Showing posts with label PUBLIKASI KARYA TULIS ONLINE. Show all posts
Showing posts with label PUBLIKASI KARYA TULIS ONLINE. Show all posts

Friday, 27 August 2021

Lebih Berilmu Publikasi Karya Tulis Online Surat Kecil Dari Anak Rantau Untuk Ayah Di Kampung

SURAT KECIL DARI RANTAU UNTUK AYAH DI KAMPUNG

Pekanbaru, 27 Pebruari 2014
Kepada yang luar biasa,
Ayah di kampung.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.....

Assalaamu ‘Alaikum Wr. Wb.....

Sebelumnya ananda mendoakan semoga ayah di kampung senantiasa diberi Allah kesehatan dan umur panjang, biar suatu ketika nanti kita dapat mencicipi kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Di sudut malam ini, ku goreskan pena di lembaran putih dengan perasaan tidak menentu, ada perasaan senang lantaran saya dapat mencurahkan isi hati melalui surat kecil ini, ada juga perasaan terharu lantaran mengingat pengorbanan dan usaha ayah selama ini untukku.

Ayahku tercinta…

Tahukah engkau, ini yakni surat cinta pertamaku, yang khusus saya persembahkan sebagai tanda cinta dan sayangku untukmu. Apakah ayah tahu juga, ketika menulis surat ini saya berusaha menahan linangan air mata, paling tidak hingga ku selesaikan goresan pena ini. Tapi mata ini berontak, balasannya air mata ku biarkan mengalir menganak sungai meluap melewati sudut mata.

Ayahku sayang…

Engkaulah satu-satunya lelaki yang mencintaiku tanpa syarat, yang setia menjaga dan menuntunku tanpa mengenal kata lelah. Engkau yang mengingatkan ketika saya terlupa, engkau yang yang mensehati ketika saya tersalah dan engkaulah yang menghiburku diwaktu sedih.

Masih teringat terperinci dalam rekaman ingatanku saat-saat indah dulu, ketika adzan shubuh berkumandang, engkau selalu menuntunku tuk tunaikan kewajiban kepada tuhan, ketika senja menyapa alam saya selalu duduk di pangkuanmu sembari mendengar lantunan ayat-ayat suci dari bibirmu, ketika malam menjelang engkau selalu menemaniku dan menceritakan dongeng hingga saya terlelap lugu. Ayah, semua kenangan indah itu terasa gres saja berlalu dan masih tampak konkret dalam bingkai rinduku. saya yakin ayah juga masih mengingat hari-hari indah yang tak terlupakan itu.

Ayahku tercinta…

Maafkan kenakalanku yang dulu, yang terlalu egois dan bertindak sesuka hati lantaran keinginanku yang tidak dapat ayah turuti. Di ketika itu saya iri kepada teman-teman yang lain, ketika melihat mereka dibelikan mainan oleh ayahnya, di ketika melihat mereka dimanjakan oleh kedua orangtuanya dan selalu menuruti apa yang mereka minta. Tapi kini telah saya sadari ayah, bahwa kehidupan kita tidak sama dengan mereka, yang orangtuanya yakni orang berdasi, sedangkan kita hanyalah gembel kehidupan yang selalu merajut asa tuk masa depan yang cerah.

Mungkin itulah sebabnya, ayah tidak dapat menuruti semua keinginanku yang berlebihan disaat itu. Sekali lagi maafkan anakmu yang pembangkang ini ayah, lantaran pada masa itu saya belum mengerti wacana arti sebuah kehidupan.

Ayahku sayang…

Aku sangat mengagumi pengorbanan dan perjuanganmu yang dulu, setiap hari banting tulang di ladang harapan. Di pagi buta, ketika semua orang masih terlelap dalam buaian tidur, engkau sudah berkemas-kemas menuju ladang harapan, dengan penuh asa engkau hentakkan kaki meninggalkan rumah, demi mencari sesuap nasi tuk penyambung nyawa di dalam kehidupan ini.

Ayahku tercinta...

Kini saya telah dewasa, sedang berusaha mengejar dan meraih impian di rantau orang. ananda akan selalu bersungguh-sungguh dalam mengarungi lautan ilmu di sudut kota bertuah ini. Yah, tidak jarang pula tubuh ini bermandikan keringat untuk mencari uang sekolah ketika hari libur, lantaran ananda tidak mau menyusahkan ayah.Aku tidak mau menambah beban derita yang ada di bahu ayah. Yah, Aku ingin suatu ketika nanti melihatmu tersenyum senang ketika melihat anaknya menggunakan toga diwaktu wisuda.

Hari ini telah saya buktikan yah, bahwa anak seorang buruh keidupan juga dapat mencicipi dingklik perkuliahan. Walaupun dulu semua orang kampung berkata kepadaku tidak mungkin dapat sekolah tinggi, berkat motivasi dari ayah saya dapat menjadi insan yang tegar dalam melewati semak belukar kehidupan.

Ayah, engkaulah idola di dalam hidupku, yang selalu memberi kekuatan di setiap waktu. Walaupun semua orang sedang mengidolakan Justin Bieber, akan tetapi tidak bagiku lantaran idolaku hanyalah ayah seorang, lelaki nomor satu dalam hidupku yang telah menciptakan saya menjadi insan sesungguhnya. Aku besar hati punya ayah yang sangat luar biasa.

Ayahku sayang…

Ananda tahu, wajah ayah yang dulu kencang kini telah mulai mengeriput, rambut ayah yang dulu hitam kini telah menguban, disebabkan pergeseran masa dan perputaran waktu. Yah, saya tahu keringat ayah di kampung sedang menantikan keberhasilan anaknya. Terimakasih yah, atas semua usaha dan pengorbanan yang telah ayah persembahkan bagiku. Terakhir terucap salam cinta dan doa dari ananda yang sedang melayari samudera ilmu di rantau. Semoga ayah selalu dalam lindungan Allah dan diberikan kekuatan olehNya, biar suatu ketika nanti kita dapat bertemu dan dapat mencicipi kebahagiaan hidup bersama-sama.

Mustopa Kamal Btr

Anakmu tercinta.

BIODATA PENULIS
  
Nama    : Mustopa Kamal Btr
TTL       : Bange, 28 Oktober 1992

Pendidikan :
  • SD Negeri 147545 Bange.
  • MTs Negeri Siabu.
  • Pesantren Musthafawiyah Purbabaru, Kab. Madina-Sumut.
  • UIN Suska Riau (sedang belajar)

Motto Hidup: "Long life Education"

Fb: Mustopa Kamal Btr, Hp: 0877 6751 7060

Prestasi:

  • Juara 1 Cerdas Cermat Bhs. Indonesia (2005).
  • Juara 3 Siswa Berprestasi (2004).
  • Juara 3 Kesenian  Tor-tor Mandailing [grup] SD (2005) se-Kec. Bukit Malintang.
  • Juara 1 Cipta Puisi (2012).
  • Juara 3 Baca Puisi Se-Pesantren (2011).
  • Juara 3 Syarhil Qur’an MTQ se-Kab. Madina-Sumut (2012).
  • Harapan 2 Syarhil Qur’an Menyambut Tahun Baru Islam se-Kab. Madina (2012).
  • Juara 1 Syarhil Qur’an MTQ Pesantren (2013).
  • Juara 2 Pidato Bahasa Indonesia Pekan Olahraga dan Seni se-kab. Madina (2012).
  • Juara 3 Pidato Bahasa  Indonesia Ulang Tahun 1 Abad Pesantren Musthafawiyah se-Kab. Madina (2012).
  • Harapan 2 Pidato Bahasa Arab Ulang Tahun NU se-Kab. Madina (2012).
  • Harapan 2 Pidato Bahasa Arab MTQ Pesantren Musthafawiyah (2013).
  • Peserta Festival Nasyid se-Kab.Madina (2013).
  • Pemenang Lomba Surat untuk Rektor semarak ulang tahun ke-20 LPM Gagasan UIN Sultan Syarif Kasim Riau (Januari 2014).

