Showing posts sorted by relevance for query pentingnya-pendidikan-karakter. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query pentingnya-pendidikan-karakter. Sort by date Show all posts

Monday, 18 November 2019

Lebih Cendekia Cara Dan Pentingnya Tugas Orang Renta / Keluarga Dalam Membentuk Abjad Dan Mutu Anak Bangsa

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Buah jatuh tak jauh dari pohonnnya, tampaknya peribahasa ini tidak absurd lagi bagi kita selaku orang renta yang  dalam upaya membina dan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik atau lebih tepatnya menjadi bawah umur yang soleh soleha. Penanaman karakter semenjak dini hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Baik buruknya anak tergantung dari bagaimana para orang renta memperlakukan anak-anaknya.

Menurut pandangan Islam ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan oleh para calon orang renta yang mendambakan bawah umur soleh soleha. Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut: “Seseorang perempuan itu dinikahi lantaran empat perkara: lantaran hartanya, lantaran kedudukannya, lantaran kecantikannya dan lantaran agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung – Hadis riwayat al-Bukhari. Makara dengan kata lain hal pertama yang harus dilakukan oleh para calon orang renta yakni memilihkan calon ibu atau calon bapak yang baik dan taqwa untuk calon anaknya kelak.

Kedua, hendaklah membaca doa sebelum melaksanakan relasi tubuh biar terhindar daripada gangguan syaitan. Rasulullah SAW telah mengajar kepada kita ibarat dalam satu hadis Beliau bersabda: “Sekiranya seseorang di antara kau ketika hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas Syaitana wajannibis syaitana ma razaktana.” Maksudnya: Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaitan daripada kami dan jauhkanlah syaitan daripada apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Jika Allah takdirkan (dengan relasi tersebut lahir) seorang anak, maka syaitan dihentikan memudaratkannya.” – Riwayat al-Bukhari.

Ketiga, hendaklah mengambil berat bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Perhatian itu sama ada kesehatan bayi yang dikandungnya, maupun sifat-sifat yang akan diturunkan daripada ibu kepada anaknya.

Keempat, seorang ibu hendaklah sadar terhadap apa yang dikerjakan biar tidak melaksanakan masalah buruk yang akan besar lengan berkuasa kepada bayinya nanti.

Kelima, hendaklah mendapatkan dengan senang hati bayi yang dilahirkannya sama ada perempuan atau lelaki. Kerana ada di kalangan pasangan yang tidak suka bila lahir anak perempuan. Sikap ini yakni sifat jahiliah yang perlu dijauhi. Orang Quraisy pada zaman jahiliah apabila lahirnya anak perempuan, maka mereka membunuhnya. Begitu juga adakala Allah SWT menguji ibu dan ayah dengan anak yang kurang tepat ibarat buta, bisu, pekak. Sekiranya ibu bapa itu mendapatkan dengan berlapang dada, maka ia tetap berasa senang. Namun, sekiranya ibu bapa tidak senang menerimanya, ia boleh membawa kepada penceraian atau pembunuhan pada anak tersebut.

Keenam, memberi nama anak yang baik. Sesungguhnya anak berhak untuk diberi nama yang baik dan bagus didengar. Nama itulah yang akan mewakili dirinya untuk kehidupannya kelak. Oleh itu, janganlah tersalah memberi nama. Janganlah diberi nama yang ada unsur menyamai dengan agama lain atau mahir maksiat dan orang yang populer kejahatannya. Berilah nama yang dianjurkan ibarat nama yang memperlihatkan perhambaan kepada Allah, nama Nabi dan orang yang salih.

Ketujuh, memperlihatkan anak itu rasa aman dan tentram dari hal yang seram dan masalah yang merusak akidahnya. Jangan suka menakut-nakuti dengan menyampaikan kepadanya ada hantu kerana bisa jadi hal ini sanggup merusak mental dan agamanya.

Kedelapan, memberi pendidikan agama yang cukup. Kesembilan, menjaga kesucian anak itu dengan menikahkannya sekiranya rasa perlu dan bisa untuknya.


