Showing posts sorted by date for query pengertian-bentuk-dan-proses-penilaian. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query pengertian-bentuk-dan-proses-penilaian. Sort by relevance Show all posts

Wednesday, 20 October 2021

Lebih Cerdik Klarifikasi & Ruang Lingkup Bahan Mata Pelajaran Prakarya Smp / Mts Pada Implementasi Kurikulum 2013

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Dalam kesempatan yang baik ini, saya akan bagikan informasi mengenai implementasi Kurikulum 2013 khususnya wacana materi klarifikasi & ruang lingkup materi mata pelajaran Prakarya Sekolah Menengah Pertama / MTs pada implementasi Kurikulum 2013 selengkapnya sebagai berikut:

Pengertian

Mata Pelajaran Prakarya sanggup digolongkan ke dalam pengetahuan ­transcience-knowledge, yaitu berbagi pengetahuan dan melatih keterampilan kecakapan hidup berbasis seni dan teknologi. Pembelajaran ini berawal dengan melatih kemampuan ekspresi-kreatif untuk menuangkan pandangan gres dan gagasan biar menyenangkan orang lain, dan dirasionalisasikan secara teknologis sehingga keterampilan tersebut bermuara apresiasi teknologi terbarukan maupun kearifan lokal, hasil yang ergonomis serta aplikatif dan ekosistem dalam memanfaatkan lingkungan sekitar.

Rasional

Dalam kehidupan dan berkehidupan, insan membutuhkan keterampilan tangan untuk memenuhi standar minimal dan kehidupan sehari-hari sebagai kecakapan hidup. Keterampilan harus menghasilkan karya yang menyenangkan bagi dirinya maupun orang lain serta memiliki nilai kemanfaatan yang sesungguhnya, untuk itu training berkarya dengan menyenagkan harus dimulai dengan memahami estetika (keindahan) sebagai dasar penciptaan karya selanjutnya.

Dalam rangkaian menemukan karya yang bermanfaat dilatihkan mencipta, memproduksi dan memelihara yang ada kemudian memperoleh nilai kebaruan (novelty) sehingga bermanfaat untuk kehidupan selanujutnya.

Prinsip mencipta, yaitu memproduksi dan mereproduksi diperlukan meningkatkan nilai sensibilitas terhadap kemajuan jaman sekaligus mengapresiasi teknologi kearifan lokal yang telah mampun mengantarkan insan Iondonesia mengalami kejayaan pada masa lalu. Oleh karenanya, pembelajaran Prakarya di tingkat sekolah lanjutan pertama didahului dengan wawsan keteknologian hasil kearfian lokal menuju teknologi terbarukan.

Pelatihan dimulai dengan memahami fakta, prosedur, konsep maupun dalil yang ada melalui studi perorangan, kelompok maupun projektif biar memberi dampak kepada pendidikan huruf yang berupa kecerdasan kolektif. Hasil pembelajaran melalui eksplorasi alami maupun artifisial ini akan memanfaatkan sebagai media sekaligus materi pelajaran, sehingga menurut nilai ekosistem dan keberlajutan materialnya.

Dalam denah di bawah ini ditunjukkan keterkaitan teknologi, seni dan irit :


Model Alur Pengembangan Teknologi dan Seni

Tujuan

1. Memfasilitasi pesertadidik bisa berekspresi kreatif melalui keterampilan teknik berkarya berbasis teknologi sempurna guna dan seni, baik tradisional maupun modern, serta alami mauypun artifisal.

2.   Melatih keterampilan mencipta karya berbasis estetis, ergonomis, ekosistem dan teknologis melalui pembelajaran kemampuan mencipta, merekonstruksi dan menyajikan secara oral dan produk karya seni yang teknologis dan ataupun teknologi yang berbasis seni (ergonomis).

3.   Membina pesertadidik yang kritis terhadap kemajuan seni dan teknologis serta bisa memanfaatkan karya kearifan lokal sebagai dasar pengembangan pribadi yang berkarakter Indonesia, cerdas dan humanis.

4. Melatih memanfaatkan media dan materi berkarya seni dan teknologi melalui prinsip ergonomis, hygienis, tepat-cekat-cepat, ekosistemik dan metakognitif.

5.   Menghasilkan karya jadi maupun apresiatif yang siap dimanfaatkan dalam kehidupan, maupun berisfat wawasan dan landasan pengembangan apropriatif terhadap teknologi terbarukan dan teknologi kearifan lokal yang mendasarkan p[ada pemikiran efisiensi berupa ekosistem, dan marketable berupa keindahan dan mass pruction.


Tujuan Formal Pendidikan Prakarya di SMP

Ruang lingkup materi

Lingkup materi pelajaran Prakarya di Sekolah Menengah Pertama sederajat diadaptasi dengan potensi sekolah, tempat setempat, alasannya yaitu sifat mata pelajaran ini menyesuaikan dengan kondisi dan potensi yang ada di tempat tersebut. Oleh hasilnya bisa merupakan pilihan alternatif, dengan minimal 2 materi atau materi didik yang disediakan. Namun demikian sedapat mungkin dilanksanakan menurut kebutuhan utama tempat tersebut, biar membekali secara keteknikan maupun wawasan pandangan gres yang berasal dari teknologi kearifan lokal.

1. Kerajinan Tangan

Kerajinan tangan dikaitkan dengan nilai pendidikan diujudkan dalam mekanisme pembuatan.
Prosedur memproduksi dilalui dengan banyak sekali tahapan dan beberapa langkah yang dilakukan oleh beberapa orang. Kinerja ini menumbuhkan wawasan, toleransi sosial serta social corporateness memulai pemahaman karya orang lain.

Pembuat pola menggambarkan di atas dikerjakan oleh perancang gambar dilanjutkan dengan pewarnaan sesuai dengan warna lokal (kearifan lokal) merupakan proses berangkai dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian serta penuh toleransi. Jika salah seorang membuat kesalahan maka hasil final tidak akan ibarat yang diperlukan oleh pembuat pola dan motif hiasnya. Prosesdur semacam ini menunjukkan nilai edukatif kalau dilaksanakan di sekolah.