Thursday, 26 August 2021

Lebih Cendekia Cara Mempublikasikan / Menerbitkan Karya Tulis Gratis Secara Online Di Internet (Www.Salamedukasi.Com)

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia... Ada banyak sekali cara ataupun alternatif untuk sanggup mempublikasikan secara online karya tulis Anda, baik melalui media online maupun media cetak, namun di sini saya akan coba memperlihatkan solusi bagi sebagian Rekan-rekan yang mempunyai hobi menulis namun belum mendapat media sempurna untuk mempublikasikan karya tulis tersebut.

Oleh alasannya itu, dapatkan kesempatan dan daerah yang sempurna untuk mempublikasikan karya tulis dan artikel perihal pendidikan terbaik Anda melalui publikasi karya tulis online di web blog www.salamedukasi.com, blog personal ini memang saya dedikasikan sebagai media pembelajaran, silaturahmi, dan informasi seputar pendidikan tentunya.

Mengingat, pada masa globalisasi ini sering kita jumpai banyaknya isu-isu yang terus berkembang di masyarakat, tentu saja sebagian ada yang mendidik, dan sebagian lainnya cenderung destruktif bagi seluruh masyarakat khususnya bagi anak didik bangsa ini ke depannya. Dan berawal dari media online / internet.

Oleh alasannya itu dalam rangka ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cerdas pula, melalui artikel ini saya mengundang Sahabat-sahabat ataupun pengunjung yang ingin menampilkan karya tulisnya melalui media online / internet sanggup mengirimkan artikel anda pada email saya di alamat email publikasikaryatulis@yahoo.com. Mari kita gotong royong saling bersinergi dalam upaya perbaikan melalui karya-karya tulis yang konstruktif, aplikatif, dan efektif demi generasi-generasi muda bangsa yang terus lebih baik.

Pada intinya, saya akan menampilkan karya tulis dari Anda semua yang berafiliasi dengan hal-hal sebagai berikut :

1.      Materi bimbing dari guru-guru untuk seluruh jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta.
2.      Metode, teknik, tips, maupun triks mencar ilmu maupun mengajar yang efektif.
3.      Opini seputar pendidikan dari seluruh lapisan masyarakat.
4.      Tutorial singkat mengenai optimalisasi pemanfaatan TIK.
5.      Penekanan keagamaan dan etika bagi penerima didik.
6.      Pengenalan profil sekolah beserta visi-misinya, untuk di wilayah NKRI.
7.      Kisah-kisah inspiratif pendidikan yang nyata.
8.      Cerpen, Puisi, Pantun, ataupun karya-karya siswa lainnya.
9.      Pengumuman dan informasi penting pendidikan.
10.    dan lain sebagainya.

Untuk tulisan-tulisan yang telah dikirimkan melalui email publikasikaryatulis@yahoo.com, lampirkan juga photo ataupun dokumen terkait beserta profil singkat Anda sebagai penulis. Setelah file karya tulis Anda beserta lampiran terkait berhasil terkirim via email publikasi karya tulis online di atas. Selanjutnya segera beritahu saya melalui :

1.      Komentar via Facebook atau komentar ID pada kolom komentar di bawah artikel ini.
2.      Inbox melalui akun Facebook Admin.

Berikut ini aturan-aturan umum serta cara pengiriman artikel yang akan ditampilkan / dipublikasikan online gratis di internet melalui www.salamedukasi.com :

1.      Layanan penerbitan online karya tulis ini tidak dipungut biaya (gratis).
2.      Hak cipta tetap ada pada penulis artikel aslinya.
3.      Artikel / goresan pena belum pernah dipublikasikan online.
4.      Jumlah pengiriman artikel tidak dibatasi.
5.      File artikel dalam format word, untuk proses editing (optimalisasi SEO).
6.      Jumlah maksimal goresan pena dalam word sebanyak 3 lembar dengan ukuran kertas A4/F4 dan ukuran abjad 10 (Arial).
7.  Pengiriman artikel sanggup disertai dengan pas photo penulis, maupun photo-photo lainnya yang berafiliasi dengan tema tulisan.
8.   Pencantuman nama penulis (pengirim), profil singkat, ataupun photo penulis pada setiap artikel yang dipublikasikan, tergantung undangan penulis orisinil (pengirim).
9.      Aturan-aturan umum ini akan terus diperbaiki apabila diperlukan, demi kebaikan kita semua.

Untuk selanjutnya, saya tunggu goresan pena atau artikel dari karya tulis orisinil Anda, untuk segera dipublikasikan di web blog ini, dan biar tulisan-tulisan Anda semua nanti benar-benar bermanfaat untuk semakin menambah jaringan silaturahmi sehingga bertambah pula kebaikan serta manfaat bagi kita semua. Amiin… ...!

Saturday, 31 July 2021

Lebih Akil Skripsi Sarjana Pendidikan S-1 Pg Paud : Pengenalan Bentuk, Ukuran Dan Warna Melalui Bermain Playdough Pada Anak Usia Dini

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia... Dalam kesempatan kali ini saya akan skripsi sarjana pendidikan S-1 PG PAUD : Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain Playdough Pada Anak Usia Dini, selengkapnya sebagai berikut:

Skripsi ini diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan pemenuhan persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini.
Oleh : EMERENSIANA B.S.H. MAU (1001181039) 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA 2014

Skripsi ini telah disetujui dan dipertahankan di Depan Dewan Penguji  pada Tanggal 27 Juni  2014

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah diterima oleh panitia ujian sarjana Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang Dalam Ujian Skripsi Yang Telah Diselenggarakan Pada :

Hari/Tanggal     : Jumat, 27 Juni 2014    
Tempat             : Ruangan Kuliah PG-PAUD FKIP Undana
Dinyatakan       : LULUS

KATA PENGANTAR

Para pembaca sekalian, di tahun 2014 ini pemikiran dan perhatian kita terfokuskan pada dua insiden besar yakni insiden kampanye pilpres periode 2014-2019 dan tubruk piala dunia yang menguras tenaga, pikiran serta emosi. Para cendekiawan lebih tepatnya aktifis pendidikan harus lebih mengarahkan pikiran dan perhatian mereka kepada visi/misi capres dan cawapres yang berkaitan dengan dunia pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini.

Salah seorang bakal capres menegaskan visi/misinya wacana “revolusi mental”. “Revolusi mental” berarti proses perubahan daya pikir, interaksi sosial, emosional intelegensi serta penanaman abjad nilai budaya bangsa secara cepat bahkan mendadak. Perubahan mental tidak bisa terjadi secara mendadak bila tanpa “evolusi mental” dari dunia pendidikan.

Proses perubahan daya pikir, sosial emosional dan abjad tidak akan pernah bisa diubah oleh seorang presiden maupun wakil presiden dalam waktu lima tahun atau lebih kecuali seorang guru pendidikan anak usia dini. Sesungguhnya hal urgen yang terlupakan oleh para politikus ini yaitu “revolusi mental hanya akan dan niscaya akan terjadi apabila dibuat semenjak usia dini” tetapi sayangnya belum pernah terpikirkan untuk menyediakan infrastruktur dengan menyiapkan atau memperhatikan tenaga pendidik anak usia dini yang menunjang tercapainya revolusi mental itu sendiri.