Banyak orang renta sangat mementingkan tingginya IQ bawah umur mereka, sehingga dengan segala cara mereka berusaha merangsang pertumbuhannya pada anak mereka. Pihak sekolah juga mempunyai standard IQ yang mengharuskan bawah umur tingkat dasar mempunyai tingkat IQ tertentu untuk bisa diterima di sekolah. Sebaliknya soal spiritual dan juga karakter sering diabaikan dan dipandang sebelah mata. Karakter hanya dianggap sebagai pemanis semata, bukan prioritas dalam kurikulum yang ada. Padahal karakter sangat penting dalam pembangunan pribadi anak yang tangguh, Akan menjadi sangat disayangkan apabila ada anak yang mempunyai IQ yang tinggi tapi mempunyai karakter yang tercela.

Hasil pencaharian dari internet mengenai ”Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademik Anak Dr. Martin Luther King berkata: “Intelligence plus character…that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu yakni tujuan final dari pendidikan sebenarnya).artinya dengan karakter yang baik seorang niscaya akan memperoleh hasil dan mutu yang baik pula.

Daniel Goleman menyebutkan ternyata 80 persen keberhasilan dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (karakter), dan hanya 20 persen ditentukan oleh otak (IQ). Sementara kita tau bahwa didunia pendidikan lebih banyak mengasah kecerdasan otak dengan metode hapalan dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan dibanding karakter atau budi pekerti yang baik. Sehingga tolok ukur yang paling utama membuat mutu pendidikan menjadi berkualitas rendah.

Dalam sebuah goresan pena perihal ”Pendidikan Berkarakter Sebuh Solusi Meningkatkan Mutu pendidikan” menyatakan ketidakpahaman semenjak dini perihal pendidikan karakterlah pokok utama permasalahan, mengapa mutu pendidikan semakin pudar dan kualitas seakan-akan menurun.Pernyataan yang menyebutkan pandangan beberapa kelompok mengenai pendidikan. Sebagian kelompok beropini bahwa pendidikan kita ketika ini terlalu menekankan sisi keduniawian. Sehingga banyak menghasilkan manusia-manusia yang egois, tidak memegang nilai-nilai agama, tidak menghargai perbedaan, bermental korup dan lain sebagainya. Kelompok lain beropini bahwa ketika ini pendidikan kita terlalu menekankan sisi kemampuan otak kiri. Akibatnya, banyak manusia-manusia berprestasi secara akademik, dengan gelar yang membuat orang berdecak kagum serta jabatan yang kalau kita mengutip sedikit kata-kata Vicky sanggup meningkatkan taraf  hidup kemakmuran, malah menggunakannya sebagai jembatan untuk melaksanakan hal-hal untuk memperkaya diri sendiri dan menyengsarahkan orang banyak bahkan negara.

Oleh alasannya itu mendidik anak semenjak usia dini sangatlah penting untuk masa depan anak dalam membangun pribadi dengan budi pekerti yang luhur, cerdas dan mempunyai sopan santun yang soleh/soleha.Cara mendidik anak usia dini atau balita yang salah akan menjerumuskan kedua orang tuanya baik di dunia dan akhirat.

Karena dunia daerah kita hidup ketika ini penuh dengan tantangan yang kompleks, dunia sudah berubah, semakin kejam, seram dan rusak. Gaya hidup yang dipertontonkan dunia masa sekarang dipenuhi oleh kekacauan moral, di mana keluarga tradisional sudah menjadi barang langka. Yang marak dan dipertontonkan di masyarakat yakni keluarga yang hancur, ayah dan ibu saling menyakiti sehingga anak jadi korban. Situasi dan kondisi ibarat ini tidak sanggup diatasi hanya dengan rasio atau logika semata, dibutuhkan modal yang berbeda. Dibutuhkan hikmat dan disiplin yang luar biasa untuk membangun bawah umur yang kuat menghadapi ranjau perubahan, arus informasi yang sangat deras, obat-obatan terlarang, dan pergaulan seks bebas. Dibutuhkan karakter yang kuat untuk bertahan dalam kehidupan yang keras, biar bisa mengatasi segala kasus yang dihadapi di masa depan.

