni keluarga yang hancur, ayah dan ibu saling menyakiti sehingga anak jadi korban. Situasi dan kondisi ibarat ini tidak sanggup diatasi hanya dengan rasio atau logika semata, dibutuhkan modal yang berbeda. Dibutuhkan hikmat dan disiplin yang luar biasa untuk membangun bawah umur yang kuat menghadapi ranjau perubahan, arus informasi yang sangat deras, obat-obatan terlarang, dan pergaulan seks bebas. Dibutuhkan karakter yang kuat untuk bertahan dalam kehidupan yang keras, biar bisa mengatasi segala kasus yang dihadapi di masa depan.

Fakta ini akan menjadi sangat memprihatiankan apabila kita selaku orang renta bersifat masa ndeso dengan pertumbuhan karakter buah hati kita. Dan yang niscaya peningkatan mutu bagi bawah umur bangsa hingga kapanpun tidak akan pernah terwujud. Berdasarkan penguraian diatas maka penulis mangangkat sebuah goresan pena yang berjudul ”Karakter Untuk Buah Hati Peningkatan Mutu bagi Anak Bangsa”  Di sini penulis mengamanatkan membangunan karakter anak sangat ditentukan olehpola asuh semenjak dini dalam keluarga. Karena itu perlu dibangun keluarga yang kokoh untuk sanggup melahirkan generasi-generasi penerus yang berkualitas ,berkarakter kuat yang bermanfaat besar dalam masyarakat. Yang harus berperan bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Bahkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimasa kecil hingga usia remaja sangat menentukan pembentukan karakter anak. Keluarga yang harmonis, dimana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan kasih sayang akan memperlihatkan suatu lingkungan yang aman bagi pembentukan karakter anak. Menurut Erikson, kesuksesan orang renta membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak.

Hakikat Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter mempunyai arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2).Karakter juga bisa bermakna "huruf".

Menurut (Ditjen Mandikdasmen - Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter yakni cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,  bangsa  dan  negara.  Individu  yang  berkarakter  baik  adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap jawaban dari keputusan yang ia buat.

W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter yakni sifat kasatmata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang sanggup diamati pada individu. Gulo W, (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter yakni kepribadian ditinjau  dari titik  tolak etis  atau  moral,  misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter yakni sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.

Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh alasannya itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Makara istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laris dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laris yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.

Adapun karakter bangsa Indonesia yang dimiliki warga negara Indonesia dan berupaya diterapkan di sekolah-sekolah  antara lain.

1. Relijius

Kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada anutan agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai relijius merupakan pendidikan karakter bangsa yang utama. Melihat nilai relijius yang semakin memudar dalam perkembanggan zaman, maka harus diterapkan semenjak dini dalam proses pendidikan baik formal ataupun tidak. Berdo’a sebelum dan sehabis belajar, berbuat baik kepada sesama, mengormati dan patuh kepada kedua orang renta dan sebagainya merupakan bentuk aplikatifnya. Jika sudah menyatu dan menjadi suatu kebutuhan maka akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, sehingga mutu pendidikan sanggup ditingkatkan.

2. Jujur

Karakter bangsa yang sekarang menjadi sorotan pada aneka macam aspek kehidupan yakni kejujuran. Sekarang, nilai kejujuran diumpamakan sebagai barang berharga yang sangat mahal. Lemahnya nilai kejujuran di sekolah, seperti, budaya menyontek, berbohong kepada guru akan berdampak terhadap proses pendidikan dan hasil yang akan diperoleh. Nilai kejujuran sanggup dikembangkan melalui kantin kejujuran, sehingga materi atau pokok bahasan dalam mata pelajaran sanggup eksklusif dipraktekkan. Kantin kejujuran merupakan salah satu taktik yang tepat biar siswa berguru dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi dan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi6.

3. Toleransi

Toleransi yakni sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap orang lain yang berbeda dari dirinya. Berbagai kerusuhan (tawuran) dan kekerasan (perusakan sarana umum) diminimalisasikan dengan saling bertoleransi. Rasa toleransi harus selalu tertanam dan dipahami biar generasi muda terlepas dari permasalahan. Tidak mungkin ada toleransi bila kelakuan moral tidak diperkenalkan secara baik melalui pendidikan karakter. Permasalahan timbul lantaran adanya perbedaan, lantaran itulah kita membutuhkan toleransi dalam proses pendidikan supaya tercipta suasana yang aman dan damai. Seperti menghargai guru, menghargai pendapat teman, saling membantu menuju kesuksesan.