Pendidikan anak semenjak dini wacana karakter, nilai-nilai luhur, interaksi sosial, kreatifitas, daya juang, melaksanakan percobaan, dan melaksanakan penemuan (inovasi) merupakan dasar revolusi mental sebuah generasi baru.

Berkaitan dengan “revolusi mental” lebih tepatnya “evolusi” mental, penelitian ini ditujukan untuk mengarahkan perhatian anak dalam “menciptakan (inovasi)”  sesuatu yang dibutuhkan untuk mencapai perkembangan kognitif mereka. Menciptakan berarti anak melaksanakan percobaan dan menemukan hal gres meskipun sangat sederhana. Daya penemuan akan meminimalisir kecenderungan perilaku konsumerisme dalam diri anak.

Hal sekecil apapun yang dilakukan pada usia dini akan melahirkan pemikiran kreatif untuk melaksanakan penemuan terhadap sesuatu yang telah ada pada dikala mereka memasuki usia produktif, yang pada akibatnya “mental konsumerisme” berkembang menjadi “mental penemuan dan kreasi”.

Skripsi ini akan mengulas bagaimana anak melaksanakan penemuan terhadap sesuatu yang telah dikenalnya dan tentunya sanggup memperlihatkan pengalaman berharga bagi perkembangan kognitif anak yang terfokus pada kemampuan mengenal bentuk, ukuran dan warna.

Senada dengan pandangan Vigotsky (dalam Montolalu, 2008) bahwa bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian, dan percobaan untuk memperoleh pengetahuan, maka pengalaman pembuatan PlayDough dan bermain PlayDough, sanggup membantu anak mengenal aneka macam macam konsep bentuk, ukuran dan warna secara mendalam lewat percobaan sederhana.

Semoga skripsi ini sanggup memperlihatkan citra isu yang mendalam bagi para pembaca bahwa PlayDough merupakan media pembelajaran yang melahirkan kreatifitas dan motivasi mencar ilmu dalam diri anak khususnya dalam pengembangan aspek kognitif.

Kupang, Juni 2014

Penulis

ABSTRAK

Skripsi Emerensiana B. S. H Mau Tahun 2014 dengan judul “Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain PlayDough Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Tk Nasrani Dorkas Nunhila Kupang” menitik beratkan pada problem “bagaimana proses  Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain PlayDough Pada Anak Usia 4-5 Tahun di Taman Kanak-kanak Nasrani Dorkas Nunhila Kupang?” dengan tujuan penelitian yakni untuk menggambarkan secara terperinci dan mendalam wacana proses pengenalan bentuk, ukuran dan warna melalui bermain playdough pada anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak kristen dorkas nunhila kupang.

Metode penelitian yang dipakai yaitu pendekatan kualitatif dengan memakai teknik observasi dan wawancara. Untuk mendapatkan data dan isu akurat yang dibutuhkan, peneliti memilih seorang anak sebagai informan utama. Dalam proses pengabsahan data, peneliti memakai triangulasi teknik dengan memakai data dokumen sebagai data pembanding, triangulasi sumber memakai data hasil wawancara orangtua dan guru dengan data observasi dan wawancara pada anak serta memakai triangulasi teori.

Penelitian berlangsung di Taman Kanak-kanak Nasrani Dorkas Nunhila Kupang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa proses pengenalan bentuk, ukuran dan warna melalui bermain PlayDough sanggup memperlihatkan bantuan penting bagi perkembangan kognitif anak yakni kemampuan mengenal bentuk, ukuran dan warna. Selain itu, melalui bermain PlayDough daya konsentrasi, minat, ketekunan dan rasa ingin tahu anak terus berkembang melalui pengalaman eksklusif yang dialami oleh anak, juga kemampuan motorik halus dan bahasa anak turut berkembang selama proses bermain PlayDough.

Emerensiana B. S. H Mau Thesis 2014 with the title “The Introduction Of The Shapes, Sizes And Colors Through Play Pladough On Early Childhood (Case Studies In Christian  Kindergarten Dorcas Nunhila Kupang) with emphasis on the problem of “how the process of introduction of the shapes, sizes and colors through play playdough on early childhood in christian kindergarten dorcas nunhila kupang?” with a research purpose, namely to describe clearly and deeply about the process of introduction of shapes, sizes and colors through paly playdough on on early childhood in christian kindergarten dorcas nunhila kupang.

The method used the qualitative approach using observation, and interviews as a data collector field. In the process pengabsahan data, researchers using triangulation techniques using data document as data comparison, using data sources triangulation interviews parents ad teachers by the results of observation and interviews as well as using triangulation theory.

The study took place in a christian kidergarten dorcas nunhila kupang. The result showed that the indtroduction of shapes, sizes and colors through play pladough can make an important contribution of the development of the child’s cognitive ability to recognize shapes, sizes and colors. In addition, through play pladough concentration, interest, perseverance an curiosity of children continue to grow through direct experience suffered by children, also fine motor skill and co-developing chlidren’s language during play playdough.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang diarahkan untuk menyebarkan seluruh ranah perkembangan anak, baik aspek nilai moral agama, fisik motorik, bahasa, kognitif maupun sosial emosional. Kelima aspek perkembangan ini harus dikembangkan dan ditingkatkan secara seimbang dan berkesinambungan lantaran intinya kelima aspek ini saling bekerjasama satu sama lain.

Anak usia 4-5 tahun merupakan rentang masa peka (golden age). Anak-anak mulai sensitif untuk mendapatkan aneka macam upaya pengembangan seluruh potensi mereka. Masa peka yaitu masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan yakni lingkungan pendidikan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam menyebarkan potensi yang ada dalam diri anak. Oleh lantaran itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak semoga pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Karena anak usia 4-5 tahun berada dalam rentang usia peka, maka seluruh aspek pengetahuan anak perlu dikembangkan. Piaget (dalam Khasanah.2013) menyampaikan bahwa pengetahuan terdiri dari tiga jenis, yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan kecerdikan matematika dan pengetahuan sosial. Pengetahuan fisik merupakan jenis pengetahuan yang mencakup objek-objek di alam dan karakteristiknya, ibarat warna, berat, ukuran, tekstur dan segala sesuatu yang sanggup diamati dan berkaitan dengan benda. Pengetahuan fisik disebut juga pengetahuan nyata. Hal ini berkaitan dengan benda-benda yang sanggup dilihat, diraba, disentuh, didengar, dan dirasa. Pengetahuan fisik yaitu pengetahuan yang berkembang pada anak. Pengetahuan ini yaitu pengetahuan dasar lantaran merupakan pembentuk utama dari struktur mental yang mendasari bentuk-bentuk pengetahuan lain. Pengetahuan fisik berkembang melalui pengamatan anak dan interaksi anak dengan objek dan lingkungan.

Sujiono (2005) menyatakan bahwa pengembangan pengetahuan fisik dalam mengenal konsep bentuk, ukuran dan warna mempunyai beberapa indikator yang hendaknya dicapai anak yaitu:

1)      Memilih benda berdasarkan warna, bentuk dan ukuran,
2)      Mencocokkan benda berdasarkan warna, bentuk dan ukuran,
3)  Membandingkan benda berdasarkan ukurannya (besar-kecil, panjang-lebar, tinggi-rendah),
4)      Mengukur benda secara sederhana,
5)      Mengerti dan mengunakan bahasa ukuran ibarat besar- kecil, tinggi-rendah, panjang-pendek dan sebagainya,
6)      Menciptakan bentuk dari penggalan geometri,
7)      Mencontoh bentuk-bentuk geometri,
8)      Menyebut, mengambarkan dan mengelompokkan segi empat,
9)      Menyusun menara dari delapan kubus,
10)  Mengenal ukuran panjang berat dan isi serta menjiplak pola dengan empat kubus.