2. Rekayasa

Rekayasa yang diartikan perjuangan memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari dengan berpikir rasional dan kritis sehingga menemukan kerangka kerja yang efektif dan efisien. Pengertian teknologi erat sekali dengan pembelajaran mandiri, ibarat menggoreng daging dengan lemaknya sendiri.

Oleh karenanya, konsep teknologi untuk berbagi diri dengan kemampuan yang diperoleh dari berguru tersebut. Kata ‘rekayasa’ merupakan terjemahan bebas dari kata engineering yaitu perancangan dan rekonstruksi benda atau pun produk untuk memungkinkan inovasi produk gres yang lebih berperan dan kegunaan.

3. Budidaya

Budidaya berpangkal pada cultivation, yaitu suatu kerja yang berusaha untuk menambah, menumbuhkan, dan mewujudkan benda ataupun makhluk biar lebih besar (tumbuh), dan berkembang (banyak). Kinerja ini membutuhkan perasaan seolah dirinya (pembudidaya) hidup, tumbuh dan berkembang.

Prinsip pembinaan rasa dalam kinerja budidaya ini akan menunjukkan hidup pada flora atau hewan, namun dalam bekerja dibutuhkan system yang berjalan rutinitas, ibarat kebiasaan hidup orang: makan, minum dan bergerak. Maka seorang pembudidaya harus memahami kartakter flora atau binatang yang di’budidaya’kan. Konsep cultivation tampak pada penyatuan diri dengan alam dan pemahaman flora atau binatang. Pemikiran echosystem menjadi langkah yang selalu dipikirkan keseimbangan hidupnya.

Manfaat edukatif budidaya ini yaitu pembinaan perasaan, pembinaan kemampuan memahami pertumbuhan dan menyatukan dengan alam (echosystem) menjadi anak dan tenaga kerja yang berpikir sistematis namun manusiawi dan kesabaran. Hasil budidaya tidak akan sanggup dipetik dalam waktu singkat melainkan membutuhkan waktu dan harus diawasi dengan penuh kesabaran. Bahan dan perlengkapan teknologi budidaya gotong royong sanggup diangkat dari kehidupan sehari-hari yang variatif, alasannya yaitu masing-masing tempat memiliki potensi kearifan yang berbeda.

4. Pengolahan

Pengolahan artinya membuat, membuat materi dasar menjadi benda produk jadi biar sanggup dimanfaatkan secara maslahat. Pada prinsipnya kerja pengolahan yaitu mengubah benda mentah menjadi produk matang dengan mencampur, memodifikasi materi tersebut. Oleh hasilnya kerja pengolahan memakai desain system, yaitu mengubah masukan menjadi keluaran sesuai dengan rancangan yang dibuat.

Sebagai contoh: membuat masakan atau memasak makanan; kinerja ini membutuhkan desain secara sempurna akan tetapi juga membutuhkan perasaan terutama rasa pengecap dan bau-bauan biar sedap. Kerja ini akan melatih rasa, dan kesabaran maupun berpikirapraktis serta tepat. Kognisi untuk menghafalkan rasa bumbu, serta racikan yang akan membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Manfaat pendidikan teknologi pengolahan bagi pengembangan kepribadian akseptor didik adalah: training rasa yang sanggup dikorelasikan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula training sistematis dan kesabaran memasak membutuhkan perasaan yang dipadu dengan pikiran serta keterampilan.

Skema Ruang Lingkup Mata Pelajaran Prakarya di Sekolah Menengah Pertama sederajat


Prinsip-prinsip Belajar, Pembelajaran dan Asesmen

Prinsip Belajar Prakarya yaitu menyenangkan, rekreatif, ekspresif, keterjualan serta bertanggungjawab terhadap ciptaannya menurut budi matematis maupun pengetahuan estetis. Secara garis besar sanggup dilakukan melalui:

-      Mengamati lingkungan sekitar baik fisik maupun sosial yang menjadi materi eksplorasi, ekspreimentasi dan eksperiensi, melalui acara melihat, membaca, mendengar, mencermatinya dan meneliti banyak sekali objek alami maupun artifisial dengan metoda dan seni administrasi kunjungan lapangan, kajian pustaka, dan benda artifisial berteknologi tradisional maupun modern;

-   Mendorong keingintahuan siswa sehabis melaksanakan pengamatan banyak sekali tanda-tanda alami, artifisial maupun sosial dengan merumuskan pertanyaan menurut kaitan, imbas dan kecenderungannya; 

-        Mengumpulkan data dan membuat karya dengan merumuskan daftar pertanyaan menurut hasil identifikasi, memilih indikator, melaksanakan wawancara dan atau mengeksplorasi alam dan tanda-tanda sosial sebagai inspriasi membuat karya;

-        Melakukan analisis dan merekonstruksi hasil ciptaannya berupa fakta, konsep, mekanisme dan dalil yang bersifat tradisional berbasis kearifan lokal, maupun modern yang bermanfaat bagi kehidupan dan berkehidupan.

-      Menampilkan kembali hasil ciptaannya secara oral dan karya secara protofolio menurut hasil olahan secara pribadi, kelompok mapun projektif sehingga menjadi keterampilan hidup.

-        Merekonstruksi karya Seni Budaya dan Prakarya secara teknologi, seni yang sanggup dimanfaatkan untuk mengapresiasi karya teknologi dan seni terbarukan.