Fakta ini akan menjadi sangat memprihatiankan apabila kita selaku orang renta bersifat masa ndeso dengan pertumbuhan karakter buah hati kita. Dan yang niscaya peningkatan mutu bagi bawah umur bangsa hingga kapanpun tidak akan pernah terwujud. Berdasarkan penguraian diatas maka penulis mangangkat sebuah goresan pena yang berjudul ”Karakter Untuk Buah Hati Peningkatan Mutu bagi Anak Bangsa”  Di sini penulis mengamanatkan membangunan karakter anak sangat ditentukan olehpola asuh semenjak dini dalam keluarga. Karena itu perlu dibangun keluarga yang kokoh untuk sanggup melahirkan generasi-generasi penerus yang berkualitas ,berkarakter kuat yang bermanfaat besar dalam masyarakat. Yang harus berperan bukan hanya ibu, tetapi juga ayah. Bahkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dimasa kecil hingga usia remaja sangat menentukan pembentukan karakter anak. Keluarga yang harmonis, dimana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan kasih sayang akan memperlihatkan suatu lingkungan yang aman bagi pembentukan karakter anak. Menurut Erikson, kesuksesan orang renta membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak.

Hakikat Karakter

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter mempunyai arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2).Karakter juga bisa bermakna "huruf".

Menurut (Ditjen Mandikdasmen - Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter yakni cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,  bangsa  dan  negara.  Individu  yang  berkarakter  baik  adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap jawaban dari keputusan yang ia buat.

W.B. Saunders, (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter yakni sifat kasatmata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang sanggup diamati pada individu. Gulo W, (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter yakni kepribadian ditinjau  dari titik  tolak etis  atau  moral,  misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter yakni sifat-sifat kejiwaan, sopan santun atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.

Wyne mengungkapkan bahwa kata karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti “to mark” yaitu menandai atau mengukir, yang memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh alasannya itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berprilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Makara istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang.

Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laris dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud tingkah laris yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.

Adapun karakter bangsa Indonesia yang dimiliki warga negara Indonesia dan berupaya diterapkan di sekolah-sekolah  antara lain.

1. Relijius

Kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada anutan agama dan kepercayaannya. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai relijius merupakan pendidikan karakter bangsa yang utama. Melihat nilai relijius yang semakin memudar dalam perkembanggan zaman, maka harus diterapkan semenjak dini dalam proses pendidikan baik formal ataupun tidak. Berdo’a sebelum dan sehabis belajar, berbuat baik kepada sesama, mengormati dan patuh kepada kedua orang renta dan sebagainya merupakan bentuk aplikatifnya. Jika sudah menyatu dan menjadi suatu kebutuhan maka akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas, sehingga mutu pendidikan sanggup ditingkatkan.

2. Jujur

Karakter bangsa yang sekarang menjadi sorotan pada aneka macam aspek kehidupan yakni kejujuran. Sekarang, nilai kejujuran diumpamakan sebagai barang berharga yang sangat mahal. Lemahnya nilai kejujuran di sekolah, seperti, budaya menyontek, berbohong kepada guru akan berdampak terhadap proses pendidikan dan hasil yang akan diperoleh. Nilai kejujuran sanggup dikembangkan melalui kantin kejujuran, sehingga materi atau pokok bahasan dalam mata pelajaran sanggup eksklusif dipraktekkan. Kantin kejujuran merupakan salah satu taktik yang tepat biar siswa berguru dan berlatih mengimplementasikan nilai-nilai antikorupsi dan sebagai wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi6.

3. Toleransi

Toleransi yakni sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap orang lain yang berbeda dari dirinya. Berbagai kerusuhan (tawuran) dan kekerasan (perusakan sarana umum) diminimalisasikan dengan saling bertoleransi. Rasa toleransi harus selalu tertanam dan dipahami biar generasi muda terlepas dari permasalahan. Tidak mungkin ada toleransi bila kelakuan moral tidak diperkenalkan secara baik melalui pendidikan karakter. Permasalahan timbul lantaran adanya perbedaan, lantaran itulah kita membutuhkan toleransi dalam proses pendidikan supaya tercipta suasana yang aman dan damai. Seperti menghargai guru, menghargai pendapat teman, saling membantu menuju kesuksesan.