National Council of Teacher of Mathematics (NCTM,2000, dalam Carol & Barbara. 2008)  mengemukakan bahwa pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna merupakan standar anak memahami pengetahuan dasar matematika. Kegiatan penggolongan (klasifikasi), mengelompokan, dan membandingkan benda-benda yang serupa atau mempunyai kesamaan merupakan salah satu proses penting untuk menyebarkan konsep bilangan.

Berdasarkan pandangan tersebut, sanggup dipahami bahwa selain pengetahuan yang fundamental dalam pembentukan mental bagi pengetahuan lainnya, Kemampuan anak mengenal dan membedakan sesuatu objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna pun sanggup memperlihatkan potensi berkembangnya kecerdasan kecerdikan matematika anak.

Fakta yang ditemukan di lapangan pada waktu acara PPL selama kurang lebih 6 bulan, peneliti menemukan bawah umur yang berusia 4-5 tahun mempunyai kemampuan mengenal dan membedakan aneka macam objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna  masih berada pada taraf yang sangat minim bila bertolak dari karakteristik perkembangan kognitif anak seusia mereka. Mereka bisa mengidentifikasi benda berdasarkan bentuk, ukuran dan warna apabila mereka menjawab bersama sobat lain (hanya mengikuti sobat lain) tetapi ketika diberi kesempatan untuk menjawab sendiri bawah umur tertentu belum bisa menjawabnya dengan benar.

Dari anak berjumlah 13 orang, hanya sekitar 3 orang (23,07%) yang bisa menjawab dengan benar dan sekitar 10 orang anak (76,92%) belum bisa mengenal dan membedakan bentuk, ukuran dan warna. Keadaan tersebut disebabkan oleh kurangnya kreatifitas guru untuk membuat media pembelajaran yang menarik bagi anak.

Guru hanya mengarahkan anak untuk bermain bebas di setiap sentra, dan bermain tanpa adanya suatu pengawasan dalam bentuk  keikutsertaan  pada dikala anak bermain semoga guru sanggup mengeksplor pemahaman anak wacana hal yang akan dikembangkan melalui pertanyaan-pertanyaan eksplorasi. Selain itu, guru belum bisa memodifikasi media khususnya media PlayDough untuk menyebarkan kemampuan anak mengenal bentuk, ukuran dan warna yang ternyata media PlayDough sangat sanggup dikreasikan untuk memperlihatkan suatu pemahaman kepada anak. 

Pengenalan bentuk, ukuran dan warna sanggup dilakukan melalui acara bermain. Dunia anak merupakan dunia bermain dan anak mencar ilmu melalui bermain, maka guru sanggup memperkenalkan bentuk, ukuran dan warna kepada anak tanpa harus mencari-cari metode pembelajaran yang menyusahkan bagi anak. Bermain merupakan media yang amat diharapkan untuk proses berpikir lantaran menunjang perkembangan intelektual melalui pengalaman yang memperkaya cara berpikir anak-anak. Penyelidikan Vigotsky (dalam Montolalu, 2008), membenarkan adanya hubungan erat antara bermain dengan perkembangan kognitif.

Bermain memberikan  kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian, mengadakan percobaan untuk memperoleh pengetahuan. Bermain juga membawa kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian-penelitian, mengadakan percobaan dan menumbuhkan daya imajinasi melalui acara membentuk benda-benda ibarat hewan sesuai imajinasi anak memakai tanah liat, PlayDough ( plastisin) dan balok (Montolalu, 2008).

Salah satu kemampuan kognitif yang sanggup dikembangkan melalui acara bermain yakni kemampuan mengenal benda berdasarkan bentuk, ukuran dan warna memakai PlayDough.

PlayDough merupakan salah satu media yang sempurna untuk membantu anak mengenal dan membedakan objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna. Melalui bermain playDough, anak membentuk aneka macam objek dengan ukuran yang berbeda, anak sanggup memanipulasi aneka macam bentuk geometris memakai campuran PlayDough, serta anak sanggup mengenal jenis warna yang terdapat dalam campuran PlayDough  tersebut.

Dengan membentuk aneka macam objek berdasarkan bentuk, ukuran dan warna, anak sanggup menyebarkan daya pikir yakni daya imajinasi yang melahirkan kreatifitas dari dalam diri anak. US Departemen of Health and Human Services,2001 (dalam Swartz,2005), mengemukakan bahwa melalui bermain PlayDough, anak sanggup menyebarkan kemampuannya di aneka macam aspek ibarat sosial emosional, bahasa, seni kreatifitas, dan kognitif (matematika yang berkaitan dengan pengenalan benda berdasarkan bentuk, ukuran, dan warna).

Pengalaman dengan bermain PlayDough (Plastisin) memungkinkan anak untuk bereksperimen dan bereksplorasi dengan cara yang bervariasi. Melalui bermain PlayDough, anak sanggup mengambarkan dan meningkatkan minat serta kesadaran angka dan menghitung sebagai sarana untuk memecahkan problem dan memilih kuantitas. Anak juga mulai memakai bahasa untuk membandingkan jumlah benda dengan istilah ibarat lebih, kurang, lebih besar, kurang dari dan sama dengan.

Selain itu anak juga sanggup menyebarkan kemampuan menggabungkan, memisahkan benda sesuai jumlah, sanggup membedakan benda yang mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda serta anak sanggup membangun pemahaman wacana letak suatu benda ibarat di atas, di bawah, di depan, di belakang, di luar dan di dalam (Swartz,2005). Dari ulasan di atas sanggup menjembatani pikiran kita bahwa bermain PlayDough cukup urgen dalam menyebarkan kemampuan anak mengenal konsep bentuk, ukuran dan warna.

Dengan adanya fenomena yang terungkap serta memahami begitu bermanfaatnya acara bermain PlayDough bagi kemampuan anak mengenal bentuk, ukuran dan warna, maka peneliti terinspirasi untuk melaksanakan suatu penelitian dengan judul  “Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain PlayDough Pada Anak Usia 4-5 Tahun di Taman Kanak-kanak Nasrani Dorkas Nunhila Kupang”.

Download skripsi wacana Pengenalan Bentuk, Ukuran dan Warna Melalui Bermain Playdough Pada Anak Usia Dini (Studi Kasus Di TK. Nasrani Dorkas Nunhila Kupang), silahkan download di sini… Semoga bermanfaat dan terimakasih…

Pengirim Karya Tulis : rinche.halle@yahoo.co.id

Monday, 12 July 2021

Lebih Arif Pendidikan Islam Pesantren - Menuju Pendidikan Pesantren Berspektif Gender

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Ditinjau sudut sosio-historisnya, banyak para pakar yang menyatakan bahwa Institusi pesantren lahir sebagai salah satu wujud pemberontakan kepada para imperialisme barat atas praktek diskriminasi terhadap keberadaan masyarakat pribumi. 

Tidak hanya itu, iapun lahir dari kesadaran penuh atas ghirahnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperjuangkan kebebasan dari segala bentuk tirani penjajahan, entah penjajahan berupa fisik maupun no-fisik. Sehingga Cak Nur (sapaan dekat Nurcholish Madjid) mengistilahkan pesantren sebagai intitusi indigenous, yakni institusi pendidikan yang memiliki makna orisinil Indonesia.