Penilaian karya Seni Budaya dan Prakarya melalui: produk dan proses, memakai tes yang disiapkan menurut standar penciptaan maupun nontes melalui asesmen proses sebagai authentic-asessment

1. Tujuan Penilaian

Tujuan penilaian yaitu untuk mengetahui tingkat wawsan serta produksi dan kreasi Seni Budaya dan Prakarya bagi akseptor didik telah menguasai kompetensi dasar tertentu. Selain itu, penilaian juga bertujuan:

a.   mengetahui tingkat pencapaian hasil berguru akseptor didik;

b.   mengukur perkembangan kompetensi akseptor didik; mendiagnosis kesulitan berguru akseptor didik;

c.   mengetahui hasil pembelajaran; mengetahui pencapaian kurikulum;

d.   mendorong akseptor didik berguru dan berbagi diri;

e.   sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran

2.  Bentuk Instrumen Penilaian (Mengacu standar penilaian)

Pembelajaran Pendidikan Keterampilan Seni Budaya dan Prakarya sanggup memanfaatkan banyak sekali bentuk instrumen penilaian yang diadaptasi dengan metode, seni administrasi pembelajaran dan ketercapaian kompetensi yang menjadi tujuan proses berguru mengajar.

Bentuk instrumen tersebut sanggup berupa:

a.   Pertanyaan lisan, yang berfungsi sebagai penilaian formatif selama pembelajaran berlangsung

b.   Pertanyaan tertulis, sanggup berbentuk:

1.   Pilihan Ganda, digunakan untuk mengetahui penguasaan kompetensi pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan sanggup lebih dikembangkan pada tingkat aplikasi (terapan) dan evaluasi.

2.  Uraian Objektif, digunakan untuk mengetahui perolehan kesimpulan, tafsiran dari akseptor didik. Untuk itu, pendekatan pembelajaran harus bermakna.

3. Uraian bebas, digunakan untuk mengukur kemampuan akseptor didik pada ranah kognitif terkait dengan pengembangan keterampilan Seni Budaya dan Prakarya.

4.  Portofolio, merupakan kumpulan hasil karya, tugas, pekerjaan siswa disusun menurut urutan kategori kegiatan: berkarya atau dan tugas yang memberi citra perkembangan kompetensi pesertadidik, sekaligus digunakan sebagai materi penilaian proses.

5. Unjuk kerja (UK) digunakan untuk mengetahui tingkat kompetensi akseptor didik dalam praktik. Penilaian UK berhubungan dengan sikap, susila dan estetika sebagai dampak proses pembelajaran keterampilan Seni Budaya dan Prakarya. Sebagai kelengkapan pengembangan penilaian otentik sanggup melihat denah di atas.

Bentuk instrumen nontes tersebut sanggup berupa:

1.  Pengamatan pribadi saat pesertadidik berkarya, dengan mencata sikap menurut minat, keingintahuan, serta kemampuan memecahkan persoalan secara pribadi maupun kelompok.

2. Pencatatan kemajuan kinerja pesertadidik melalui kemampuan mengatasi maslaah, serta memfinishing karya yang sanggup disajikan secara terbuka, tertulis, maupun bentuk benda.

3. Unsur yang dinilai: estetik, ergonomis, kreatif, hygienis, ketepatan, kecepatan dan kecakapan menurut jenis dan materi pelajarannya.

Tuesday, 19 October 2021

Lebih Bakir Penjelasan, Ruang Lingkup, Dan Kompetensi Bahan Mata Pelajaran Ipa (Ilmu Pengetahuan Alam) Smp / Mts Kurikulum 2013

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Dalam kesempatan yang baik ini, saya akan bagikan informasi mengenai implementasi Kurikulum 2013 khususnya wacana penjelasan, ruang lingkup, dan kompetensi materi mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Sekolah Menengah Pertama / MTs Kurikulum 2013 selengkapnya sebagai berikut:

1. Pengertian

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Perkembangan IPA selanjutnya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga munculnya “metode ilmiah” (scientific methods) yang terwujud melalui suatu rangkaian ”kerja ilmiah” (working scientifically), nilai dan “sikap ilmiah” (scientific attitudes). 

Sejalan dengan pengertian tersebut, IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan bagan-bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil eksperimen dan observasi, dan selanjutnya akan bermanfaat untuk eksperimentasi dan observasi lebih lanjut.  


Merujuk pada pengertian IPA di atas, maka hakikat IPA meliputi empat unsur, yaitu:

(1)    Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;

(2) Proses: yaitu prosedur pemecahan duduk masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;

(3)   Aplikasi: merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari;

(4)   Sikap: yang terwujud melalui rasa ingin tahu wacana obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta kekerabatan alasannya ialah akhir yang menimbulkan duduk masalah gres namun sanggup dipecahkan melalui mekanisme yang benar. Oleh lantaran itu IPA bersifat open ended  karena selalu berkembang mengikuti contoh perubahan dinamika dalam masyarakat.

Rasional

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu wacana alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan sanggup menjadi wahana bagi penerima didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman eksklusif untuk menyebarkan kompetensi semoga menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri  dan berbuat sehingga sanggup membantu penerima didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam wacana alam sekitar.

IPA diharapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan insan melalui pemecahan masalah-masalah yang sanggup diidentifikasikan.  Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan.  Di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penitikberatan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman berguru untuk merancang dan menciptakan suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. 

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh lantaran itu pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman berguru secara eksklusif melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

2. Tujuan

Mata pelajaran IPA SMP bertujuan untuk:

a.   Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan wacana aspek fisik dan kimiawi, kehidupan dalam ekosistem, dan peranan insan dalam lingkungan serta mewujudkannya dalam pengamalan fatwa agama yang dianutnya.

b.   Menunjukkan sikap ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam acara sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melaksanakan pengamatan, percobaan, dan berdiskusi.

c.   Menghargai kerja individu dan kelompok dalam acara sehari-hari sebagai wujud implementasi melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan.

d.   Menunjukkan sikap bijaksana dan bertanggungjawab dalam acara sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam menentukan penggunaan alat dan materi untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan; memilih makanan dan minuman yang menyehatkan dan tidak merusak tubuh; serta  menggunakan energi secara ekonomis dan kondusif serta tidak merusak lingkungan sekitarnya.

e.   Menunjukkan penghargaan kepada orang lain dalam acara sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan; memberi apresiasi pada orang yang menjual makanan sehat tanpa adonan zat aditif yang berbahaya; serta menawarkan derma kepada orang yang menjaga kelestarian lingkungan.