4. Disiplin

Kedisiplinan membuat pelajar senantiasa memakai waktu dengan sebaiknya, dalam arti tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Dalam lingkup nilai disiplin, Indonesia masih jauh tertinggal dari bangsa lain yang sukses menerapkan nilai kedisiplinan. Kenyataan dilapangan, kebiasaan ibarat terlambat masuk kelas/ menghadiri rapat, sering tidak hadir, (baik pengajar atau penerima didik), mengakhiri pelajaran sebelum waktunya masih sangat gampang ditemukan. Apabila dunia pendidikan gagal menanamkan sikap disiplin terhadap penerima didik, berarti para guru dan dosen siap mengantarkan bangsa di negeri ini kelapisan bawah dari bangsa-bangsa dunia yang telah maju peradabannya.

5. Kerja Keras      

Keberhasilan diperoleh melalui usaha. Kerja keras yang dilakukan mencakup rajin belajar, membuat kiprah dengan sungguh-sungguh, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan. Suksesnya penerapan kerja keras dalam melaksanakan hak dan kewajiban, akan melahirkan penerima didik yang mau berusaha, tanpa mengenal putus asa. Hal ini membuat siswa mau bekerja keras dalam mencapai tujuan final pendidikannya.

6. Kreatif

Alternatif lain yang dipakai untuk mengatasi permasalahan yaitu dengan pemikiran yang kreatif. Siswa yang kreatif sangat diidamkan, lantaran bisa menghasilkan karya-karya yang gres ibarat karya sastra, karya seni, tidak terbebani terhadap satu solusi serta jauh dari jiwa imitasi. Kreatifitas sanggup menyeimbangkan otok kiri dengan otak kanan. Sehingga hasil karya anak bangsa ibarat penciptaan robot sebagai tekhnologi sanggup mengangkat pendidikan Indonesia dimata dunia.

7. Mandiri

Siswa sanggup berdiri diatas kaki sendiri akan terlepas dari ketergantungan terhadap pemberian yang diberikan oleh orang lain. Kemandirian sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran, ibarat mengerjakan kiprah sendiri, dan melengkapi materi pembelajaran. Kemandirian melatih siswa untuk terbiasa memakai kemampuan yang dimilikinya. Jadi, generasi muda harus sanggup berdiri diatas kaki sendiri dalam mengerjakan kewajiban yang telah diberikan.

8. Demokrasi

Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 serpihan III pasal 4 ayat 1 dijelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Pendidikan yang demokratis akan menghasilkan lulusan yang bisa berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan bisa mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan publik. Demokrasi sanggup berupa saling bertukar pendapat dalam lembaga diskusi, mengajukan pemikiran dalam musyawarah, menentukan pemimpin kelas/ sekolah dan sebagainya.

9. Rasa Ingin Tahu

Minat dalam proses berguru yakni rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan. Jika rasa ingin tahu selalu menjadi hal yang selalu dibiasakan, maka mendapatkan materi akan gampang dirasakan. Rasa ingin tahu membuat siswa selalu menggali ilmu, mencari informasi, melaksanakan suatu hal yang baru.

10. Semangat Kebangsaan

Patriotisme menjadi modal awal dalam keinginan memajukan bangsa negara Indonesia. Dengan semangat kebangsaan, rasa saling berafiliasi akan tetap terasa dalam mengisi hari kemerdekaan. Siswa yang patriotisme akan hikmat mengikuti upacara dan aktif dalam aneka macam kegiatan kebangsaan ibarat PMI.

11. Cinta Tanah Air

Dari nilai cinta tanah air, kepedulian terhadap bangsa dan Negara Indonesia yang sangat menonjol dalam kepribadian. Dalam segi aplikatif cinta tanah air sanggup diwujudkan dengan kesetiaan, kepedulian terhadap bahasa dan lingkungan, membeli produk anak bangsa dan dalam aneka macam aspeknya.

12. Menghargai Prestasi

Prestasi yang diperoleh harus dihargai sebagai buah usaha yang telah dipetik. Dengan aneka macam sarana yaitu menyebarkan ilmu terhadap sesama, dan selalu menggali potensi diri.

13. Bersahabat dan Komunikasi

Dalam aspek pendidikan keberhasilan sesalu diraih dengan saling bekerja sama lantaran perasaan senang telah tercipta dan komunikasi yang berjalan dengan baik ( membentuk kelompok diskusi) akan meningkatkan proses berguru menjadi lebih efisien.