Dalam perjalanannya, pesantren tidak jarang dicap sebagai institusi pendidikan tradisionalis, yang memiliki kecenderungan ortodoksi dan menolak modernitas. 

Stempel tradisionalis tersebut lambat laun ternyata berimplikasi berpengaruh terhadap dinamika pergumulan pesantren sebagai kiprahnya dalam menyebarkan transformasi pendidikan. Sehingga demikian, disadari atau tidak stempel tradisionalis itu telah membawa angin segar bagi pesantren untuk tetap survive sampai ketika ini.

Berdasarkan stempel tradisionalis tersebut, yang pada jadinya membawa pesantren untuk terus berinstrospeksi dan menata keberadaanya. Bagi pesantren yang memiliki keterbukaan dan progresifitas, stempel tradisionalis dijadikan sebagai motivasi untuk kemudian menjadikan pesantren lebih progresif sesuai dengan kebutuhan zaman. Lain sebaliknya, bagi pesantren yang cenderung tertutup dan represif, stempel tradisionalis telah menjadikan dorongan untuk semakin menonjolkan identitas tradisionalisnya dengan menolak sejumlah usulan modernitas.

Lepas dari itu, perhatian besar tertuju pada pesantren yang memiliki kecenderungan terbuka dan mendapatkan modernitas. Yakni menyebarkan proses pendidikan yang tetap melestarikan tradisi dan khazanah-khazanah Islam klasik disatu sisi dan mendapatkan modernitas disisi lain. Keterbukaan ini bukan tanpa sebab, kaidah klasik pesantren menyatakan “al-Muhafadhotu ‘ala Qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (Menjaga khazanah klasik dan mendapatkan modernitas yang lebih baik). Prinsip keterbukaan dan progresifitas lain yang sesuai dengan kaidah diatas misalkan;  “Kaifa nataqaddam duuna ‘an natakhalla ‘an al-Turats” (Bagaimana kita sanggup maju dengan tanpa membongkar tradisi [khazanah pesantren]).

Prinsip menjaga khazanah klasik ini ditunjukkan dengan menjadikan khazanah kitab kuning sebagai tumpuan utama dalam pesantren. Namun problematikanya ialah sejauh mana pesantren sanggup mendudukan kitab kuning secara proporsional, terutama, jikalau dihadapkan dengan konteks kekinian. Problematika tersebut misalnya, ibarat apa yang tertera dalam banyak kitab kuning.

Dalam kitab Uqud al-Lujain contohnya, sehabis dilakukan penelian mendalam memakai metodologi ta’liq wa takhrij al-Hadits oleh Ibu Sinta Nuriyah Wahid dan kawan-kawan, tidak sedikit wacana-wacana yang tertulis dalam kitab itu, berkecenderungan bias gender. Dalam penelitiannya itu ditemukan 26 hadits lemah (dla’if) dan 35 hadits palsu (maudlu’) dari sekitar 120-an hadits dalam kitab ‘Uqud al-Lujjayn.

Tidak hanya, selain lantaran urusan pesantren begitu Kiai oriented, tumpuan yang dipelajarinya pun mendukung hal-hal yang belum mencerminkan keadilan dan kesetaraan gender. Sebut saja misalkan sejumlah kitab-kitab tumpuan wajib hampir seluruh pesantren khususnya di Jawa, kitab-kitab yang berpotensi bias gender selain Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zujain, karya Syekih Nawawi Banten, ada juga kitab Safinah al-Naja fi Maa Yajibu ‘alaa Abdi li Maulaahu, karya Syaikh Salim bin Abdullah bin Samir, Qurrah al-‘Uyun al-Nikah al-Syar’I bi Syarh Nazh Ibnu Yanun karya Abu Muhammad Maulana al-Tihami, Adab al-Mu’asyarah bain al-Zaujain li Tashil al-Sa’adah al-Zawjiyyah al-Haqiqisiyyah karya Ahmad bin Asymuni, dan lain sebagainya.

Berdasarkan penelitian, kaidah dan prinsip keterbukaan tersebut, pesantren seharusnya membuka mata lantaran ia justru sanggup memacu progresifitas pesantren yang akan menunjukkan donasi positif dalam mewujukan pendidikan bagi wanita (santriwati) di pesantren yang berperspektif gender. Memberikan kebebasan dan keleluasaan ruang gerak bagi wanita yang telah sekian usang didiskreditkan keberadaannya.

Bahwa wanita (santriwati), (entah disadari atau tidak) atau sebagaimana sejarah dunia mencatat selalu dipersepsikan sebagai insan bernomor dua dibelakang laki-laki, separuh harga dari laki-laki, yang keberadaannya selalu dipandang rendah dan diskriminatif.  Perempuan hanya dijadikan objek bukan subjek sebagaimana laki-laki. Perempuan dihentikan untuk bersuara lantang dikancah publik. Ia dipaksa untuk hanya berdomisili diranah domestik; seputar dapur, sumur, dan kasur.

Perempuan di dzolimi tidak hanya menurut budaya patriarkhi atau norma-norma sosial belaka, melainkan pula melalui sejumlah interpretasi literal para Kiai atas teks-teks keagamaan yang (meskipun) bersumber dari al-Qur’an, hadits, maupun kitab-kitab klasik (kitab kuning). Teks yang terakhir ini pulalah yang telah menjadikan budaya patriarkhi begitu menempel di pesantren.

Jika realitas bias gender dalam tumpuan pesantren tersebut tidak segera dilakukan reinterpretasi, maka tidak menutup kemungkinan pesantren akan kehilangan nilai-nilai humanis dan keadilan yang semenjak dulu telah menempel dalam badan pesantren. Kendati demikian, kita patut berbangga hati atas kemunculan Kiai “nyentrik” sekelas KH. Husein Muhammad, Kiai sarungan asal Arjawinangun ini (kalau saja perjuangannya sanggup direnungkan sejenak) telah menunjukkan dampak terhadap pergulatan diskursus kesetaraan gender, khususnya bagi kalangan pesantren.

Meneladani dan melanjutkan (mengistiqamahkan) usaha kontekstual KH. Husein Muhammad ialah keharusan. Oleh alasannya ialah itu, oleh Kiai-kiai (pesantren manapun) secepatnya sanggup mengilhami serangkaian tafsir bahwa Islam ramah repempuan, ini berkhasiat (terutama) dalam pemenuhan pendidikan berperspektif keadilan gender para santri (terutama santriwati) nya. Tiada lain ialah melalui serangkaian pemahaman (pengajian) dan gerakan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender dalam sistem pendidikan pesantren, minimalnya dengan cara melaksanakan interpretasi ulang terhadap kitab-kitab klasik yang bias gender itu. Karena sejatinya diskursus kesetaraan gender berbicara pada ranah sosio-kultural dalam menyebarkan aspek feminitas (feminity/nisaiyah) perempuan, bukan bermaksud mengungguli pria Wallahu ‘alam.


Sunday, 4 July 2021

Lebih Bakir Ciri-Ciri / Kriteria Penulisan Yang Baik Untuk Dipublikasikan Di Media Online (Internet)

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia... Media visual berupa goresan pena menjadi salah satu bab penyampaian pesan antara seorang penulis dengan pembacanya. 

Agar efektifitas dalam komunikasi optimal, diharapkan beberapa syarat yang sanggup berlaku bukan hanya untuk penulisan, namun di sini akan saya ulas apa saja kriteria goresan pena yang baik untuk dipublikasikan di media online, baik melalui situs jejaring sosial, email, blog, website, iklan, dan lain sebagainya.