3. Ruang Lingkup Materi

Ruang Lingkup  mata pelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama menekankan pada pengamatan fenomena alam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, isu-isu fenomena alam terkait dengan kompetensi produktif  dengan ekspansi pada konsep aneh yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1.   Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

Meliputi objek IPA, pembagian terstruktur mengenai makhluk hidup, organisasi kehidupan, energi dalam kehidupan, interaksi makhluk hiup dengan lingkungannya, pencemaran lingkungan, pemanasan global, sistem gerak pada manusia, struktur tumbuhan, sistem pencernaan, sistem ekskresi, sistem reproduksi, hereditas, dan perkembangan penduduk.

2.   Benda/Zat/Bahan dan Sifatnya

Meliputi karakteristik zat, sifat bahan, materi kimia, atom, ion,dan molekul.

3.   Energi dan Perubahannya

Meliputi energi dalam kehidupan, suhu, pemuaian, dan kalor, gerak lurus, gaya dan Hukum Newton, pesawat sederhana, tekanan zat cair, getaran, gelombang dan bunyi, cahaya dan alat optik, listrik statis dan dinamis, kemagnetan dan induksi elektromagnetik.

4.   Bumi dan Alam Semesta

Meliputi struktur bumi, tata surya, gerak edar bumi dan bulan,

4.  Prinsip-prinsip Penerapan Kurikulum IPA:  Pembelajaran, dan Penilaian

Penerapan Kurikulum IPA selalu melibatkan proses pembelajaran dan penilaian (asesmen) sebagai berikut.

a.  Kurikulum IPA

Kurikulum IPA hendaknya:

1)   menekankan pada pembelajaran IPA yang seimbang antara konsep, proses dan aplikasinya;

2)   mengembangkan kemampuan kerja ilmiah yang meliputi proses dan sikap ilmiah;

3)   memungkinkan siswa mengkonstruksi dan menyebarkan konsep IPA (dan saling keterkaitannya) serta nilai, sikap dan kerja ilmiah siswa;

4)   memberikan siswa kesempatan untuk mendemostrasikan kemampuan dalam mencari, memilih, memilah, dan mengolah informasi serta memaknainya selama proses pembelajaran, sehingga sanggup dinilai potensi dan hasil belajarnya secara adil.

b.   Pembelajaran IPA

Pembelajaran IPA hendaknya:

1.  dapat menumbuhkan iktikad diri siswa bahwa mereka ”mampu” dalam IPA dan bahwa IPA bukanlah pelajaran yang harus ditakuti;

2.   membelajarkan IPA tidak hanya membelajarkan konsep-konsepnya saja, namun juga disertai dengan pengembangan sikap dan keterampilan ilmiah (domain pengetahuan dan proses kognitif);

3. pembelajaran IPA menawarkan pengalaman berguru yang menyebarkan kemampuan bernalar, merencanakan dan melaksanakan penyelidikan ilmiah, memakai pengetahuan yang sudah dipelajari untuk memahami tanda-tanda alam yang terjadi di sekitarnya.

4.   merevitalisasi keterampilan proses IPA bagi siswa, guru, dan calon guru sebagai misi utama PBM IPA di sekolah untuk menyebarkan kemampuan observasi, merencanakan penyelidikan, menafsirkan (interpretasi) data dan informasi (narasi, gambar, bagan, tabel) serta menarik kesimpulan.

c.   Sistem Penilaian (Asesmen)

Penilaian hendaknya:

1.   direncanakan untuk mengukur pengetahuan dan konsep, keterampilan proses, dan budi budi tingkat tinggi (berpikir kritis, logis, kreatif);

2.   menggunakan penilaian kinerja, penugasan/proyek, dan portofolio untuk keterampilan proses IPA dan kemampuan kerja ilmiah selama pembelajaran IPA dalam rentang waktu tertentu;

3.  mengadopsi bentuk tipe soal serupa dengan PISA  dan TIMSS untuk mendorong PBM berkontribusi pada peningkatan literasi IPA siswa dan sekaligus menggali kemampuan berpikir ilmiah, kritis, kreatif, dan inovatif;

4.  menekankan penguasaan konsep tingkat rendah dan tinggi dengan variasi bentuk penilaian (pilihan ganda, pilihan ganda beralasan, uraian terbatas);

5.   memberikan pengalaman secara eksklusif yang dinilai menurut hasil observasi dan hasil kegiatan kepada siswa, sekaligus  dimintai alasan mengapa kira-kira akhirnya serupa itu;

6.  memperkenalkan  tipe soal yang diujikan secara nasional maupun internasional kepada siswa dan guru IPA.

Sunday, 1 August 2021

Lebih Cerdik Best Practice Guru - Dongkrak Efektifitas Berguru Siswa Dengan Wajib Bertanya Pada Guru

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Berikut ialah “best practice” saya ketika mengikuti seleksi tahap 2 Guru Favorit Jambi Ekspres 2013, yang telah dipublikasikan di koran Jambi Ekspres pada hari Selasa, 17 September 2013 hal. 21 dalam kolom Pendidikan. Best practice ini juga telah saya presentasikan di hadapan Panitia Seleksi Guru Favorit Jambi Ekspres 2013 tahap 3 pada hari Selasa, 03 Oktober 2013 bersama 32 calon guru favorit lainnya ;

Saya ialah seorang guru bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang terintegrasi dengan SDN No. 200/VIII Sungai Karang yang merupakan satu kesatuan dalam sebuah sistem manajemen pendidikan SD-SMP Satu Atap. Saya mulai bertugas di sekolah ini semenjak tanggal 22 April 2009. Dan pada dikala itu saya merupakan satu-satunya guru PNS yang ditempatkan di sekolah ini, hingga best practice ini saya buat, saya merupakan satu-satunya guru PNS yang masih bertahan dalam mengemban kiprah untuk mengabdikan diri sebagai guru di sekolah ini.