14. Cinta Damai

Kemampuan membuat suasana yang dekat dan bernuansa damai, sehingga keadaan yang aman dalam proses pembelajaran sanggup diwujudkan. Permasalan diselesaikan dengan cara tenang dan adil. Sikap mendapatkan kekukurangan dan menghargai kelebihan dengan terbuka dan saling pengertian.

15. Gemar Membaca

Dengan gemar membaca, pelajar sanggup membuka cakrawala yang luas. Pepatah menyampaikan “Membaca Buku Berarti Membuka Jendela Dunia”. Informasi yang diperoleh mengakibatkan penerima didik mempunyai potensi awal yang sangat baik, sehingga sanggup mengaitkan aneka macam ilmu yang dikuasai.

16. Peduli Lingkungan

Upaya yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap kerusakan lingkungan. Implementasinya disekolah ibarat membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan, kenyamanan lingkungan sekolah. Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi proses pembelajaran, ibarat lingkungan berguru yang higienis akan membuat suasana senang sehingga pikiran lebih terbuka untuk mendapatkan materi.

17. Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang berjiwa sosial dengan saling membantu untuk mewujudkan kerukunan dan lingkungan yang tenang serta sejahtera dalam dunia pendidikan. Apabila ada kemalangan dari warga sekolah diwujudkan dengan rasa empati, mengumpulkan dana bantuan.

18. Bertanggung Jawab

Bertanggung jawab berarti berani mengambil resiko terhadap tindakan yang telah diperbuat. Peserta didik sangat dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya, baik terhadap diri sendiri, lingkungan masyarakat dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hakikat Mutu

Menurut Crosby (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk mempunyai mutu apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan, standar mutu tersebut mencakup materi baku, proses produksi, dan produk jadi (Crosby, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85). Menurut Deming (dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:85) mutu ialah kesesuain dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Mutu ialah suatu kondisi dinamik yang berafiliasi dengan produk, tenaga kerja, proses dan kiprah serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi impian pelanggan. Dengan perubahan mutu tersebut, diharapkan peningkatan atau perubahan keterampilan tenaga kerja, proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan biar produk sanggup memenuhi dan melebihi impian konsumen (Garvi dan Davis, dalam Hadis dan Nurhayati, 2010:86).

Dalam pandangan Zamroni ( 2007:2 ) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah yakni suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses berguru mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan biar menjadi sasaran sekolah sanggup dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Jelaslah bahwa untuk menyiapkan masa depan yang gemilang bagi anak, setiap orang renta punya andil besar untuk mempersiapkannya bahkan semenjak anak masih dalam kandungan. Bukan hanya kemudahan yang lengkap, tapi kasih sayang dan penanaman nilai-nilai karakter yang baik Insyaallah akan membuat generasi-generasi yang tidak hanya cerdas tapi juga mempunyai kwalitas diri yang membanggakan oleh negeri ini.

Pengirim : SRY DEWIYANA KOLLY (Guru Sekolah Menengah kejuruan Muhammadiyah Bitung Kecamatan Girian Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara).

Daftar Pustaka :

1.   Cara mendidik anak usia dini balita biar cerdaspintar dan soleh http://www.Islamituindah.my/8-tips-lahirkan-anak-soleh
2.   Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Akademi Anak http://.www.pondokibu.com
3.   Pendidikan berkarakter meningkatkan mutu pendidikan /search?q=10/pendidikan-berkarakter-sebuah-solusi-meningkatkan-mutu-pendidikan/
4.   Pengertian karakter http://pustaka.pandani.web.id/2013/03/pengertian-karakter
5.   Pengertian Mutu http://dwicitranurhariyanti.wordpress.com/landasan-dan-problematika-dalam-pendidikan/peningkatan-mutu-pendidikan/

Lebih Cendekia Karya Ilmiah Guru “Penerapan Pendidikan Abjad Pada Siswa Dalam Menumbuhkan Langsung Yang Berakhlakul Karimah” Oleh Hj. Nunung Hanurawati, M.Pd

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Pemahaman guru terhadap karakteristik penerima didik ini memperlihatkan citra bagi para guru, dari sisi mana potensi penerima didik, kelemahannya sanggup dibantu atau ditumbuhkan dan kelebihan apa yang perlu menerima perhatian untuk dikembangkan. Potensi yaitu kesanggupan, daya, kemampuan untuk lebih berkembang.