Kriteria penulisan yang baik, berkualitas, serta efektif untuk dipublikasikan di media online di antaranya ialah :

1.   Buat judul dengan goresan pena kapital dengan ukuran karakter yang lebih besar dan lebih tebal, ini penting dalam penglihatan pembaca, alasannya ialah dengan penonjolan (highlight) tersebut, kata kunci ataupun tema utama dalam goresan pena akan kuat kasatmata bagi pembaca untuk terus fokus pada pembagian terstruktur mengenai isi-isinya.

2.   Hindari kependekan kata, contohnya dan lain-lain, tapi dituliskan dll. Ini akan berefek tidak baik pada hasil terjemahan (translate) ke bahasa absurd (selain bahasa Indonesia).

3.   Penyesuaian kata sambung antar kalimat, awal paragraf / alinea baru, dan seterusnya benar-benar mengakibatkan satu rangkaian yang saling terkait serta berurutan, runtut, jelas, dan terstruktur / sistematis.

4.   Penempatan alinea, sub bahasan, dan bab goresan pena yang yummy dipandang mata, menyerupai jarak antara alinea, idealnya harus diberi 1 baris kosong sebagai penggalan antar alinea / paragraf, termasuk juga rata kanan kiri isi goresan pena untuk memudahkan pembaca dalam membedakan mana kalimat yang masih bersambung, dan mana kalimat penutupnya.

5.   Penggunaan kosa kata serta tata bahasa yang semudah mungkin dipahami oleh pembaca, gunakan istilah absurd maupun kata-kata beragam seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari salah paham / tafsir / arti yang pada balasannya memilih pemahaman yang sama atau tidaknya dengan maksud penulis dalam mewujudkan isi pikiran ataupun perasaannya dalam goresan pena tersebut. Karena intinya goresan pena dipublikasikan salah satu tujuan utamanya ialah untuk menyamakan pemahaman antara penulis dan pembaca.

Selain 5 hal di atas, tentu masih ada lagi beberapa syarat yang diharapkan untuk menghasilkan karya tulis yang benar-benar berkualitas dan efektif dalam penyampaian pesan ataupun komunikasi khususnya untuk goresan pena yang dipublikasikan melalui dunia maya yang sudah “mendunia” ini. Selamat berkarya Sahabat…! ...!

Lebih Cerdik Buku Sebagai Basis Pembelajaran

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Dalam kesempatan yang baik ini, admin akan publikasikan artikel khusus yang telah ditulis dan dikirmkan oleh salah satu pendidik yang juga sekaligus mendapat kiprah perhiasan sebagai pengawas sekolah dari tempat Sumatera Barat yang berjudul Buku sebagai basis pembelajaran serta kunggulannya, selengkapnya sebagai berikut :

Buku dan keunggulannya

Oleh : Syafruddin, S.Pd. NIP. 195612181980101001  
(Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Pariaman)       

Buku merupakan alat untuk mencapai kemajuan. Di dalamnya tersimpan banyak sekali ilmu. Ilmu yang tersimapan di dalam buku itu bila digali  ia merupakan sumber mata air ilmu pengetahuan. Mata air yang mengalir dalam buku ini akan sanggup membersihkan karat-karat kebodohan. Masa depan pencinta buku akan lebih cerah dan pikirannya akan bertambah cerdas.

Tentu saja yang kita maksudkan dengan buku yang menjernihkan dan mencerdaskan itu yaitu buku yang ditulis orang-orang yang kredibel dalam bidangnya. Orang yang merasa bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu dan pemebentukan karakter bangsa. Orang yang bersedia berkorban demi bangsa dan kecerdasannya. Orang yang menginginkan bangsanya mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dari orang ini akan mengalir ide-ide segar untuk merubah keadaan bangsa ke arah lebih baik. Mata air wangsit ini mengalir ke setiap orang yang haus akan ilmu. Dengan istilah lain buku yang dilahirkan oleh orang-orang kredibel yaitu buku yang sarat dengan gizi ruhani. Bahasanya komunikatif,kalmatnya tertata dengan baik.

Buku yang kaya dengan gizi ruhani akan sanggup menumbuh kembangkan kehidupan seseorang.  Ruhani yaitu cuilan penting kehidupan insan yang harus disirami dan diberi makan. Ruhani yang kering dan gersang akan membawa insan kepada keresahan dalam mencapai tujuan hidup. Dengan membaca buku-buku yang sarat gizi ruhani kehidupan akan menjadi dinamis, optimis dan bercahaya.

Amat disayangkan kiprah buku yang demikian besar dan penting itu,tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Budaya membaca belum tumbuh secara subur dalam kehidupan masyarakat. Inilah penyebab kita  tertinggal terus dar negara-negara lain. Sekolah sebagai tempat pembinaaan generasi muda dan tempat tumbuhnya benih-benih pemimpin untuk masa datang  juga belum  banyak geliatnya untuk menumbuhkan minat baca. Bukan lantaran kekurangan buku. Justru dikala ini sekolah-sekolah sudah punya koleksi buku yang lumayan. Apalagi dengan dianggarkannya biaya pemeblian buku memlalui dana BOS  Buku.

Permasalahan yang kita lihat untuk menumbuhkan budaya baca yaitu kurangnya motivasi dari pendidik. Guru-guru kita belumlah insan yang haus ilmu pengetahuan. Sebagian mereka mengandalkan ilmu yang didapat dari perguruan tinggi tinggi . Seperti dikatakan Penyair Taufik Ismail mereka rabun membaca dan pincang menulis. Bagaiaman orang yang rabun untuk sanggup membimbing? Bagaiamana orang yang pincang sanggup berpacu untuk mencapai estafet.

Permasalahan lain untuk menumbuhkan minat baca yaitu kasus buku yang ada di perpustakaan itu sendiri. Buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah belumlah ditulis secara baik. Hendaknya buku-buku yang di drop ke sekolah itu yaitu buku yang menggerakkan dan buku yang bergizi. Buku-buku yang menggerakkan yaitu buku yang apabila dibaca oleh seorang membuat  orang itu menjadi cerdas.bertambah ilmunya.

Dengan membaca buku yang menggerakkan seseorang tidak akan berhenti membaca satu buku saja, beliau akan berusaha mencari dan mencari lagi ilmu yang dibutuhkannya. Makara seseorang yang  tercerahkan dengan buku,tanpa disuruh beliau akan berusaha sendiri untuk mencari buku-buku yang lebih baik gizinya dari buku yang telah dibacanya. Buku yang bergizi yaitu buku yang membawa peningkatan wawasan seseorang. Ruhani seorang yang membaca  buku yang bergizi akan tumbuh dan berkembang secara baik. Ruhani yang tumbuh dan berkembang secara baik inilah yang menaikkan taraf dan kualitas hidup seseorang.

Kelemahan-kelamahan Dalam Penulisan Buku
     
Kalau buku yang dibaca itu tidak buku yang bergizi dan tidak menggerakkan pikiran, siswa akan menghentikan bacaannya dan meningggalkan perpustakaan. Inilah dampak negatif dari buku-buku yang di drop ke sekolah tanpa seleksi yang ketat.

Di sekolah, buku-buku yang menggerakkan dan bergizi  ini belum banyak kita temukan. Buku yang di koleksi  perpustakaan sekolah sebagian hanya memperdayakan siswa bukan yang memberdayakan siswa.Begitu juga di perpustakaan umum. Sebagian besar buku-buku yang ditulis oleh para pakar itu belum bisa menggerakkan dan  memberdayakan masyarakat pembaca. Artinya buku koleksi di perpustakaan itu,sebagaian besar ditulis secara tergesa-gesa tanpa memenuhi unsur daypikir dan logika Idenya manis tetapi tidak tertata dan tidak disampaikan secara komunikatif.