Lokasi sekolah berada di tempat transmigrasi namun masih termasuk dalam kriteria tempat terpencil, tepatnya di Desa Sungai Karang (Trans HTI) Kecamatan VII Koto Ilir Kabupaten Tebo. Pada dikala ini, masih banyak tantangan-tantangan besar yang harus dihadapi dengan bijak serta diatasi dengan cerdas dalam upaya untuk memajukan kualitas pendidikan khususnya melalui pendidikan formal pada sekolah-sekolah yang berada di tempat ini, tak terkecuali pada Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang. Beberapa tantangan-tantangan besar tersebut di antaranya :

a.         Di daerah/lokasi di mana sekolah berada, jaringan listrik PLN belum tersedia, sehingga banyak sarana sekolah yang tidak sanggup dipakai secara optimal, secara otomatis hal ini akan mempengaruhi kualitas pembelajaran yang kurang maksimal (sumber listrik sekolah dikala ini memakai mesin genset kecil yang sangat terbatas sumber daya listriknya);

b.         Insfrastruktur jembatan belum tersedia, jembatan sebagai kanal yang menghubungkan kecamatan VII Koto Ilir dengan desa Sungai Karang belum ada, hal ini besar lengan berkuasa pada biaya transportasi yang lebih mahal, dikarenakan harus memakai sarana ponton/perahu bermesin kecil dalam menyeberangi sungai Batanghari sehingga frekuensi aktivitas yang bekerjasama dengan aktivitas ekstrakurikuler yang harus diikuti siswa ke luar wilayahnya menjadi sedikit;

c.         Jalan yang belum beraspal sehingga pada demam isu penghujan jalan-jalan tersebut becek, berlumpur, lengket, dan licin membuat beberapa siswa yang tinggal di sekitar lahan/ladang orang renta dan berjarak relatif jauh dari sekolah sering tidak sanggup mengikuti pelajaran di sekolah dikarenakan kanal jalan yang menghubungkan antara tempat tinggal mereka dengan sekolah tidak sanggup dilalui kendaraan bermotor;

d.         Akses komunikasi dan internet pun sangat sulit, sehingga fasilitas-fasilitas e-learning yang disediakan sekolah melalui website/blog sekolah di www.smpnsatuatapsungaikarang.blogspot.com kurang sanggup dipakai sebagaimana mestinya, selain itu juga sangat menyulitkan penyelesaian manajemen pendidikan guru maupun pihak sekolah yang notabene pada dikala kini ini, sebagian besar menuntut adanya kemudahan online melalui internet, contohnya pada VerVal NUPTK PADAMU NEGERI 2013 ini, seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta untuk beberapa siswa harus memakai sarana internet dalam mengisi angket Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Selain itu referensi/sumber berguru bagi siswa dan guru juga menjadi terbatas;

e.         Sarana dan prasarana pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), untuk sarana pendidikan mebeler sekolah sebagian besar dalam keadaan yang kurang baik dan buku pegangan siswa pun belum tercukupi, sedangkan prasarana pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang sudah ada dikala ini yakni 3 ruang kelas berguru dan 1 ruang perpustakaan sekolah;

f.          Kurangnya guru bidang studi serta tenaga kependidikan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, sehingga mutu pembelajaran dan sistem manajemen pendidikan kurang optimal;

Dari banyak sekali tantangan-tantangan utama bagi seluruh elemen pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang telah saya uraikan tersebut di atas, tentu sangat mempengaruhi seluruh rangkaian manajemen ataupun proses pendidikan, hasil serta kualitas pembelajaran di sekolah pada khususnya dan juga kualitas berguru siswa di luar sekolah pada umumnya. Namun ini semua bukanlah merupakan alasan-alasan yang harus menghambat dan membebani langkah-langkah sekolah dalam perjuangan meningkatkan kualitas pendidikan, namun ini semua ialah layak kiranya dianggap sebagai tantangan-tantangan ataupun rangsangan-rangsangan istimewa untuk nantinya sanggup melahirkan pribadi-pribadi berkarakter kuat, kreatif, ulet, berani, tangguh, dan bertanggung jawab dalam menjalani setiap kiprah terbaik dalam kehidupannya kelak.

Terkait dengan banyak sekali tantangan-tantangan yang kompleks di atas. Berbagai kisah unik telah banyak terukir dalam benak pribadi saya, di antaranya selama mengajar di sekolah ini semenjak tahun pelajaran 2009/2010 hingga dengan tahun pelajaran 2012/2013 banyak sekali bidang studi lain yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya pun telah saya lakukan di antaranya menjadi guru bidang studi Bahasa Inggris, Matematika, dan TIK.

Hal tersebut di atas terjadi dikarenakan kala itu memang belum ada guru yang mengajar pada bidang studi atau menggantikan kiprah guru bidang studi yang telah  mutasi (pindah tugas), kenyataan-kenyataan inilah yang menjadi faktor utama saya dalam membangkitkan kesadaran diri saya untuk terus dan terus berguru dengan upaya yang lebih serius lagi dalam penguasaan materi-materi bidang studi lainnya tersebut. Selain itu mendapat kiprah pemanis sebagai wali kelas 9 pun selalu saya dapatkan hingga sekarang. Ditambah lagi kiprah pemanis menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum masih saya emban semenjak tahun pelajaran 2011/2012 serta tugas-tugas urgensi lainnya yang harus saya selesaikan dan pertanggung jawabkan dengan hasil yang se-optimal mungkin.