Potensi penerima didik yaitu kapasitas atau kemampuan dan karakteristik/sifat individu yang bekerjasama dengan sumber daya insan yang mempunyai kemungkinan dikembangkan dan atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri penerima didik. Setiap penerima didik yaitu individu yang unik. Unik alasannya yaitu mereka mempunyai potensi dan kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Moral merupakan aspek sikap atau sikap yang sering ditunjukkan penerima didik dari fatwa wacana baik, jelek yang diterima umum mengenai sebuah respon tindakan atau perbuatan yang dalam perspektif agama sering kita kenal dengan istilah akhlak, kebijaksanaan pekerti, susila. sebagai pola prilaku jelek penerima didik yaitu tidak menghargai guru, membuat onar dikelas, sering ribut dengan teman, suka berantem, mengganggu sahabat ketika sedang belajar, usil dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk bermoral baik, ditunjukkan sikap sopan, jujur, patuh, taat, yang untuk budaya timur ibarat hormat pada yang bau tanah lewat tutur bahasa yang lembut, menghargai nilai adat istiadat sehingga seseorang bisa dinilai bermoral sudah mulai  menunjukkan atau bahkan sudah menjalankan dengan mempunyai pertimbangan baik jelek dalam perbuatannya baik bagi alam, dirinya, dan orang lain.


Seorang guru yaitu panutan dan pola yang realalita kasatmata dilihat dan diperhatikan tingkah lakunya, mulai dari berjalan, bertutur kata, bahkan marahnya pun diperhatikan oleh penerima didik ibarat Akronim GURU tingkah lakunya harus di gugu dan di tiru. Dengan kata lain ke mana dan di manapun kita berada sejatinya guru harus mempunyai kepribadian yang sopan, santun, dan sebisa mungkin dijadikan cermin bagi penerima didiknya.

2. Tujuan

Dengan menerapkan pendidikan aksara pada siswa diharapkan:

Bertingkah laris sesuai dengan usianya, berkepribadian yang menjunjung nilai moral, sopan dan santun, mengasihi dan menghargai teman, menghormati guru, menghormati yang lebih bau tanah dan mengasihi yang lebih muda.

3. Ruang Lingkup Tulisan

Ruang lingkup dalam goresan pena ini dibatasi dalam 3 hal yaitu:

a. Lingkup keluarga

Merupakan wahana pembelajaran dan adaptasi nilai-nilai kebaikan yang dilakukan oleh orang bau tanah dan orang cukup umur lain di keluarga. Sehingga melahirkan anggota keluarga yang berkarakter.

b. Lingkup satuan pendidikan

Merupakan wahana pembinaan dan pengembangan aksara yang dilaksanakan dengan pendekatan sebagai berikut:
•     Pengintegrasian pada semua mata pelajaran
•     Pengembangan budaya sekolah
•     Melalui kegiatan kurikuler dan ektrakurikuler
•     Pembiasaan prilaku dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah

B. Tinjauan Pustaka


Menurut Suyatno Pendidikan aksara yaitu cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara.

Menurut Kertajaya Pendidikan aksara yaitu ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut yaitu orisinil dan mengakar pada kepribadian benda atau individe tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

Menurut Thomas Lickona Pendidikan aksara yaitu suatu perjuangan yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia sanggup memahami, memperhatikan, dan melaksanakan nilai-nilai etika yang inti.
Kesimpulan yang di padukan dari para mahir diatas bahwa Pendidikan aksara yaitu suatu perjuangan yang disengaja untuk membantu seseorang dalam membuatkan potensi untuk memahami dirinya sehingga sanggup berfikir  berprilaku, bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, bangsa maupun Negara.

C. Tujuan Penelitian

Membentuk kepribadian siswa lebih baik dan berkarakter sehingga sanggup membuatkan potensi dirinya jauh lebih baik dan berahlakul karimah.

D. Metode Penelitian

Pendidikan aksara sanggup dilakukan dengan banyak sekali pendekatan dan sanggup berupa banyak sekali kegiatan yang dilakukan secara intra kurikuler maupun ekstra kurikuler.Kegiatan intra kurikuler terintegrasi ke dalam mata pelajaran, sedangkan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan di luar jam pelajaran.