4. Disiplin

Kedisiplinan membuat pelajar senantiasa memakai waktu dengan sebaiknya, dalam arti tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Dalam lingkup nilai disiplin, Indonesia masih jauh tertinggal dari bangsa lain yang sukses menerapkan nilai kedisiplinan. Kenyataan dilapangan, kebiasaan ibarat terlambat masuk kelas/ menghadiri rapat, sering tidak hadir, (baik pengajar atau penerima didik), mengakhiri pelajaran sebelum waktunya masih sangat gampang ditemukan. Apabila dunia pendidikan gagal menanamkan sikap disiplin terhadap penerima didik, berarti para guru dan dosen siap mengantarkan bangsa di negeri ini kelapisan bawah dari bangsa-bangsa dunia yang telah maju peradabannya.

5. Kerja Keras      

Keberhasilan diperoleh melalui usaha. Kerja keras yang dilakukan mencakup rajin belajar, membuat kiprah dengan sungguh-sungguh, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan. Suksesnya penerapan kerja keras dalam melaksanakan hak dan kewajiban, akan melahirkan penerima didik yang mau berusaha, tanpa mengenal putus asa. Hal ini membuat siswa mau bekerja keras dalam mencapai tujuan final pendidikannya.

6. Kreatif

Alternatif lain yang dipakai untuk mengatasi permasalahan yaitu dengan pemikiran yang kreatif. Siswa yang kreatif sangat diidamkan, lantaran bisa menghasilkan karya-karya yang gres ibarat karya sastra, karya seni, tidak terbebani terhadap satu solusi serta jauh dari jiwa imitasi. Kreatifitas sanggup menyeimbangkan otok kiri dengan otak kanan. Sehingga hasil karya anak bangsa ibarat penciptaan robot sebagai tekhnologi sanggup mengangkat pendidikan Indonesia dimata dunia.

7. Mandiri

Siswa sanggup berdiri diatas kaki sendiri akan terlepas dari ketergantungan terhadap pemberian yang diberikan oleh orang lain. Kemandirian sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran, ibarat mengerjakan kiprah sendiri, dan melengkapi materi pembelajaran. Kemandirian melatih siswa untuk terbiasa memakai kemampuan yang dimilikinya. Jadi, generasi muda harus sanggup berdiri diatas kaki sendiri dalam mengerjakan kewajiban yang telah diberikan.

8. Demokrasi

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 serpihan III pasal 4 ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Pendidikan yang demokratis akan menghasilkan lulusan yang bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan bisa mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan publik. Demokrasi sanggup berupa saling bertukar pendapat dalam lembaga diskusi, mengajukan pemikiran dalam musyawarah, menentukan pemimpin kelas/ sekolah dan sebagainya.

9. Rasa Ingin Tahu

Minat dalam proses berguru yakni rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan. Jika rasa ingin tahu selalu menjadi hal yang selalu dibiasakan, maka mendapatkan materi akan gampang dirasakan. Rasa ingin tahu membuat siswa selalu menggali ilmu, mencari informasi, melaksanakan suatu hal yang baru.

10. Semangat Kebangsaan

Patriotisme menjadi modal awal dalam keinginan memajukan bangsa negara Indonesia. Dengan semangat kebangsaan, rasa saling berafiliasi akan tetap terasa dalam mengisi hari kemerdekaan. Siswa yang patriotisme akan hikmat mengikuti upacara dan aktif dalam aneka macam kegiatan kebangsaan ibarat PMI.

11. Cinta Tanah Air

Dari nilai cinta tanah air, kepedulian terhadap bangsa dan Negara Indonesia yang sangat menonjol dalam kepribadian. Dalam segi aplikatif cinta tanah air sanggup diwujudkan dengan kesetiaan, kepedulian terhadap bahasa dan lingkungan, membeli produk anak bangsa dan dalam aneka macam aspeknya.