Kalimatnya panjang-panjang sehingga sulit memahaminya dan menciptakan siswa menjadi bosan. Inilah penyakit penulisan buku yang  belum teratasi. Buku-buku lebih banyak mencapai  pemenuhan sasaran dari pada kualitas dan segi manfaatnya. Untuk ini barangkali dibutuhkan satu tim yang bisa untuk menyeleksi buku-buku yang akan di drop kesekolah-sekolah. Atau berilah kebebasan  ke sekolah wacana buku-buku apa yang dibutuhkannya. Jangan banyak pendiktean wacana buku-buku koleksi sekolah.

Buku-buku yang dijadikan koleksi perpustakaan itu hendaknya buku-buku yang diadaptasi dengan kebutuhan sekolah. Kalau buku penunjang hendaknya memang  sanggup dijadikan penambah wawasan. Kalau buku wajib hendaknya  sanggup menuntun  dalam  pelaksanaan tugas. Jangan buku petunujuk guru  tidak relevan dengan pegangan siswa. Yang namanya buku petunjuk itu harus terperinci operasional, terperinci petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. 

Kurikulum 2013 diharapkan sanggup merubah contoh pikir guru dan siswa dalam mencar ilmu dan bekerja dalam melakukan tugas. Namun impian yang  ditumpangkan  pada kurikulum 2013 ini masih terkendala dengan buku pegangan guru dan siswa. Buku pegangan guru dan buku pegangan siswa belum relevan.  Buku pegangan guru belum memperlihatkan petunjuk konkrit wacana  tugas dan materi yang diberikan.  Buku pegangan siswa belum sepenuhnya sanggup membimbing siswa untuk bekerja secara efektif. Contohnya buku pegangan  guru dan siswa  dalam bidang studi bahasa Indonesia (mungkin berlaku juga bagi buku pegangan bidang studi lain).

Buku pegangan guru tidak memperlihatkan petunjuk yang terperinci kepada guru bahasa indonesia wacana apa yang harus dikuasai siswa setiap  pertemuan. Akhirnya guru mengajar kembali kepada cara usang dengan metode ceramah. Padahal  dalam pembelajaran bahasa Indonesia (juga setiap bidang studi),setiap pertemuan, guru sanggup memebrikan pemebelajaran dengan pendekatan ilmiah.

Pendekatan ilmiah meliputi; mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan dan mencipta. Dalam petunjuk guru ini tidak dijelaskan secara mendetail. Kalau guru diberi bimbingan dengan terperinci melalui  buku maka pembelajaran akan menarik bagi siswa. Siswa akan sanggup berkembang secara baik . Sebab dalam setiap tatap muka, guru menyebarkan potensi setiap anak.

Berikanlah buku yang baik kepada siswa bila kita menginginkan siswa  berkembang berdasarkan potensinya.  Suguhkan kepada siswa buku yang bergizi  maka suplai ini akan menyehatkan ruhani siswa. Berikanlah kepada siswa buku yang menggerakkan maka potensi membacanya akan  berkembang dengan baik. Jika potensi membacanya berkembang, beliau akan merasa haus dengan buku. Siswa yang haus akan bacaan,akan berusaha mencari materi bacaan dimana dan ke mana saja. Sebab beliau sudah mencicipi bahwa materi bacaan itu yaitu kebutuhannya yang sudah tidak sanggup ditunda. Jika kita sudah sanggup menyebarkan potensi membaca anak di sekolah beberapa tahun mendatang,masyarakat  Indonesia  akan meningkat budaya bacanya.

Uraian Teori

Orang-orang sukses  tidak bisa melepaskan kehidupannya dari buku.  Dengan buku kesulitan menjadi mudah. Melalui membaca buku kualitas hidup bisa ditingkatkan. Butir-butir mutiara yang  dirangkai dalam buku, sanggup memperlihatkan cahaya kehidupan kepada pembacanya. Kalau ingin membangun Indonesia yang lebih cerah di masa depan semua kita terutama yang peduli dengan nasib bangsa yang akan datang, harus ikut menggenjot semoga bangsa ini gemar membaca. Kalau ingin mengejar ketertinggalan dari bangsa lain resepnya  adalah dengan banyak membaca buku. Kita harus melibatkan diri bagaimana supaya budaya baca ini sanggup ditingkatkan. Kita harus memasang kerikil bata semoga bangunan bangsa ini sanggup lebih kokoh. Kekokohan ini akan bisa tegak dengan membaca.  Sikap  inilah yang  harus ditaamkan  bagi orang yang menginginkan semoga bangsa ini tidak selalu pada rangking terbawah dalam segala yang negatif. Ini memerlukan kerja keras. Usaha ini tidak mengenal  lelah dan harus bersifat rutin dan berkelanjutan.

Shindunata  dalam memberikan  pengantar  buku Hernowo “Main-main dengan Teks “ menuliskan: ”membaca dan menulis bukanlah soal  metode atau teknik melainkan soal hidup dan keberanian”. Dari  kutipan ini sanggup kita menarik nilai inspiratif, membaca buku itu yaitu soal kebutuhan hidup. Orang yang  berani hidup harus banyak membaca. Jika ingin hidup lebih baik beranikan diri untuk banyak membaca.  Jangan dihanyutkan oleh kasus kehiduan. Orang yang hanyut dan larut dalam dilema hidup yaitu orang yangkurang membaca.

Terutama membaca kehidupan itu sendiri. Kemudian orang yang banyak membaca niscaya sanggup mengatasi kesulitan hidup. Apalagi kalau banyak membaca buku-buku wacana petunjuk kehidupan. Kemudian apa hubungannya dengan menulis? Orang yang banyak  membaca niscaya bisa banyak menulis. Sebab   tulisan yang dilahirkan penulis berasal dari buku yang dibaca. Beban kehidupan yang berat bisa diringankan dengan membaca dan menuliskannya.

Fuad Hasan dalam memperlihatkan pengantar buku “Bukuku Kakiku”: (editor  St.Sularto,dkk) mengatakan:” Dalam perjalanan sejarah masyarakat manusia  umumnya,membaca merupakan fungsi yang sangat penting artinya bagi kemajuan tingkat  peradaban manusia. Kiranya beralasan untuk menyatakan bahwa tingkat perkembangan manusia  berjalan seiring dengan mantapnya budaya baca”. Dari pendapat ini sanggup kita lihat bahwa untuk merubah contoh pikir pemalas menjadi rajin yaitu dengan membaca .Untuk meningkatkan perilaku pesimis menjadi optimis yaitu dengan membaca. Kalau kita lihat bangsa-bangsa yang maju,mereka telah menjadikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan. Jepang contohnya yaitu bangsa yang  maju di Asia.

Kemajuan bangsa Jepang yaitu berkat jadwal pemerintahannya yang mendorong semoga bangsa Jepang banyak membaca. Dengan budaya baca yang tinggi masyarakat Jepang mengalami kemajuan pesat. Jepang yang hancur  dengan bom Hirosima dan Nagasaki, kemudian Jepang”membom dunia” dengan kemajuan industrinya. Jepang tidak menangisi kehancuran tetapi dijawab dengan membaca dan bekerja berdasarkan wawasan yang luas dari bacaan. Dengan membaca bangsa Jepang menjadi raja industri  dunia.  Membuat negara maju lainnya kalang kabut dengan membanjirnya hasil industri Jepang. Itulah keampuhan membaca untuk merubah kehidupan, merubah nasib bangsa.