Selanjutnya, lantaran banyaknya tugas-tugas mengajar serta tugas-tugas lain dalam sistem pengelolaan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang harus saya lakukan dan pertanggung jawabkan dengan banyak sekali “dead line” yang mengikutinya ini membuat paradigma mental saya menyimpulkan bahwa waktu ialah adalah sumber daya yang sangat berharga dan istimewa bagi saya, oleh lantaran itu, dalam setiap proses berguru mengajar yang saya lakukan, efektifitas dalam proses belajar-mengajar menjadi prioritas utama saya, selain itu pula, kiprah apapun yang saya lakukan, ada beberapa aspek penting yang sangat saya perhatikan, yakni ketelitian, kualitas, dan tuntas dalam setiap proses dalam pelaksanaan tugas-tugas yang saya emban. Karena bagi saya, setiap proses itu menjadi faktor utama dalam menampilkan setiap kualitas.

Sehubungan dengan hal itu, dalam proses berguru mengajar di sekolah yang telah saya lakukan semenjak tahun pelajaran 2009/2010 hingga tahun pelajaran 2012/2013 dengan banyak sekali tantangan yang ada dikala itu hingga hari ini telah banyak memperlihatkan pelajaran-pelajaran tersendiri bagi saya khususnya mengenai metode pembelajaran yang telah saya terapkan kala itu.

Mengenai metode pembelajaran yang saya gunakan dari waktu ke waktu tentu harus terus berkembang, selaras dengan kemajuan dan tuntutan zaman yang semuanya serba maju pesat serta dinamis ibarat kini ini, sehingga efektifitas pembelajaran semakin sanggup terus-menerus ditingkatkan secara sedikit demi sedikit dan signifikan.

Mulai memasuki tahun pelajaran 2013/2014, mengingat semakin kompleksnya tantangan-tantangan yang ada dalam upaya menghasilkan produk-produk sumber daya insan yang handal dan tangguh hingga nantinya mereka siap berkompetisi di masa globalisasi yang semakin maju pesat ibarat kini ini sehingga menuntut saya untuk terus menumbuhkan kreatifitas, khususnya dalam mengaplikasikan metode pembelajaran yang tepat, efektif sekaligus menarik bagi seluruh siswa-siswa saya. Dari banyak sekali faktor tersebut, kesannya timbul sebuah ide pada diri saya untuk menerapkan sebuah metode pembelajaran yang saya yakini akan sanggup meningkatkan kualitas pembelajaran siswa-siswa saya, metode pembelajaran saya tersebut ialah “Setiap Siswa Harus Bertanya Kepada Guru”, metode pembelajaran yang saya terapkan ini mempunyai beberapa manfaat-manfaat positif, terutama untuk mendongkrak efektifitas berguru sekaligus sebagai penilaian hasil berguru siswa.

Metode pembelajaran “Setiap Siswa Harus Bertanya Kepada Guru” yang saya terapkan mulai awal semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 ialah metode pembelajaran interaktif dua arah antara guru dengan siswa dan sebaliknya, yang tentunya metode ini memakai sebuah aturan baku bahwa setiap siswa harus bertanya kepada guru, artinya seluruh siswa yang terlibat dalam sebuah proses belajar-mengajar di kelas pada hari itu harus mengajukan sebuah pertanyaan kepada gurunya perihal hal-hal yang berkaitan/berhubungan dengan materi yang diajarkan tersebut, tak terkecuali bagi siswa yang merasa telah memahami materi yang telah disampaikan guru. Hal ini saya terapkan lantaran dalam penyampaian berguru guru cenderung lebih banyak didominasi bertanya kepada siswa, inipun dulu saya lakukan tidak untuk seluruh siswa melainkan ditunjuk eksklusif menurut penilaian yang ada. Tentu sistem acak dan asumsi ibarat ini tidak akan sanggup mengevaluasi kualitas hasil berguru setiap individu siswa.

Berikut beberapa langkah-langkah dalam penerapan metode berguru “Setiap Siswa Harus Bertanya Kepada Guru” yang telah saya aplikasikan semenjak tahun pelajaran 2013/2014 ini, yaitu:

1.         Guru menyampaikan/menguraikan materi pembelajaran secara sistematis dan etis terhadap siswa.

2.         Setelah itu, guru mengalokasikan waktu khusus untuk memperlihatkan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya. Seluruh siswa wajib bertanya kepada guru mengenai materi pelajaran yang telah disampaikan tak terkecuali bagi siswa yang merasa telah menguasai materi dikala itupun tetap harus bertanya, tentunya perihal hal-hal yang masih ada keterkaitan atau hubungan dengan materi itu. Hal ini dilakukan dengan tujuan biar mereka yang telah memahami materi pokok dalam pembelajaran dikala itu akan mendapat penguasaan materi pembelajaran yang lebih komprehensif sekaligus sebagai wacana gres mereka, selain itu juga akan sanggup dijadikan sebagai rujukan ataupun materi berpikir pemanis dalam proses pemahaman bagi siswa lainnya yang belum menguasai materi tersebut.

3.         Bila ternyata pada sesi khusus di atas tidak ada pertanyaan dari siswa, maka guru sanggup memperlihatkan pertanyaan kepada setiap siswa satu demi satu, seluruh siswa dalam satu kelas mendapat pertanyaan dalam sesi ini, hal ini dilakukan guru untuk memastikan bahwa seluruh siswa benar-benar memahami pelajaran yang telah dipelajarinya dikala itu. Langkah ini sebagai materi penilaian lanjutan.

4.         Apabila didapati salah satu atau beberapa siswa yang tidak sanggup menjawab pertanyaan guru, maka siswa tersebut dipersilahkan untuk maju ke depan kelas. Hal ini akan menjadi hukuman yang positif bagi siswa tersebut untuk mengasah kepercayaan diri mereka dalam lingkungan kelasnya serta memicu siswa lainnya untuk lebih serius dalam belajarnya, lantaran masih banyak ditemukan beberapa anak aib mengakui kekurangannya di hadapan siswa lainnya sehingga siswa itupun segan untuk bertanya. Selanjutnya siswa tersebut tidak diperkenankan duduk kembali sebelum ia sanggup menjawab pertanyaan dari guru dan atau sehabis ia mengajukan sebuah pertanyaan yang bekerjasama dengan materi dikala itu, inipun tentu menurut pertimbangan guru yang bersangkutan akan ketersediaan waktu yang cukup serta pertimbangan moril lainnya. Hal inipun dilakukan dengan tujuan utama yakni untuk penanaman mental positif bagi anak dalam upaya menghilangkan kesan bahwa bertanya itu kelihatan bodohnya, namun bertanya itu justru memperlihatkan akan kemauan pintarnya.