Strategi dalam pendidikan aksara sanggup dilakukan melalui sikap-sikap sebagai berikut.:   
      
•    Keteladanan
•    Penanaman kedisiplinan
•    Pembiasaan
•    Menciptakan suasana yang konduksif

1)   Keteladanan     

Keteladanan mempunyai bantuan yang sangat besar dalam mendidik karakter. Keteladanan guru dalam banyak sekali aktivitasnya akan menjadi cermin siswanya. Oleh alasannya yaitu itu, sosok guru yang bisa diteladani siswa sangat penting. Guru yang suka dan terbiasa membaca dan meneliti, disiplin, ramah, berakhlak contohnya akan menjadi teladan yang baik bagi siswa, demikian juga sebaliknya.

Sebagaimana telah dikemukakan, yang menjadi problem yaitu bagaimana menjadi sosok guru yang bisa diteladani, alasannya yaitu semoga bisa diteladani dibutuhkan banyak sekali upaya semoga seorang guru memenuhi standar kelayakan tertentu sehingga ia memang patut dicontoh siswanya. Memberi pola atau memberi teladan merupakan suatu tindakan yang gampang dilakukan guru, tetapi untuk menjadi pola atau menjadi teladan tidaklah mudah.

Keteladanan lebih mengedepankan aspek sikap dalam bentuk tindakan kasatmata daripada sekedar berbicara tanpa aksi.Apalagi didukung oleh suasana yang memungkinkan anak melakukannya ke arah hal itu.

2) Penanaman atau Penegakan Kedisiplinan  

Disiplin pada hakikatnya yaitu suatu ketaatan yang sungguh-sungguh yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan kiprah kewajiban serta berperilaku sebagaimana mestinya berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan yangseharusnya berlaku di dalam suatu lingkungan tertentu.Realisasinya harus terlihat (menjelma) dalam perbuatan atau tingkah laris yang nyata, yaitu perbuatan tingkah laris yang sesuai dengan aturan-aturan atau tata kelakuan yang semestinya.
Kedisiplinan menjadi alat yang ampuh dalam mendidik karakter.Banyak orang sukses alasannya yaitu menegakkan kedisiplinan.Sebaliknya, banyak upaya membangun sesuatu tidak berhasil alasannya yaitu kurang atau tidak disiplin.Banyak jadwal yang telah ditetapkan tidak sanggup berjalan alasannya yaitu kurang disiplin.

Kita masih sering terlambat alasannya yaitu sering tidak bisa menepati waktu.Oleh alasannya yaitu itu, betapa pentingnya menegakkan disiplin semoga sesuatu yang diinginkan sanggup tercapai dengan sempurna waktu.Dengandemikian, penegakan kedisiplinan merupakan salah satu taktik dalam membangun aksara seseorang. Jika penegakan disiplin sanggup dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus, maka lama-kelamaan akan menjadi habit atau kebiasaan yang positif.

Menanamkan prinsip semoga penerima didik mempunyai pendirian yang kokoh merupakan potongan yang sangat penting dari taktik menegakkan disiplin.Dengan demikian, penegakan disiplin sanggup juga diarahkan pada penanaman nasionalisme, cinta taha air, dan lain-lain.
Banyak cara dalam menegakkan kedisiplinan, terutama di sekolah. Misalnya dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, guru selalu memanfaatkan pada ketika perjalanan dari sekolah menuju lapangan olahraga, murid diminta berbaris secara rapi dan tertib, sehingga tampak kompak dan menarik bila dibandingkan dengan berjalan sendiri-sendiri. Jika hal ini sanggup dilakukan, makapengguna jalan akan menghormati dan mempersilahkan bejalan lebih dahulu, bahkan sanggup mengurangi resiko keamanan yang tidak diinginkan. Nilai-nilai yang sanggup dipetik antara lain kebersamaan, kekompakan, kerapian, ketertiban, dan lain-lain.

Kegiatan upacara yang dilakukan setiap hari tertentu kemudian dilanjutkan dengan investigasi kebersihan dan potong kuku, pengecekan ketertiban sikap dalam mengikuti upacara sanggup dipakai sebagai upaya penegakan kedisiplinan.

Guru sebagai teladan harus tiba pagi dan tidak terlambat. Begitu tiba di sekolah, guru sudah berdiri di depan pintu dan menyambut bawah umur yang tiba dengan menyalaminya.