12. Menghargai Prestasi

Prestasi yang diperoleh harus dihargai sebagai buah usaha yang telah dipetik. Dengan aneka macam sarana yaitu menyebarkan ilmu terhadap sesama, dan selalu menggali potensi diri.

13. Bersahabat dan Komunikasi

Dalam aspek pendidikan keberhasilan sesalu diraih dengan saling bekerja sama lantaran perasaan senang telah tercipta dan komunikasi yang berjalan dengan baik ( membentuk kelompok diskusi) akan meningkatkan proses berguru menjadi lebih efisien.

14. Cinta Damai

Kemampuan membuat suasana yang dekat dan bernuansa damai, sehingga keadaan yang aman dalam proses pembelajaran sanggup diwujudkan. Permasalan diselesaikan dengan cara tenang dan adil. Sikap mendapatkan kekukurangan dan menghargai kelebihan dengan terbuka dan saling pengertian.

15. Gemar Membaca

Dengan gemar membaca, pelajar sanggup membuka cakrawala yang luas. Pepatah menyampaikan “Membaca Buku Berarti Membuka Jendela Dunia”. Informasi yang diperoleh mengakibatkan penerima didik mempunyai potensi awal yang sangat baik, sehingga sanggup mengaitkan aneka macam ilmu yang dikuasai.

16. Peduli Lingkungan

Upaya yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap kerusakan lingkungan. Implementasinya disekolah ibarat membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan sekolah. Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi proses pembelajaran, ibarat lingkungan berguru yang higienis akan membuat suasana senang sehingga pikiran lebih terbuka untuk mendapatkan materi.

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang berjiwa sosial dengan saling membantu untuk mewujudkan kerukunan dan lingkungan yang tenang serta sejahtera dalam dunia pendidikan. Apabila ada kemalangan dari warga sekolah diwujudkan dengan rasa empati, mengumpulkan dana bantuan.

18. Bertanggung Jawab

Bertanggung jawab berarti berani mengambil resiko terhadap tindakan yang telah diperbuat. Peserta didik sangat dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya, baik terhadap diri sendiri, lingkungan masyarakat dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hakikat Mutu

Menurut Crosby (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk mempunyai mutu apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan, standar mutu tersebut mencakup materi baku, proses produksi, dan produk jadi (Crosby, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85). Menurut Deming (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah kesesuain dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Mutu ialah suatu kondisi dinamik yang berafiliasi dengan produk, tenaga kerja, proses dan kiprah serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi impian pelanggan. Dengan perubahan mutu tersebut, diharapkan peningkatan atau perubahan keterampilan tenaga kerja, proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan biar produk sanggup memenuhi dan melebihi impian konsumen (Garvi dan Davis, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:86).

Dalam pandangan Zamroni ( 2007:2 ) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah yakni suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses berguru mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan biar menjadi sasaran sekolah sanggup dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Jelaslah bahwa untuk menyiapkan masa depan yang gemilang bagi anak, setiap orang renta punya andil besar untuk mempersiapkannya bahkan semenjak anak masih dalam kandungan. Bukan hanya kemudahan yang lengkap, tapi kasih sayang dan penanaman nilai-nilai karakter yang baik Insyaallah akan membuat generasi-generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga mempunyai kwalitas diri yang membanggakan oleh negeri ini.

Pengirim : SRY DEWIYANA KOLLY (Guru Sekolah Menengah kejuruan Muhammadiyah Bitung Kecamatan Girian Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara).

Daftar Pustaka :

1.   Cara mendidik anak usia dini balita biar cerdaspintar dan soleh http://www.Islamituindah.my/8-tips-lahirkan-anak-soleh
2.   Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademi Anak http://.www.pondokibu.com
3.   Pendidikan berkarakter meningkatkan mutu pendidikan /search?q=10/pendidikan-berkarakter-sebuah-solusi-meningkatkan-mutu-pendidikan/
4.   Pengertian karakter http://pustaka.pandani.web.id/2013/03/pengertian-karakter
5.   Pengertian Mutu http://dwicitranurhariyanti.wordpress.com/landasan-dan-problematika-dalam-pendidikan/peningkatan-mutu-pendidikan/