5.         Membuat daftar hasil penilaian berguru dan tindak lanjut proses pembelajaran bagi siswa pada pertemuan berguru selanjutnya. Jika dibutuhkan penambahan alokasi waktu bertanya dan ditanya dari setiap siswa kepada guru maupun sebaliknya ini sanggup dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya.

6.         Dalam penerapannya saya akan menguraikan pola kasatmata dalam penerapan metode “Setiap Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” di kelas 9 Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang yang terdiri dari 17 siswa. Data ini saya dapatkan pada aktivitas belajar-mengajar mata pelajaran PKn yang saya ampu, pada tanggal 10 September 2013 pada jam 07.30 s.d. 08.50 WIB. Total waktu yang dialokasikan selama 80 menit (40 x 2 jam pelajaran) dengan rincian pembagian alokasi waktu :

7.         Alokasi waktu ± 30 menit untuk memulai proses berguru di kelas, guru mempresentasikan, menguraikan, dan menjelaskan materi pembahasan perihal Usaha Pembelaan Negara.

8.         Alokasi waktu ± 17 menit untuk sesi siswa bertanya kepada guru, kemudian guru menjawab.

9.         Alokasi waktu ± 5 menit, penyegaran berguru dengan mempersilahkan siswa yang ingin buang air kecil, ataupun diisi dengan cerita-cerita lucu namun inspiratif sekaligus edukatif, untuk membuat suasana kelas yang refresh kembali.

10.       Alokasi waktu ± 17 menit untuk sesi guru bertanya pada siswa (sesi khusus), kemudian siswa menjawab. Alokasi waktu khusus ini dilakukan apabila pada sesi 2 (sesi siswa bertanya kepada guru) masih ada beberapa siswa yang tidak bertanya kepada guru). Dengan kata lain, sesi ini diperuntukkan khusus bagi siswa yang tidak mengajukan pertanyaan pada sesi sebelumnya (sesi 2).

11.       Alokasi waktu ± 11 menit untuk sesi kesimpulan guru, penilaian belajar, penyampaian pengumuman (bila ada), nasehat guru, dan penutupan

Berikut saya jabarkan step by step atau langkah-langkah dalam penerapan/implementasi metode berguru “Setiap Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” yang telah saya lakukan:

1.         Kutipan materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang saya sampaikan di kelas 9 dengan jumlah siswa yang ada sebanyak 17 siswa, perihal Usaha Pembelaan Negara, alokasi waktu ± 30 menit :
.
USAHA PEMBELAAN NEGARA

Setiap warga negara dituntut mempunyai kemauan, kemampuan, dan kesepakatan yang kuat untuk berpartisipasi aktif dalam perjuangan pembelaan negara. Usaha pembelaan negara berkaitan dengan upaya mempertahankan negara dari bahaya dan ganguan pihak asing. Oleh lantaran itu perjuangan pembelaan negara sangat penting dilakukan oleh setiap warga negara.

Mempertahankan negara merupakan salah satu fungsi negara yang sangat penting dalam kaitannya dengan perjuangan pembelaan negara.

Setiap negara mesti menyelenggarakan beberapa fungsi minimum yang mutlak perlu yaitu:

1.         Melaksanakan penertiban. Negara mengatur segala hal yang bekerjasama dengan ketertiban bagi seluruh warganya, artinya negara mengatur ketertiban masyarakat supaya tercipta kondisi yang aman dan stabil, dengan banyak sekali cara di antaranya : Negara mencegah benturan-benturan atau bentrokan-bentrokan yang terjadi dalam masyarakat dengan memakai alat-alat pemerintah. Dengan tercipta ketertiban serta keadaan yang aman dan stabil, maka segala aktivitas yang akan dilakukan oleh warga negara sanggup dilaksanakan dengan nyaman, baik, dan lancar.

2.         Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, maknanya Negara berupaya biar masyarakat sanggup hidup dan sejahtera, terutama di bidang ekonomi dan sosial masyarakat. Hal ini sanggup dilakukan melalui pengiriman TKI, penerimaan CPNS dari setiap warga negara yang telah memenuhi syarat, serta pembukaan lowongan-lowongan kerja pada perusahaan-perusahaan atau bidang pekerjaan swasta yang difasilitasi oleh Negara.

3.         Fungsi pertahanan, yaitu untuk menjaga kemungkinan serangan dari luar (pihak asing), berfungsi untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu bangsa dari setiap bahaya dan gangguan yang timbul dari dalam maupun tiba dari luar negeri. Ancaman dan gangguan tersebut mungkin berupa serangan (invasi) dari luar negeri maupun golongan-golongan dari dalam negeri yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

4.         Menegakkan keadilan, yang dilaksanakan melalui badan-badan pengadilan yang berfungsi untuk menegakkan keadilan bagi seluruh warganya mencakup seluruh aspek kehidupan (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan Hankam). Upaya yang dilakukan antara lain menegakkan aturan melalui badan-badan peradilan.

Rakyat sebagai salah satu unsur mutlak suatu negara, mempunyai peranan yang sangat penting dalam melakukan pembangunan banyak sekali aspek kehidupan. Untuk itu setiap warga negara mempunyai jaminan aturan untuk melakukan hak dan kewajibannya yang diberikan negara. Salah satu hak dan kewajiban warga negara ialah ikut serta dalam perjuangan pembelaan negara. Upaya bela negara sebagaimana diatur Undang-undang nomor 3 tahun 2002 diselenggarakan melalui:

a.       Pendidikan kewarganegaran (PKn), PKn sanggup dipelajari melalui banyak sekali jalur pendidikan formal maupun informal, serta di banyak sekali media online Negara;
b.       Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib;
c.       Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara suka rela atau secara wajib; dan
d.       Melalui dedikasi sesuai dengan profesi.