3) Pembiasaan

Pembiasaa berbaris sebelum memasuki ruang kelas, berdoa sebelum dan setelah belajar, sepuluh menit gerakan membaca, mengangkat tangan apabila akan bertanya atau meminta izin kebelakang, mentaati tata tertib, meminta maaf apabila melaksanakan kesalahan, bertutur kata dengan sopan yaitu beberapa pola adaptasi yang apabila dilakukan akan berdampak lebih baik dan menunjang pembentukan aksara siswa.

4) Menciptakan suasana kondusif

Dalam proses mencar ilmu mengajar suasana aman yaitu dambaan setiap pendidik, alasannya yaitu akan membuat ketercapaian tujuan mengajar atau mendidik, nilai plus yang akan diterima baik oleh siswa ataupun pendidik, suasana yang nyaman tidak mengakibatkan keonaran, kejenuhan, ataupun tidak termotivasinya siswa untuk mencar ilmu yaitu hal-hal yang harus di luruskan oleh seorang pendidik. Itulah pentingnya penerapan pendidikan aksara yang di masukan pada setiap mata pelajaran semoga pembelajaran menerap pada setiap hati penerima didik yang akan menjadi generasi yang mempunyai aksara yang baik sesuai dengan keinginan agama dan bangsa.

E. Hasil Pembahasan

Pendidikan yaitu suatu perjuangan sadar dan sistematis dalam membuatkan potensi penerima didik. Menurut wikipedia Pendidikan yaitu pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Pendidikan disini ditujukan kepada siswa sekolah dasar, sebagai bekal kelak supaya berkpribadian baik dan berakhlakul karimah.

Karakter atau watak yaitu sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, kebijaksanaan pekerti, dan watak yang dimiliki insan atau makhluk hidup lainnya. Lebih lengkap lagi aksara yaitu nilai-nilai yang khas, baik watak, budpekerti atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi banyak sekali kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laris dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapan Pendidikan Karakter yaitu perjuangan sadar dan berkala untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan penerima didik guna membangun aksara langsung atau kelompok yang unik baik sebagai warga negara.

Satuan pendidikan bahwasanya selama ini sudah membuatkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk aksara melalui jadwal operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan aksara pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada ketika ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan aksara telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan,Cinta TanahAir,Menghargai Prestasi,  Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai,Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial  Tanggung Jawab, Religius. (Puskur. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.)

Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk aksara bangsa, namun satuan pendidikan sanggup memilih prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis aksara yang dipilih tentu akan sanggup berbeda antara satu kawasan atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara banyak sekali nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya sanggup dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan gampang dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.

Pendidikan aksara yaitu pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan aksara yang dirumuskan oleh seorang penggagas pendidikan aksara dari Jerman yang berjulukan FW Foerster:

1.   Pendidikan aksara menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut.
2.   Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi langsung yang teguh pendirian dan tidak gampang terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru.
3.   Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan hukum dari luar hingga menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik bisa mengambil keputusan sanggup berdiri diatas kaki sendiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.
4.   Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan yaitu daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas kesepakatan yang dipilih.

Pendidikan aksara penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan aksara akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan aksara berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial ibarat toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan aksara akan melahirkan langsung unggul yang tidak hanya mempunyai kemampuan kognitif saja namun mempunyai aksara yang bisa mewujudkan kesuksesan.

F. Kesimpulan dan Saran

Pendidikan aksara hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

G. Daftar Rujukan

ü Dorothy Law Nolte, Dryden dan Vos, Revolusi Cara Belajar.Terjemahan word Translation service.(Bandung:Kaifa,2000)
ü Heri gunawan, Pendidikan Karakter “konsep dan Implementasi” ( Bandung : Cv.  Alfabeta, 2012)
ü M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban      Bangsa,(Kadipiro Surakarta,2010)
ü Muchlas Samani, Hariyanto, Konsep dan model Pendidikan Karakter,(Bandung:    PT Remaja Rosdakarya 2014)

Penulis : Hj. Nunung Hanurawati, M.Pd. (Guru SDN Kebonsari I Cilegon)

Ingin mengirimkan goresan pena karya orisinil Anda untuk dimuat di Cara Mempublikasikan / Menerbitkan Karya Tulis Gratis Secara Online di www.salamedukasi.com