Berkat keampuahan  membaca itulah,Allah Swt dalam surat pertama,yang diturunkn kepada Rasulullah  memerintahkan membaca.  Dengan membaca,umat yang jahiliah dalam 23 tahun. sanggup menaklukkan dunia. Mereka tinggalkan perilaku jahiliah yang hanya mengungkung contoh pikir dan membutakan hati. Mereka tinggalkan  perilaku jumud (terkungkung) dirubah dengan kekbebasan berpikir yang berdasar pijakkan kebenaran dari Allah dan RasulNya. Merka buka hatinya yang gelap dengan cahaya kepercayaan yang menyinari kehidupan.  

Bukan hanya kehidupan dunia, tetapi dunia dan akahirat. Buya Malik Ahmad dalam Tafsir Sinar Jilid 1 menafsirkan  surat Al Alaq ayat 1 sebagai berikut : “Perintah Iqra', menciptakan umat yang membisu menjadi bergerak, merubah dari pasif menjadi aktif, menciptakan orang yang tidak paham menjadi sadar.

Orang yang menyadari  pentingnya perintah Iqra’ akan selalu berusaha bahwa peningkatan kualitas hidup yaitu kewajiban. Kewajiban ini dilakukan lantaran beliau sadar bahwa perintah yang diberikan Allah melalui rasul-Nya itu yaitu suatu perintah untuk kepentingan dirinya sendiri. Perintah membaca bukanlah sekedar untuk menambah ilmu saja tetapi yaitu untuk memperbaiki diri yang lemah,yang kosong dari iman. Kelemahan-kelemahan insan akan sanggup di atasi bila beliau mau merubahnya.

Cara merubah itu yaitu dengan membaca. Membaca bukan hanya  memahami aksara demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Tetapi yang utama yaitu mengambil nilai-nilai yang ada dari buku yang dibaca. Lainnya  adalah membaca untuk membaca kelemahan diri. Kelemahan diri bisa diperkuat bila yang dibaca itu yaitu nilai-nilai yang dibutuhkan ruhani.  Ajaran yang paling besar lengan berkuasa dalam menyuburkan ruhani yaitu nilai yang terdapat dalam Al Alquran dilengkapi dengan sunah Rasulullah.

Tinjauan dan Ulasan
      
Setelah kita  memahami hakikat membaca, kesadaran kita akan bertambah wacana ampuhnya membaca untuk merubah langsung dan bangsa. Keampuhan membaca bukan hanya menguntungkan kepentingan dikala membaca  saja,tetapi sudah itu hilang. Tidak menyerupai  itu yang diharapkan. Nilai-nilai yang kita ambil dari bacaan itu hendaknya sanggup kelemahan diri, Kalau kita pemalas selama ini membaca,kita harus menyediakan waktu lebih banyak untuk membaca. Kurang dalam membaca berarti  kita belum menyadari tanggung jawab sebagai khalaifah Allah di bumi. Dengan membaca, tanggung jawab itu, hendaknya kita laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Kalau ditinjau dari ilmu komunikasi, kata-kata yang baik itu akan menimbulkan energi positif. Orang yang selalu mendengar dan membaca kata yang baik dan positif beliau akan bertindak positif. Sebaliknya orang yang selalu mendengar dan membaca kata-kata yang negatif akan cenderung bertindak negatif. Hal ini masuk akal alasannya yaitu insan dibuat oleh hal-hal  yang masuk ke dalam dirinya. Jika yang masuk positif keluarnya juga positif, kalau yang masuk banyak yang negatif keluarnya juga hal yang negatif.

Jika kita ingin merubah diri kita dari negatif ke positif maka kita juga harus banyak membaca buku-buku yang positif. Kayakanlah diri dengan hal-hal yang positif maka kita akan tetap berpikir dan bertindak positif.

Kalau kita tinjau dari psikologi agama Islam, hal ini juga cocok. Islam mengajarkan melalui sebuah hadis Rasulullah, siapa yang dibesarkan dengan barang yang haram, maka neraka kesudahan hidupnya. Barang yang haram yaitu barang tidak sesuai zatnya dengan badan kita. Bisa juga barang itu baik secara higienes tetapi cara mendapatkannya tidak sah berarti juga  haram. Barang haram ini akan mengalir ke seluruh badan orang yang memakannya. Jika aliran darahnya dipengaruhi oleh benda haram berati contoh pikirnya cendrung kepada yang haram. Artinya orang yang memakan benda haram akan selalu tindakan dan contoh pikirnya memperturutkan hawa nafsu dan bertindak di luar kemanusiaan. Sebab benda yang haram itu membawa kepada kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu itu alat setan untuk menjerumuskan manusia.

Kaitan dengan membaca buku adalah,seorang yang membaca buku berarti beliau mensuplai makanan ruhani ke dalam jiwanya. Jika kata-kata yang ditawarkan buku yaitu kata-kata yang bernas,baik dan bergizi maka berarti beliau telah memasukkan gizi yang baik ke dalam tubuhnya. Kata-kata yang baik ini bila ditelan  dan dimasukkan menjadi gizi ruhani, maka ruhaninya akan berkembang secara baik. Itulah hal-hal yang positif dari acara membaca buku.

Kesimpulan

Dari uraian di atas sanggup ditarik beberapa kesimpulan:

1.   Budaya baca belum berkembang secara baik di negara kita. Untuk itu pemerintah, sekolah, cendekiawan hendaknya sanggup memotivasi masyarakat dan anak didik semoga gemar membaca.
2.   Untuk menumbuhkan gemar membaca ini, buku-buku yang disediakan di perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa yaitu buku-buku yang menimbulkan dan menggerakkan minat baca. Buku-buku tersebut harus berisikan ide-ide yang segar, kalimatnya tertata dengan baik, kata-katanya bernada positif dan membangkitkan selera baca. Dengan cara menyerupai ini masyarakat dan siswa di sekolah akan menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan. Sebab dengan membaca buku yang bergizi dan kalimat yang tertata dengan baik menimbulkan minat bacanya tumbuh. Dia tidak menginginkan membaca satu buku,tetapi membutuhkan dua atau tiga buku dengan tema yang sama atau berbeda tema.
3.   Membaca sangat ampuh untuk merubah contoh pikir pribadi. Jika contoh pikir berubah bangsa akan berubah. Bangsa ini terdiri dari pribadi-pribadi.
4.   Dari segi manapun kita meninjau, psikologi, komunikasi apa lagi agama, membaca itu yaitu penting. Sebab dengan membaca, kekayaan batin kita akan bertambah. Dengan membaca kita akan berubah. Dengan membaca kualitas hidup bisa ditingkatkan. Semua ilmu akan mengajak pemiliknya kepada kemajuan.

Daftar Pustaka

  • Ahmad, H.A.,Malik, Tafsir Sinar Jilid 1,LPPA Muhammadiyah, Jakarta,1963
  • Hernowo, Main-main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi, Kaifa, Bandung 2004
  • Quantum Reading, MLC, Bandung, 2003
  • Bagaimana Membuat Buku Yang Menggugah, MLC, Bandung, 2005
  • Sularto, dkk. (editor), Bukuku Kakiku, Gramedia, Jakarta, 2004
  • Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013
  • Nur, Syafruddin, Buah-buah Manis Membaca dan Menulis,Forum Aktif Menulis(FAM) Indonesia,Kediri Jawa Timur, 2013