2.         Setelah materi disampaikan pada seluruh siswa, kemudian saya mengalokasikan waktu khusus selama ± 17 menit untuk mempersilahkan siswa bertanya kepada guru, selanjutnya saya eksklusif menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan siswa tersebut eksklusif satu-persatu sehabis mereka selesai dalam memberikan pertanyaannya, dan ternyata tidak ada satupun siswa yang tidak bertanya, lantaran dari awal sesi ini telah saya umumkan pada seluruh siswa bahwa semua siswa harus bertanya pada saya selaku guru perihal semua hal yang berkaitan dengan pembahasan materi pada hari itu, jika tidak, nanti saya akan balik bertanya pada siswa, dan jika siswa tidak bisa menjawab, maka siswa tersebut mendapat hukuman dengan berdiri di depan kelas, dan ia akan boleh duduk kembali sehabis siswa sanggup menjawab pertanyaan dari saya, tentunya konten (isi) dari pertanyaan saya juga berkaitan dengan materi yang telah saya sampaikan pada hari itu. 

Pertanyaan-pertanyaan siswa pada hari itu sejumlah 17 pertanyaan, lantaran memang jumlah siswa kelas 9 yang hadir pada hari itu sebanyak 17 siswa, yang masing-masing siswa mengajukan 1 (satu) buah pertanyaan yang terkait dengan pembahasan materi hari itu, pertanyaan-pertanyaan siswa tersebut adalah:

1.       Apa arti kata dari kesepakatan itu?
2.       Apa perbedaan negara dengan pemerintah?
3.       Apa pengertian dari keadaan yang aman itu?
4.       Mengapa kepolisian disebut juga dengan penyidik?
5.       Apakah aktivitas kita dikala ini termasuk perjuangan pembelaan negara?
6.       Di manakah kiprah POLRI dalam perjuangan pembelaan negara?
7.       Bagaimanakah contoh/bentuk invasi pihak gila terhadap Negara Indonesia?
8.       Apakah dikala ini masih ada wajib militer bagi rakyat dikala ini?
9.       Sampai kapan perjuangan pembelaan negara diperlukan?
10.     Siapakah pihak yang pertama kali bertanggung jawab terhadap keamanan Negara?
11.     Apakah POLRI termasuk dalam ABRI?
12.     Apa pengertian dari ideologi itu?
13.     Mengapa perjuangan pembelaan negara harus diajarkan di sekolah?
14.     Saat  kapankah rakyat harus terlibat dalam perang?
15.     Apakah pendidikan formal dan informal itu?
16.     Bagaimana bentuk pembelajaran PKn dalam pendidikan informal?
17.     Profesi apakah yang termasuk dalam rangka berpartisipasi aktif dalam perjuangan pembelaan negara?

3.       Langkah selanjutnya ialah mengalokasikan waktu ± 5 menit untuk sesi penyegaran berguru di kelas dengan mempersilahkan siswa yang ingin buang air kecil, pada sesi ini sanggup diisi pula dengan cerita-cerita singkat namun lucu (menghibur), yang sanggup menginspirasi sekaligus sanggup memotivasi siswa untuk senantiasa bersemangat dalam berguru atau sanggup diisi pula dengan tebakan-tebakan lucu yang cerdas, hal ini untuk kembali menyegarkan semangat anak dalam membuka cakrawala berpikir positif mereka.

4.       Kemudian alokasi waktu ± 17 menit yang seharusnya dipakai untuk sesi guru bertanya dengan siswa ditiadakan, lantaran sesi ini sanggup dipakai apabila seluruh siswa atau beberapa siswa tidak bertanya pada sesi sebelumnya. Oleh lantaran itu, alokasi waktu yang tersedia ± 17 menit ini sanggup dijadikan guru untuk pendalaman materi pada hari itu.

5.       Pada sesi terakhir, tersisa alokasi waktu ± 11 menit untuk penyampaian kesimpulan guru, penilaian berguru pada hari itu, penyampaian pengumuman (bila ada), nasehat guru, dan penutupan.

Kesimpulan :

Setelah menerapkan metode berguru “Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” ini, ternyata banyak manfaat-manfaat positif yang saya, rekan-rekan guru, dan seluruh siswa rasakan, hal-hal positif tersebut antara lain:

1.       Kepercayaan diri siswa semakin meningkat.
2.       Guru lebih terbuka terhadap siswa untuk terus mau berguru dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan penguasaan ilmu yang komprehensif tentunya.
3.       Adanya kompetisi sehat antar-siswa di kelas.
4.       Semakin meningkatnya antusiasme dan keseriusan siswa dalam memperhatikan seluruh materi yang sedang disampaikan oleh guru di kelas.
5.       Mengurangi kesenjangan pengetahuan antar-siswa,
6.       Semangat berguru siswa di luar sekolah semakin bertambah.
7.       Semakin menyadarkan siswa untuk menyukai seluruh mata pelajaran atau bidang studi yang dipelajari di sekolah, lantaran intinya seluruh materi pelajaran ada hubungan bersahabat antara satu dengan yang lainnya.
8.       Munculnya ide-ide kreatif baik dari siswa maupun guru dalam rangka memajukan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang.
9.       Meningkatkan sinergitas dan kekompakan antar-siswa maupun antar-guru.

Selain hal-hal tersebut di atas, tentu masih banyak manfaat-manfaat positif lainnya ke depan, lantaran metode “Siswa Wajib Bertanya Kepada Guru” ini akan terus  saya kembangkan serta inovasikan demi peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Satu Atap Sungai Karang dalam upaya mewujudkan sumber daya insan yang berkualitas serta cerdas dengan metode-metode pembelajaran yang berkualitas dan cerdas pula.